Dear Joyce,

Apa yang Joyce diskusikan dengan sahabat memang menjadi bahan pikiran buat
siapa saja yang dihari tuanya harus dilalui sendiri. Sesudah aku membaca
tulisan Joyce ini aku malah jadi berpikir bagaimana ya kalau ada investor
yang mau menanamkan uangnya untuk membangun rumah jompo yang mewah dan
ekslusif karena banyak loh orang orang yang berduit tapi malas mengurusi
orang tua mereka yang mungkin dianggap sudah tidak berdaya, saya tahu
kesannya kok tidak manusiawi tapi pada kenyataannya banyak keluarga yang
tidak punya waktu atau ruang buat menampung orang tua mereka yang sudah
jompo.

Dan banyak juga orang tua yang merasa punya cukup uang ingin tetap hidup
mewah tapi berada dalam lingkungan sebaya karena tidak ingin membebani anak
cucu mereka.

Orang tua layak hidup tentram dan menikmati sisa hidup mereka tanpa harus
dibebani mengurusi cucu karena ditinggal orang tua mereka bekerja.

Aku jadi ingat mami almarhum yang bersikeras tidak ingin tinggal dengan anak
anaknya, pertama karena tidak mau terkekang oleh aturan yang dibuat anak dan
menantunya yang mungkin tidak sejalan dengan aturannya dan tidak mau
tertekan jika melihat kehidupan rumah tangga anak anaknya tidak sesuai
dengan prinsip hidupnya tapi dia tidak mampu bersuara. Dalam kesendiriannya
beliau selalu menyibukkan diri dengan kegiatan sosial yang sesungguhnya
secara material tidak menjanjikan namun beliau senang karena hari harinya
tetap bermakna, beliau sering melakukan perjalanan ke luar kota dengan teman
teman sebaya dan mereka begitu bahagia layaknya anak gadis yang sedang
ngerumpi.

Beliau sesungguhnya tidak memiliki anak kandung namun keikhlasan beliau
mengangkat anak anak yang memang membutuhkan orang tua yang bisa
menyekolahkan mereka berbuah manis di hari tuanya. Berbeda dengan banyak
orang tua yang memiliki anak kandung,  saat sudah meninggal tidak ada lagi
yang peduli akan makam mereka, kedua orang tua angkatku, almarhumah mamih
dan almarhum  papih Suwondo disaat mereka meninggal dunia justru dimakamkan
di halaman rumahku yang luas, di dalam rumah joglo yang kekar dan asri
karena dikelilingi tanaman peliharaannya yang belum tentu akan didapatnya
jika dia memiliki anak kandung sendiri.

Jadi Joyce yang penting bagaimana kita menjalani kehidupan kita, masa depan
sungguh misteri yang bukan milik kita karena kita tidak akan pernah tahu
bagaimana nantinya hidup kita, yang penting jalani hidup ini sebaik baiknya,
pastikan kalau hidup kita penuh makna buat orang lain karena tabungan epos
kita tidak akan pernah hilang dan akan cair pada saat yang tepat.

Tapi usulku untuk membuat bisnis rumah jompo exclusive boleh dipikirin
lho..... para investor jika anda bingung mau menginvest uang anda dimana
gimana kalau ide ini kita garap, aku mau kok jadi penggarapnya juga pastinya
Joyce dan sebagai orang yang sudah masuk usia manula kami pastinya paling
mengerti seperti apa rumah jompo yang kami inginkan.

Salam epos,

Lies Sudianti
Founder & Moderator the Profec
0813-18873480
[EMAIL PROTECTED]








On 2/29/08, J.Thenu <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>    Kelihatannya hari ini milis kita lagi sepi ya………. Kenapa?
>
>  Ini ada suatu cerita pendek yang mungkin bisa dipakai sebagai bahan
> renungan atau bahan masukan untuk mereka2 yang pakar dan hebat dalam
> bidangnya masing2. Aku tidak hebat seperti kalian, tapi hanya sekedar ingin
> berbagi cerita.................
>
>  Pada suatu hari Minggu saat aku sedang menikmati acara pada salah satu
> station TV sendiri telepon berdering, ternyata dari seorang sahabat yang
> saat itu juga sedang sendirian yang menyuruh aku untuk menonton acara di TV
> yang menayangkan promosi penjualan rumah disekitar Cibubur. Dia tanya.......
> kalau dari Cibubur ke Jakarta jauh apa tidak ya? Yah tergantung ke Jakarta
> nya ke daerah mana, sebab kalau ke Selatan atau Pusat sih sebenarnya tidak
> jauh2 amat tapi macetnya itu lho, jawab ku. Aku bertanya: memangnya kenapa,
> apa kamu ada minat untuk beli rumah disana? Rumah yang ia tunjukan adalah
> type yang cukup kalau kita hidup sendirian. Lalu aku teringat bahwa
> sebelumnya aku juga sempat melihat contoh apartemen yang cukup mewah dengan
> fasilitas yang menurut aku tidak dipunyai oleh apartemen2 yang lain. Lalu
> kita berdua sependapat bahwa itu adalah lingkungan yang amat sangat cocok
> untuk kita2 yang sudah berumur dan tinggal sendirian. Yang jelas, karena
> tahu pemiliknya, tempat itu amat sangat aman ditambah lagi ada "cleaning
> service" dan "room service" 24 jam, apartemen dengan fasilitas Hotel
> berbintang. Yang sudah pasti harga di apartemen ini akan jauh lebih mahal
> dibanding dengan penawaran rumah hunian didaerah Cibubur, tapi tempat hunian
> yang seperti itu yang sesuai untuk orang2 yang usianya sudah lanjut dan
> hidup sendiri.
>
> Kita berdua pernah membahas dimana kita akan tinggal kala usia kita sudah
> tidak memungkinkan untuk beraktifitas seperti biasa, yang jelas sebagai
> nenek2 tentu kita tidak bisa kerja di kantor lagi, mungkin juga sudah tidak
> bisa melakukan pekerjaan membersihkan rumah, dsb........ dsb...........
>
> Solusi sementara adalah mencari dan mengunjungi beberapa rumah jompo yang
> layak (ada dokternya, ada perawatnya, bersih, makanan yang sehat dan
> terkoordinir dengan baik). Yang paling penting adalah, apakah kita bisa
> mulai pesan tempat dari sekarang dengan mendeposit sejumlah uang karena
> kalau nantinya kita keburu pikun bagaimana? Sempat terbersit, kalau saat itu
> datang.......... apakah deposit tersebut bisa menjamin bahwa pengelola rumah
> jompo tersebut akan memberikan pelayanan yang se-baik2nya? Pertanyaan2 yang
> timbul dikepala kita bertambah banyak namun kita belum / tidak bisa
> mendapatkan jawabannya.
>
> Jawaban yang akhirnya kita dapat adalah tidak ada satu pun rumah jompo
> yang bisa menerima deposit (jadi tempat *tidak bisa* dipesan terlebih
> dulu).
>
> Sahabatku mengatakan bahwa kita salah membuat rencana untuk menghabiskan
> hari tua saat kita masih muda. Aku mengatakan bahwa kita *tidak salah*,
> tapi keadaan saat itu yang membuat kita berfikir bahwa kalau nanti kita
> sudah tua ada anak yang mengurus kita, kemudian kita akan menghabiskan hari
> tua ber-sama2 dengan pasangan kita. Kenyataannya adalah anak sahabatku
> diambil kembali oleh Yang Maha Kuasa saat kuliahnya hampir selesai,
> sedangkan aku dan suamiku hanya diberi waktu 6 tahun untuk hidup bersama
> dimana kemudian dia juga dipanggil pulang ke rumah Tuhan.
>
> Pelajaran yang bisa diambil adalah apapun bisa terjadi pada kehidupan
> kita, jadi persiapkan diri dan segala sesuatunya untuk menjalani hari tua
> SENDIRI.
>
> Solusi......... sampai sekarang kita berdua belum menemukannya.
>
> Harapan............. agar suatu saat ada RUMAH JOMPO dengan sistem
> deposit.
>
> Ini adalah obrolan kecil antara 2 orang sahabat disuatu hari Minggu.
>
>
>
>
>
> 
>

Kirim email ke