“Optimists are right. So are pessimists.
  It’s up to you to choose which you will be”.
  (Harvey Mackay)
  ~
   
  “Orang-orang yang Optimis adalah yang benar. Demikian pula halnya dengan 
mereka yang pesimis. Terserah kepada Anda untuk memilih ingin menjadi bagian 
dari kelompok yang mana”.
  

  Hidup ini perjuangan, kata orang-orang. Kita harus berjuang untuk memenuhi 
setiap tantangan dan tuntutan yang datang kepada kita. Perjuangan tersebut 
tidak akan pernah berhasil selama kita menganggap bahwa kita telah gagal 
sebelum berusaha - kita telah kalah sebelum berperang. Justeru, hal tersebut 
tidaklah dapat disebut sebagai suatu perjuangan; karena, apa yang Anda sedang 
perjuangkan jika Anda sudah merasa tidak memiliki peluang untuk menang? 
Bagaimana anda dikatakan telah menempuh perjuangan ketika langkah Anda masih 
terpaku disitu?Kondisi demikian bisa kita katakan sebagai sikap yang pesimis, 
malas untuk berjuang dan takut untuk menang – sikap yang hanya dimiliki oleh 
para pecundang!
  

  Jika ditanyakan kepada mereka – yang gagal dalam kehidupannya – apa penyebab 
munculnya sikap-sikap negatif tersebut, niscaya mereka akan memberikan 1001 
alasan yang – dalam kacamata mereka – sangat masuk akal. Ketika kita bertanya 
kepada para pengangguran yang sekian lama belum memperoleh pekerjaan, misalnya, 
mereka biasa berdalih : “Jaman sekarang memang susah, persaingan mencari 
pekerjaan semakin berat... Jika ingin diterima bekerja kita harus punya kenalan 
‘orang dalam’…Memang belum rejeki, kali... [dan seterusnya.. dan 
seterusnya...]”. Begitulah, para pecundang itu sudah cukup tenang dengan hanya 
memberikan sekumpulan alasan ‘logis’ tentang keadaan mereka. 
   
  Kita nampaknya tak dapat berbuat banyak untuk mengubah pola pikir, sikap dan 
pandangan mereka jika mereka telah lebih dulu menyerah pada keadaan dan 
menyerahkan nasibnya pada penafsiran realitas yang mereka temui. Mengapa? 
Karena mereka telah memilih menjadi orang yang gagal, orang yang mudah 
menyerah, dan merasa tak lagi memiliki harapan untuk mewujudkan impiannya. 
Mereka telah menjadi orang yang pesimis dalam menjalani hidup. Mereka telah 
menyerah pada takdir –yang mereka buat sendiri. Dan, mereka hanya selalu 
menanti keajaiban untuk mengubah keadaan mereka –suatu impian utopis yang 
berlebihan. Namun, anehnya, mereka tetap merasa tidak bersalah – minimal merasa 
risih – atas keadaan nahas yang mereka alami. Mereka merasa sudah berbuat yang 
seharusnya, dan mengira bahwa mereka sudah berbuat yang benar. Tragis! Mereka 
sudah mengungkung dirinya dalam penjara persepsi yang mereka bangun sendiri. 
Mereka telah membawa kehidupannya (serta masa depannya) ke padang gersang yang
 kering kerontang. Kasihan...
  

  Di lain pihak, kita melihat orang-orang yang begitu bersemangat menjalani 
hidupnya... Mereka selalu antusias, energik dan penuh gairah dalam setiap 
pekerjaan yang mereka lakukan. Mereka adalah orang-orang yang memandang hidup 
dan masa depannya dengan OPTIMIS, tanpa dihantui keragu-raguan dan ketakutan 
akan ancaman kehidupan yang mungkin menerjang. Mengapa mereka bisa seperti 
demikian? Karena mereka telah memilih untuk menjadi pemenang, yang gigih 
berjuang, diliputi oleh harapan dan keyakinan yang kuat untuk menyongsong 
impiannya. 
   
  Mereka menjalani hidup ini dengan penuh percaya diri, berbekal sikap mental 
yang positif. Mereka berusaha membuat takdir sejalan dengan keinginannya. Dan, 
mereka senantiasa bekerja keras dengan tekun dan semangat serta penuh dedikasi 
untuk mengubah (atau memperbaiki) keadaan mereka. Mereka tak mau berharap pada 
“keajaiban”, “mukjizat” yang berdasarkan pada mitos dan apatisme sesat. Mereka 
menganut pragmatisme logis yang diikuti dengan idealisme murni yang 
mencerahkan. 
   
  Uniknya, mereka selalu mau memperbaiki dirinya dari kesalahan-kesalahan yang 
pernah diperbuatnya, serta senantiasa merasa tidak tenang atas 
“kenyamanan-kenyamanan” yang ada –anti kemapanan. Yang ada di benak mereka 
adalah bagaimana mereka mampu mempersembahkan hasil yang terbaik dalam setiap 
kerja-karya yang mereka lakoni. Dan itu semua sebisanya mereka wujudkan melalui 
poros kejujuran, kebenaran dan keadilan. Menakjubkan ! Mereka bagaikan burung 
yang terbang bebas di hamparan alam yang luas dalam taman kehidupan yang penuh 
warna. Mereka laksana pelukis abadi, yang menorehkan prestasi demi prestasi 
berharga di atas kanvas kehidupan yang mewah. Bukan main....
  

  Demikianlah adanya... Orang-orang yang menganut paham fatalistis-skeptis – 
yakni selalu “menyerah” dan bersikap pesimistik – akan menjalani kehidupan yang 
sengsara dan kering dari makna. Mereka telah merugikan dan mencelakakan dirinya 
sendiri, karena telah menempuh jalan kehidupan yang sesat! Adapun mereka yang 
mengikuti paham pragmatis-idealis – yakni selalu ingin berbuat, bekerja dengan 
antusias diikui oleh sikap optimistik dan keyakinan hakiki serta kebijaksanaan 
(wisdom) – akan mendapati kehidupan yang bahagia dan penuh warna. Mereka adalah 
orang-orang yang beruntung – dan menguntungkan orang lain – akibat meniti jalan 
kehidupan yang lurus lagi bersih. 
   
  Well, kini, terserah kepada kita, apakah kita akan menjadi orang yang celaka, 
ataukah bahagia?! “Dan Kami telah tunjukkan padanya dua jalan” (Qur'an).
   
   
  Salaam Manfaat,
   
  Ahmad Arafat Aminullah
   

       
---------------------------------
Special deal for Yahoo! users & friends - No Cost. Get a month of Blockbuster 
Total Access now

Kirim email ke