________________________________ > Date: Thu, 10 Apr 2008 19:40:08 -0700 > From: [EMAIL PROTECTED] > Subject: WHY TO MOVE > To: [EMAIL PROTECTED] > > Bener banget nie.. gw tau ada 1 perusahaan yang kaya gini..yg bener2 bikin > karyawan berbakatnya banyak yg terpaksa pergi gara2 manajer dan direktur yg > "gila" & unsur KKN sangat lengkat di perusahaan tsb...ck..ck..padahal > perusahaan tsb cukup bagus lho.. sayangnya aja.. > Buat para manager dan direktur.. harap diperhatikan kalo mau perusahaannya > berjaya yakk... ;) > > > > WHY TO MOVE > > Mengapa karyawan meningggalkan perusahaan (atau paling tidak sering > ngedumel)? Berikut ini petikan dari bukunya Haris Priyatna yang berjudul Azim > Premji, "Bill Gates" dari India (terbitan Mizania 2007). > > Azim Premji adalah milyuner muslim dari India yang telah menyulap Wipro, dari > sebuah perusahaan minyak goreng menjadi konglomerasi perusahaan dengan salah > satunya adalah Wipro Technologies yang merupakan ikon kebangkitan industri > teknologi informasi di India. Dia urutan ke-21 orang terkaya di dunia versi > Forbes 2007. Azim dikenal sebagai milyuner yang bergaya hidup sederhana. > > Berikut ini pandangan Premji tentang mengapa karyawan betah dan tidak betah > dengan perusahaan. Wipro sendiri memiliki tinkat turn-over(kepindahan) > karyawan yang sangat rendah, padahal gajinya tidak lebih tinggi dibandingkan > perusahaan sejenis seperti Infosys dan TCS. > > Mengapa KARYAWAN meninggalkan perusahaan? > > Banyak perusahaan yang mengalami persoalan tingginya tingkat pergantian > karyawan. Betapa orang mudah keluar-masuk perusahaan itu. Orang meninggalkan > perusahaan untuk gaji yang lebih besar, karier yang lebih menjanjikan, > lingkungan kerja yang lebih nyaman, atau sekedar alasan pribadi. Tulisan ini > mencoba menjelaskan persoalan ini. > > Belum lama ini, Sanjay, seorang teman lama yang merupakan desainer software > senior, mendapatkan tawaran dari sebuah perusahaan internasional prestisius > untuk bekerja di cabang operasinya di India sebagai pengembang software. Dia > tergetar oleh tawaran itu. Sanjay telah mendengar banyak tentang CEO > perusahaan ini, pria karismatik yang sering dikutip di berita-berita bisnis > karena sikap visionernya. Gajinya hebat. Perusahaan itu memiliki kebijakan > SDM ramah karyawan yang bagus, kantor yang masih baru, dan teknologi > mutakhir, bahkan sebuah kantin yang menyediakan makanan lezat. > > Sanjay segera menerima tawaran itu. Dua kali dia dikirim ke luar negeri untuk > pelatihan. "Saya sekarang menguasai pengetahuan yang paling baru", katanya > tak lama setelah bergabung. Ini betul-betul pekerjaan yang hebat dengan > teknologi mutakhir. Ternyata, kurang dari delapan bulan setelah dia > bergabung, Sanjay keluar dari pekerjaan itu. Dia tidak punya tawaran lain di > tangannya, tetapi dia mengatakan tidak bisa bekerja di sana lagi. Beberapa > orang lain di departemennya pun berhenti baru-baru ini. > > Sang CEO pusing terhadap tingginya tingkat pergantian karyawan. Dia pusing > akan uang yang dia habiskan dalam melatih mereka. Dia bingung karena tidak > tahu apa yang terjadi. Mengapa karyawan berbakat ini pergi walaupun gajinya > besar ? Sanjay berhenti untuk satu alasan yang sama yang mendorong banyak > orang berbakat pergi. Jawabannya terletak pada salah satu penelitian terbesar > yang dilakukan oleh Gallup Organization. Penelitian ini menyurvei lebih dari > satu juta karyawan dan delapan puluh ribu manajer, lalu dipublikasikan dalam > sebuah buku berjudul First Break All the Rules. > > Penemuannya adalah sebagai berikut: > > Jika orang-orang yang bagus meninggalkan perusahaan, lihatlah atasan > langsung/tertinggi di departemen mereka. Lebih dari alasan apapun, dia adalah > alasan orang bertahan dan berkembang dalam organisasi. Dan dia adalah alasan > mengapa mereka berhenti, membawa pengetahuan, pengalaman, dan relasi bersama > mereka. Biasanya langsung ke pesaing. Orang meninggalkan manajer/direktur > anda, bukan perusahaan, tulis Marcus Buckingham dan Curt Hoffman penulis buku > First Break All the Rules. > > Begitu banyak uang yang telah dibuang untuk menjawab tantangan mempertahankan > orang yang bagus - dalam bentuk gaji yang lebih besar, fasilitas dan > pelatihan yang lebih baik. Namun, pada akhirnya, penyebab kebanyakan orang > keluar adalah manajer. Kalau Anda punya masalah pergantian karyawan yang > tinggi, lihatlah para manajer/direktur Anda terlebih dahulu. Apakah mereka > membuat orang-orang pergi? > > Dari satu sisi, kebutuhan utama seorang karyawan tidak terlalu terkait dengan > uang, dan lebih terkait dengan bagaimana dia diperlakukan dan dihargai. > Kebanyakan hal ini bergantung langsung dengan manajer di atasnya. > > Uniknya, bos yang buruk tampaknya selalu dialami oleh orang-orang yang bagus. > Sebuah survei majalah Fortune beberapa tahun lalu menemukan bahwa hampir 75 > persen karyawan telah menderita di tangan para atasan yang sulit. > > Dari semua penyebab stres di tempat kerja, bos yang buruk kemungkinan yang > paling parah. Hal ini langsung berdampak pada kesehatan emosional dan > produktivitas karyawan. Pakar SDM menyatakan bahwa dari semua bentuk tekanan, > karyawan menganggap penghinaan di depan umum adalah hal yang paling tidak > bisa diterima. Pada kesempatan pertama, seorang karyawan mungkin tidak pergi, > tetapi pikiran untuk melakukannya telah tertanam. > > Pada saat yang kedua, pikiran itu diperkuat. Saat yang ketiga kalinya, dia > mulai mencari pekerjaan yang lain. Ketika orang tidak bisa membalas kemarahan > secara terbuka, mereka melakukannya dengan serangan pasif, seperti: dengan > membandel dan memperlambat kerja, dengan melakukan apa yang diperintahkan > saja dan tidak memberi lebih, juga dengan tidak menyampaikan informasi yang > krusial kepada sang bos. > > Seorang pakar manajemen mengatakan, jika Anda bekerja untuk atasan yang tidak > menyenangkan, Anda biasanya ingin membuat dia mendapat masalah. Anda tidak > mencurahkan hati dan jiwa di pekerjaan itu. Para manajer bisa membuat > karyawan stres dengan cara yang berbeda-beda: dengan terlalu mengontrol, > terlalu curiga, terlalu mencampuri, sok tahu, juga terlalu mengecam. Mereka > lupa bahwa para pekerja bukanlah aset tetap, mereka adalah agen bebas. Jika > hal ini berlangsung terlalu lama, seorang karyawan akan berhenti - biasanya > karena masalah yang tampak remeh. Bukan pukulan ke-100 yang merobohkan > seorang yang baik, melainkan 99 pukulan sebelumnya. > > Dan meskipun benar bahwa orang meninggalkan pekerjaan karena berbagai alasan, > untuk kesempatan yang lebih baik atau alasan khusus, mereka yang keluar itu > sebetulnya bisa saja bertahan, kalau bukan karena satu orang yang mengatakan > kepada mereka, seperti yang dilakukan bos Sanjay: Kamu tidak penting. Saya > bisa mencari puluhan orang seperti kamu. > Meskipun tampaknya mudah mencari karyawan, pertimbangkanlah untuk sesaat > biaya kehilangan seorang karyawan yang berbakat. Ada biaya untuk mencari > penggantinya. Biaya melatih penggantinya. Biaya karena tidak memiliki > seseorang untuk melakukan pekerjaan itu sementara waktu. Kehilangan klien dan > relasi yang telah dibina oleh orang tersebut. Kehilangan moril sejawat > kerjanya. Kehilangan rahasia perusahaan yang mungkin sekarang dibocorkan oleh > orang tersebut kepada perusahaan lain. Plus, tentu saja, kehilangan reputasi > perusahaan. Setiap orang yang meninggalkan sebuah korporasi akan menjadi > dutanya, entah tentang kebaikan atau keburukan. > > Demikian pesan Azim Premji. Bagaimana pendapat Anda (sebagai bawahan maupun > atasan?)........... ~RENUNGKAN!!!~ > > __________________________________________________ > Do You Yahoo!? > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around > http://mail.yahoo.com
_________________________________________________________________ Express yourself with 30 new emoticons from Windows Live Messenger! http://messenger-emoticons.spaces.live.com/
