Wow sesungguhnya email ini cocok nich buat Profec di hari Senin kemarin karena khusus hari Senin kami membahas topik inspiration & motivation issue, tapi engga apa apa aku forward sekarang biar pada bertambah wawasannya.
Makasih ya mas Ahmad untuk artikel ini. Salam epos, Lies sudianti Founder & Moderator the Profec 0817 0707 770 0813 1887 3480 [EMAIL PROTECTED] [EMAIL PROTECTED] On Sun, Mar 30, 2008 at 4:38 PM, Ahmad Arafat <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > "*Optimists are right. So are pessimists.* > *It's up to you to choose which you will be".* > (Harvey Mackay) > ~ > > "*Orang-orang yang Optimis adalah yang benar. Demikian pula halnya dengan > mereka yang pesimis. Terserah kepada Anda untuk memilih ingin menjadi bagian > dari kelompok yang mana".* > > *Hidup ini perjuangan*, kata orang-orang. Kita harus berjuang untuk > memenuhi setiap tantangan dan tuntutan yang datang kepada kita. Perjuangan > tersebut *tidak akan* pernah berhasil selama kita menganggap bahwa *kita > telah gagal sebelum berusaha* - kita telah kalah sebelum berperang. > Justeru, hal tersebut tidaklah dapat disebut sebagai suatu *perjuangan*; > karena, apa yang Anda sedang perjuangkan jika Anda sudah merasa tidak > memiliki peluang untuk menang? Bagaimana anda dikatakan telah menempuh * > perjuangan* ketika langkah Anda masih terpaku disitu?Kondisi demikian bisa > kita katakan sebagai sikap yang *pesimis*, *malas* untuk berjuang dan * > takut* untuk menang – sikap yang hanya dimiliki oleh para pecundang! > > Jika ditanyakan kepada mereka – yang gagal dalam kehidupannya – apa > penyebab munculnya sikap-sikap negatif tersebut, niscaya mereka akan > memberikan 1001 alasan yang – dalam kacamata mereka – sangat masuk akal. > Ketika kita bertanya kepada para pengangguran yang sekian lama belum > memperoleh pekerjaan, misalnya, mereka biasa berdalih : "*Jaman sekarang > memang susah, persaingan mencari pekerjaan semakin berat... Jika ingin > diterima bekerja kita harus punya kenalan 'orang dalam'*…*Memang belum > rejeki, *kali*...* [dan seterusnya.. dan seterusnya...]". Begitulah, para > pecundang itu sudah cukup tenang dengan hanya memberikan sekumpulan alasan ' > *logis'* tentang keadaan mereka. > > Kita nampaknya tak dapat berbuat banyak untuk mengubah pola pikir, sikap > dan pandangan mereka jika mereka telah lebih dulu *menyerah* pada keadaan > dan menyerahkan nasibnya pada penafsiran realitas yang mereka temui. > Mengapa? Karena mereka telah *memilih* menjadi orang yang gagal, orang > yang mudah menyerah, dan merasa tak lagi memiliki harapan untuk mewujudkan > impiannya. Mereka telah menjadi orang yang *pesimis* dalam menjalani > hidup. Mereka telah menyerah pada takdir –yang mereka *buat* sendiri. Dan, > mereka hanya selalu menanti *keajaiban* untuk mengubah keadaan mereka > –suatu impian utopis yang berlebihan. Namun, anehnya, mereka tetap merasa > tidak bersalah – minimal merasa *risih* – atas keadaan *nahas* yang mereka > alami. Mereka merasa sudah berbuat yang seharusnya, dan mengira bahwa mereka > sudah berbuat yang benar. *Tragis! *Mereka sudah mengungkung dirinya dalam > penjara persepsi yang mereka bangun sendiri. Mereka telah membawa > kehidupannya (serta masa depannya) ke padang gersang yang kering kerontang. > *Kasihan...* > > Di lain pihak, kita melihat orang-orang yang begitu bersemangat menjalani > hidupnya... Mereka selalu antusias, energik dan penuh gairah dalam setiap > pekerjaan yang mereka lakukan. Mereka adalah orang-orang yang memandang > hidup dan masa depannya dengan *OPTIMIS*, tanpa dihantui keragu-raguan dan > ketakutan akan ancaman kehidupan yang mungkin menerjang. Mengapa mereka bisa > seperti demikian? Karena mereka telah *memilih untuk menjadi pemenang*, > yang gigih berjuang, diliputi oleh harapan dan keyakinan yang kuat untuk > menyongsong impiannya. > > Mereka menjalani hidup ini dengan penuh percaya diri, berbekal sikap > mental yang positif. Mereka berusaha membuat takdir sejalan dengan > keinginannya. Dan, mereka senantiasa bekerja keras dengan tekun dan semangat > serta penuh dedikasi untuk mengubah (atau memperbaiki) keadaan mereka. > Mereka tak mau berharap pada "*keajaiban*", "*mukjizat*" yang berdasarkan > pada mitos dan apatisme sesat. Mereka menganut *pragmatisme logis* yang > diikuti dengan *idealisme murni* yang mencerahkan. > > Uniknya, mereka selalu mau memperbaiki dirinya dari kesalahan-kesalahan > yang pernah diperbuatnya, serta senantiasa merasa tidak tenang atas > "kenyamanan-kenyamanan" yang ada –*anti kemapanan*. Yang ada di benak > mereka adalah bagaimana mereka mampu mempersembahkan hasil yang terbaik > dalam setiap kerja-karya yang mereka lakoni. Dan itu semua sebisanya mereka > wujudkan melalui poros kejujuran, kebenaran dan keadilan. *Menakjubkan ! > *Mereka > bagaikan burung yang terbang bebas di hamparan alam yang luas dalam taman > kehidupan yang penuh warna. Mereka laksana pelukis abadi, yang menorehkan > prestasi demi prestasi berharga di atas kanvas kehidupan yang mewah. *Bukan > main*.... > > Demikianlah adanya... Orang-orang yang menganut paham *fatalistis-skeptis*– > yakni selalu "menyerah" dan bersikap pesimistik – akan menjalani kehidupan > yang sengsara dan kering dari makna. Mereka telah merugikan dan > mencelakakan dirinya sendiri, karena telah menempuh jalan kehidupan yang > sesat! Adapun mereka yang mengikuti paham *pragmatis-idealis* – yakni > selalu ingin berbuat, bekerja dengan antusias diikui oleh sikap optimistik > dan keyakinan hakiki serta kebijaksanaan (*wisdom*) – akan mendapati > kehidupan yang bahagia dan penuh warna. Mereka adalah orang-orang yang > beruntung – dan menguntungkan orang lain – akibat meniti jalan kehidupan > yang *lurus lagi bersih*. > > *Well*, kini, terserah kepada kita, apakah kita akan menjadi orang yang > celaka, ataukah bahagia?! *"Dan Kami telah tunjukkan padanya dua jalan" > (Qur'an).* > ** > ** > *Salaam Manfaat,* > ** > *Ahmad Arafat Aminullah* > ** > > ------------------------------ > Special deal for Yahoo! users friends - No Cost. Get a month of > Blockbuster Total > Access<http://us.rd.yahoo.com/evt=47521/*http://tc.deals.yahoo.com/tc/blockbuster/text3.com>now > >
