Ibu Lies dan teman2 ysh,

 

Setahun atau lebih, saya pernah diajak seorang teman untuk join membuka
rumah perawatan orang tua ... menurut teman saya prospeknya bagus sekali,
karena semakin banyak keluarga yang suami/isteri bekerja penuh waktu
(mungkin termasuk juga yang jadi pengusaha..) sehingga tidak bisa merawat
orang tua-nya dengan telaten ... konon katanya menggunakan jasa pramuwisma
ddl juga ngga jaminan .. sehingga grandma/pa shelter menjadi pilihan yang
makin menarik dan bisa jadi bisnis yang menarik.  Lha beberpa pengusaha
properti yang membuka pemakaman VIP ternyata luar biasa sambutannya ..

 

Berminat ..?  Nanti saya hubungi teman saya ..

 

Salam.Mulia.,

 

IBNU TAUFAN

www.ppk.or.id , www.pnpm.org  

www.ibnutaufan.blogspot.com 

[EMAIL PROTECTED]   

 

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of
Lies Sudianti
Sent: 01 Maret 2008 12:55
To: [EMAIL PROTECTED]
Cc: tangandiatas; [email protected]
Subject: [Bicara] Re: [PROFEC] Perencaan menjalani hari tua yang tidak
sejalan dengan kenyataan.

 

Dear Joyce,

 

Apa yang Joyce diskusikan dengan sahabat memang menjadi bahan pikiran buat
siapa saja yang dihari tuanya harus dilalui sendiri. Sesudah aku membaca
tulisan Joyce ini aku malah jadi berpikir bagaimana ya kalau ada investor
yang mau menanamkan uangnya untuk membangun rumah jompo yang mewah dan
ekslusif karena banyak loh orang orang yang berduit tapi malas mengurusi
orang tua mereka yang mungkin dianggap sudah tidak berdaya, saya tahu
kesannya kok tidak manusiawi tapi pada kenyataannya banyak keluarga yang
tidak punya waktu atau ruang buat menampung orang tua mereka yang sudah
jompo.

 

Dan banyak juga orang tua yang merasa punya cukup uang ingin tetap hidup
mewah tapi berada dalam lingkungan sebaya karena tidak ingin membebani anak
cucu mereka.

 

Orang tua layak hidup tentram dan menikmati sisa hidup mereka tanpa harus
dibebani mengurusi cucu karena ditinggal orang tua mereka bekerja.

 

Aku jadi ingat mami almarhum yang bersikeras tidak ingin tinggal dengan anak
anaknya, pertama karena tidak mau terkekang oleh aturan yang dibuat anak dan
menantunya yang mungkin tidak sejalan dengan aturannya dan tidak mau
tertekan jika melihat kehidupan rumah tangga anak anaknya tidak sesuai
dengan prinsip hidupnya tapi dia tidak mampu bersuara. Dalam kesendiriannya
beliau selalu menyibukkan diri dengan kegiatan sosial yang sesungguhnya
secara material tidak menjanjikan namun beliau senang karena hari harinya
tetap bermakna, beliau sering melakukan perjalanan ke luar kota dengan teman
teman sebaya dan mereka begitu bahagia layaknya anak gadis yang sedang
ngerumpi. 

 

Beliau sesungguhnya tidak memiliki anak kandung namun keikhlasan beliau
mengangkat anak anak yang memang membutuhkan orang tua yang bisa
menyekolahkan mereka berbuah manis di hari tuanya. Berbeda dengan banyak
orang tua yang memiliki anak kandung,  saat sudah meninggal tidak ada lagi
yang peduli akan makam mereka, kedua orang tua angkatku, almarhumah mamih
dan almarhum  papih Suwondo disaat mereka meninggal dunia justru dimakamkan
di halaman rumahku yang luas, di dalam rumah joglo yang kekar dan asri
karena dikelilingi tanaman peliharaannya yang belum tentu akan didapatnya
jika dia memiliki anak kandung sendiri.

 

Jadi Joyce yang penting bagaimana kita menjalani kehidupan kita, masa depan
sungguh misteri yang bukan milik kita karena kita tidak akan pernah tahu
bagaimana nantinya hidup kita, yang penting jalani hidup ini sebaik baiknya,
pastikan kalau hidup kita penuh makna buat orang lain karena tabungan epos
kita tidak akan pernah hilang dan akan cair pada saat yang tepat.

 

Tapi usulku untuk membuat bisnis rumah jompo exclusive boleh dipikirin
lho..... para investor jika anda bingung mau menginvest uang anda dimana
gimana kalau ide ini kita garap, aku mau kok jadi penggarapnya juga pastinya
Joyce dan sebagai orang yang sudah masuk usia manula kami pastinya paling
mengerti seperti apa rumah jompo yang kami inginkan.

 

Salam epos,

 

Lies Sudianti

Founder & Moderator the Profec

0813-18873480

[EMAIL PROTECTED]

 

 

 

 

 



 

On 2/29/08, J.Thenu <[EMAIL PROTECTED]> wrote: 

Kelihatannya hari ini milis kita lagi sepi ya.... Kenapa?

 Ini ada suatu cerita pendek yang mungkin bisa dipakai sebagai bahan
renungan atau bahan masukan untuk mereka2 yang pakar dan hebat dalam
bidangnya masing2. Aku tidak hebat seperti kalian, tapi hanya sekedar ingin
berbagi cerita.................

 Pada suatu hari Minggu saat aku sedang menikmati acara pada salah satu
station TV sendiri telepon berdering, ternyata dari seorang sahabat yang
saat itu juga sedang sendirian yang menyuruh aku untuk menonton acara di TV
yang menayangkan promosi penjualan rumah disekitar Cibubur. Dia tanya.......
kalau dari Cibubur ke Jakarta jauh apa tidak ya? Yah tergantung ke Jakarta
nya ke daerah mana, sebab kalau ke Selatan atau Pusat sih sebenarnya tidak
jauh2 amat tapi macetnya itu lho, jawab ku. Aku bertanya: memangnya kenapa,
apa kamu ada minat untuk beli rumah disana? Rumah yang ia tunjukan adalah
type yang cukup kalau kita hidup sendirian. Lalu aku teringat bahwa
sebelumnya aku juga sempat melihat contoh apartemen yang cukup mewah dengan
fasilitas yang menurut aku tidak dipunyai oleh apartemen2 yang lain. Lalu
kita berdua sependapat bahwa itu adalah lingkungan yang amat sangat cocok
untuk kita2 yang sudah berumur dan tinggal sendirian. Yang jelas, karena
tahu pemiliknya, tempat itu amat sangat aman ditambah lagi ada "cleaning
service" dan "room service" 24 jam, apartemen dengan fasilitas Hotel
berbintang. Yang sudah pasti harga di apartemen ini akan jauh lebih mahal
dibanding dengan penawaran rumah hunian didaerah Cibubur, tapi tempat hunian
yang seperti itu yang sesuai untuk orang2 yang usianya sudah lanjut dan
hidup sendiri.

Kita berdua pernah membahas dimana kita akan tinggal kala usia kita sudah
tidak memungkinkan untuk beraktifitas seperti biasa, yang jelas sebagai
nenek2 tentu kita tidak bisa kerja di kantor lagi, mungkin juga sudah tidak
bisa melakukan pekerjaan membersihkan rumah, dsb........ dsb........... 

Solusi sementara adalah mencari dan mengunjungi beberapa rumah jompo yang
layak (ada dokternya, ada perawatnya, bersih, makanan yang sehat dan
terkoordinir dengan baik). Yang paling penting adalah, apakah kita bisa
mulai pesan tempat dari sekarang dengan mendeposit sejumlah uang karena
kalau nantinya kita keburu pikun bagaimana? Sempat terbersit, kalau saat itu
datang.......... apakah deposit tersebut bisa menjamin bahwa pengelola rumah
jompo tersebut akan memberikan pelayanan yang se-baik2nya? Pertanyaan2 yang
timbul dikepala kita bertambah banyak namun kita belum / tidak bisa
mendapatkan jawabannya.

Jawaban yang akhirnya kita dapat adalah tidak ada satu pun rumah jompo yang
bisa menerima deposit (jadi tempat tidak bisa dipesan terlebih dulu).

Sahabatku mengatakan bahwa kita salah membuat rencana untuk menghabiskan
hari tua saat kita masih muda. Aku mengatakan bahwa kita tidak salah, tapi
keadaan saat itu yang membuat kita berfikir bahwa kalau nanti kita sudah tua
ada anak yang mengurus kita, kemudian kita akan menghabiskan hari tua
ber-sama2 dengan pasangan kita. Kenyataannya adalah anak sahabatku diambil
kembali oleh Yang Maha Kuasa saat kuliahnya hampir selesai, sedangkan aku
dan suamiku hanya diberi waktu 6 tahun untuk hidup bersama dimana kemudian
dia juga dipanggil pulang ke rumah Tuhan.

Pelajaran yang bisa diambil adalah apapun bisa terjadi pada kehidupan kita,
jadi persiapkan diri dan segala sesuatunya untuk menjalani hari tua SENDIRI.

Solusi......... sampai sekarang kita berdua belum menemukannya.

Harapan............. agar suatu saat ada RUMAH JOMPO dengan sistem deposit.

Ini adalah obrolan kecil antara 2 orang sahabat disuatu hari Minggu.

 

 

 

 

Kirim email ke