Dear Teman-teman Milis Bicara,

Setelah sekian lama bergabung, baru kali ini saya merasa "pantas" 
memperkenalkan diri (gejala kurang PD ya Pak Ikhwan Sopa?;-) Mudah-mudahan 
suatu waktu nanti saya bisa join trainingnya Pak Sopa).

Saya Ferli Deni Iskandar, seseorang yang tertarik untuk - mudah-mudahan - 
mengembangkan diri dan berkembang bersama Anda sekalian di milis ini.

Di milis Profec ([EMAIL PROTECTED]), saya mempostingkan suatu tulisan yang 
berusaha memberi penjelasan (sedikit) ilmiah tentang Law of Attraction, karena 
digerakkan oleh skeptisime Pak Santo salah seorang anggota milis tsb. 
Alhamdulillah, karena dipicu oleh tulisan Pak Santo tsb. saya menjadi 
tergerakkan untuk menuliskan sesuatu tentang itu di blog saya, ferli.net, yang 
selama dua tahun ini saya "acuhkan" karena belum ada ide tulisan yang saya rasa 
cukup bermanfaat untuk dibuat.

Namun, hari ini blog saya tersebut "pecah jerawat"nya ;-), dan saya bermaksud 
melakukan sharing untuk teman-teman Milis Bicara (sekali lagi, terima kasih Pak 
Susanto Salim -- kalau Anda juga gabung di milis ini).

Tulisan saya itu bisa juga dilihat di blog saya, di:

http://ferli.net/2008/02/06/penjelasan-tak-terlalu-ilmiah-tentang-law-of-attraction/

Mudah-mudahan ada manfaatnya.

Salam,
Ferli

Penjelasan (Tak Terlalu) Ilmiah tentang Law of Attraction          

Apakah ada sesuatu yang bisa kita pelajari dari kontroversi ilmiah (atau tak 
imiah) tentang Law of Attraction? LoA menjadi topik yang hangat sejak video The 
Secret populer, salah satunya karena ditayangkan dalam Oprah Winfrey Show.
 

Apakah LoA? Bagi yang belum tahu, LoA sederhananya adalah hukum yang menyatakan 
bahwa “Apa pun yang kita pikirkan dan percayai secara konsisten, pada akhirnya 
akan menjadi kenyataan.”
 

Sederhana bukan? Bagi sementara orang, pernyataan ini secara intuitif sudah 
terasa benar. Bagi sebagian orang lain, pernyataan ini ditatap dengan pandangan 
penuh kesangsian.
 

Sementara, Metoda ilmiah adalah suatu metoda penjelasan yang secara sederhana 
mencakup langkah-langkah berikut: pengamatan, pembuatan hipotesis, pengujian 
hiptesis, pembuatan kesimpulan, pembuatan prediksi, dan kembali ke langkah 
pengamatan untuk menguji prediksi tersebut.
 

Ada harapan, bahwa dengan Metoda Ilmiah, maka kita bisa mencapai kesimpulan 
tunggal tentang benar atau tidaknya LoA.
 

Tetapi, Apakah Metoda Ilmiah itu Akurat? 
 

Jika ilmu memiliki tujuan mempelajari kenyataan, apakah Metoda Ilmiah dengan 
langkah-langkah di atas memungkinkan kita untuk mempelajari kenyataan secara 
akurat?
 

Sayangnya: tidak. Metoda Ilmiah memiliki asumsi dan batasan bahwa yang ia 
pelajari adalah kenyataan objektif. Kenyataan objektif adalah sejenis kenyataan 
yang keberadaan dan kelangsungannya tidak tergantung kepada pengamat. Pengamat 
dan objek pengamatan harus selalu terpisah, karena jika tidak, maka hasil 
pengamatannya menjadi tidak sahih lagi. Itulah sebabnya salah satu tolok ukur 
dalam Metoda Ilmiah adalah hasil pengamatan dan pengujian harus selalu bisa 
diulang, selalu bisa diperlihatkan kembali, oleh siapa pun yang melakukan 
pengkajian ilmiah tersebut.
 

Kembali lagi: apakah Metoda Ilmiah memungkinkan kita untuk mempelajari 
kenyataan secara akurat? Saya tegaskan lagi, tidak: Metoda Ilmiah hanya akurat 
apabila yang kita pelajari adalah Kenyataan Objektif.
 

Sementara, ada yang lain di luar wilayah Kenyataan Objektif.
 

Kenyataan Subjektif
 

Apabila ada Kenyataan Objektif, maka tentunya harus ada Kenyataan Subjektif, 
bukan? Kedengarannya kontradiktif, tapi apabila seseorang hanya percaya pada 
Kenyataan Objektif, maka artinya ia harus memutuskan bahwa pikiran-pikirannya 
“tidak ada”, karena pikiran pada dasarnya adalah Kenyataan Subjektif, yakni 
kenyataan yang tidak bisa dilepaskan dari si pengamat.
 

Pikiran, pada dasarnya adalah salah satu alat bantu pengamatan, persis seperti 
halnya mikroskop atau kacamata, hanya saja ia “tertanam lebih dalam” di kepala 
kita. Cara berpikir saya berbeda dengan cara berpikir Anda, bukan? Dengan 
demikian, kita memiliki alat bantu pengamatan yang berbeda juga.
 

Seperti halnya apabila saya memakai kacamata biru, dan Anda memakai kacamata 
merah. Apabila saya setiap saat selalu mengenakan kacamata biru, maka 
kesimpulan pengamatan saya adalah: “Semua di dunia ini berwarna biru.” Tetapi 
tentu saja ini akan bertentangan dengan hasil pengamatan Anda yang menyatakan 
bahwa: “Semua di dunia ini berwarna merah.”.
 

Cara berpikir kita, pada dasarnya sama dengan “kacamata berwarna” yang tertanam 
dalam kepala kita. Dua orang yang tidak menyadari bahwa masing-masing memakai 
alatbantu yang mempengaruhi hasil pengamatan mereka, memiliki potensi untuk 
bertengkar tidak berkesudahan tanpa ada kesepakatan apa pun.
 

Sama, seperti halnya mereka yang tidak percaya pada LoA dan menyatakan bahwa 
LoA tidak efektif, tidak berhasil. Hal itu benar.
 

Tetapi bila ada yang sepenuh hati percaya pada LoA dan menyatakan bahwa LoA 
efektif dan berhasil, maka hal itu juga benar.
 

Atau mereka yang baru pada tahap “ingin percaya” tapi sesungguhnya “belum 
percaya” pada LoA, masih ada pertentangan kepercayaan dalam diri, masih ada 
proses sabotasi-diri, sehingga mereka bisa sampai pada kesimpulan bahwa LoA 
tidak efektif. Mereka juga benar.
 

Tetapi satu hal: dalam berbagai kasus di atas, ada hal yang konsisten, yakni 
bahwa LoA tidak melanggar hukumnya sendiri. Tidak ada kontradiksi-diri dalam 
pernyataan hukum di atas.
 

Jadi, Bagaimanakah Cara Menguji Kebenaran Law of Attraction?
 

Meski LoA berada di luar wilayah Kenyataan Objektif sehingga tidak bisa kita 
terapkan Metoda Ilmiah untuknya, masih ada metoda lain yang bisa kita gunakan.
 

Yaitu metoda eksperensial, atau metoda pengalaman dan penghayatan.
 

Lepaskanlah “kacamatan merah” Anda (ketakpercayaan pada LoA), dan cobalah 
kenakan “kacamata biru” (kepercayaan pada LoA). Kenakanlah dengan 
sungguh-sungguh, dengan sepenuh hati.
 

Amatilah dengan seksama apa yang menjadi berbeda setelah “kacamata biru” Anda 
kenakan. Apakah hidup kita terasa lebih bisa dinikmati? Apakah kita lebih bisa 
mengendalikan pikiran dan emosi kita ke arah yang kita inginkan? Apakah kita 
mulai bisa melihat bahwa sebagian besar kendali hidup kita ada di tangan kita?
 

Apabila jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas adalah “Ya”, maka selamat. 
Silakan Anda pilih, apakah akan kembali mengenakan “kacamata merah” atau tetap 
mengenakan “kacamata biru”.
 

Apabila jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas adalah “Tidak”, maka selamat 
juga: Silakan Anda pilih, apakah akan kembali mengenakan “kacamata merah” atau 
tetap mengenakan “kacamata biru”.
 

Karena pada akhirnya, semua adalah masalah pilihan.
 

Kalau saya, saya akan memilih kepercayaan yang memberdayakan, bukan yang 
membatasi.




http://www.ferli.net
I am not my name. I am not my titles. I am not my status. I am not my 
educations. I am not my possessions. I am not my successes. I am not my 
failures. I am not my physical body. I am not my mind. I am not my emotional 
states. I am not my past. I am not my future. I even am not my present.
but ...
I am a form of energy. I am a form of light. I am a spiritual being having 
physical experiences. I am a form of consciousness searching for greater and 
more profound expressions. I am a point of consciousness longing for complete 
oneness with the One Greatest Consciousness.
I am timeless.

Kirim email ke