Dear Lingkar LoA dan rekan,

 

LoA telah menggetarkan siapa saja, termasuk para sutradara atau creative
director dari PH – PH yang memproduksi sinetron di Indonesia. Semalam saya
menyempatkan menonton FTV (atau sejenis sinetron) di SCTV yang berjudul
Menanti Kinanti (kalau ngga salah) sembari ber’sms ria dengan gebetan
(maklum, masih muda. Brondong kalo kata Mami Ietje). Begini cuplikan dengan
adegan penyebutan LoA’nya:

 

Seorang ABG sedang membaca buku The Secret, dia bergumam-gumam lalu dia
berkata, “menurut buku The Law of Attraction ini, apa yang kita inginkan
dapat terwujud dengan memvisualisasikannya”. Lalu setelah dia merasa cukup
mengerti dengan maksud kalimat tersebut, dia bergegas mengambil sebuah
tabloid yang menampilkan seorang foto artis. Tidak lama, seseorang menelpon
dirinya, dan ternyata artis tersebut. Mau tahu karena apa? Karena kakak dari
ABG tersebut sedang mendapat hadiah kencan bersama sang artis, dan si artis
menemukan nomer telp si ABG yang notabene adik dari pasangannya dia.

 

Sang ABG di adegan tersebut menampilkan mimik terkejut atas “keajaiban”
tersebut, sampai-sampai dia berkata “wuih, ajaib banget nih buku baru juga
ngebayangin, udah di telp Ben (artis dimaksud)”. Tenang saja, semua adalah
adegan di sinetron yang sudah di setting pastinya. Jelas ini bukan
testimonial atas terjadinya Lo Adi sinetron, hehehe. mari kita bahas di sisi
yang berbeda…

 

Yang bikin sinetron siapa? Production House. Yang mengarahakan adegan siapa?
Sutradara. Yang bikin cerita siapa? Dll dst…. Nah, siapa pun yang bikin
cerita tersebut pastilah mengerti LoA. Karena apa, karena kalau dia ngga
ngerti, ngapain dia susah-susah nyedia’in buku itu kalau pada dasarnya si
pembikin cerita atau crew yang terlibat tidak mengerti LoA. Artinya, LoA
mendapat tempat di hati masyarakat. Kan sebenerna bisa aja ceritanya dibikin
biasa aja, si ABG berharap, terus tiba2 harapannya terwujud, ya kayak cerita
sinetron pada umumnya… hehehehe….

 

Permasalahannya, masyarakat belum semua mengerti apa itu LoA. Istilahnya, si
pembikin cerita at least pernah baca buku The Secret, minimal ngerti’lah,
tapi pada saat eksekusi si pemeran di arahkan untuk berkata “ajaib banget”!
Nah, kalo sebagian yang pernah dengar LoA dan kebetulan nonton tayangan
tersebut, dan tertanam bahwa LoA adalah ajaib, bisa kacau’kan? Hehehe… kalau
gitu, ndak usah repot. Bersyukurlah kita adalah orang-orang yang di berkahi
dengan mengetahui LoA dengan baik (tidak syirik). Maka dari itu, dengan
cerita tersebut saya ingin mengajak anda semua praktisi LoA untuk
menyebarkan kebaikan bagi masyarakat. Berikan pengertian tentang LoA dengan
baik dan benar, berimbang dan terarah (kaya trainer gitchu lho…)… biar ndak
ada yang salah kaprah.

 

Masih ada lho yang nanya ke saya, LoA itu kaya jamaah-jamaah’an ya? LoA itu
kaya MLM ya? LoA itu ga kenal Allah/Tuhan ya? Jawaban saya sederhana, “Kami
bukan jamaah, kami adalah Lingkaran Vibrasi Positif. Kami bukan MLM, namun
kami cinta untuk berkumpul membahas menganai LoA. Kami sangat kenal
Allah/Tuhan, lha wong LoA punya Allah/Tuhan masakita tidak kenal dan
mengakui sang pemilik hak intelektual atas LoA dan seluruh ilmu di muka bumi
ini?”. dan sebagian pun memilih terdiam, membisu ngga ngerti mau menyangkal
apa lagi?! hehehe

 

Hal ini yang menginspirasi saya menghubungi gebetan saya malam2 setelah
nonton sinetron tersebut, dan mulai menggali keinginan2 dia, saya ajak dia
bervisualisasi (dia mau liburan ke Thailand, saya malah bervisualisasi dapat
menemani dia liburan ke Thailand, hehehehe….), merasakan bahwa dia tiba di
Thailand dan segala macam. Walhasil, tadi siang saat saya buka e-mail, saya
menerima e-mail tentang Thailand, mantaff bukan?! Setelah saya
“bercicit-cicit-cuit” dengannya mengenai LoA, NLP dan TLT, saya minta dia
setel weker 4:30, visualkan akan bangun pada pukul yang ditentukan dan dia
yang harus bangunkan saya waktu subuh lalu kami tutup telp’nya. Yang terjadi
adalah, malah saya yang terbangun 4:20 AM, saya telp dia u/ shalat subuh dan
dia tidak bangun karena wekernya, tapi karena saya telp.

 

Anehnya, di saat saya terbangun dan menelpon dia, si gebetan mengangkat telp
dengan senyum-senyum dan langsung berkata tadi di dalam tidurnya dia
bermimpi, “saya yang terbangun duluan, saya yang telp dia, dia lalu
terbangun dan angkat telp saya, dan senyum-senyum”. Semua sama persis, dari
kondisi-kondisinya… kaya de javu gitu, kalau saya bilang sih fekwensinya
selaras (nemu), hehehe… jadi GR..

 

Siangnya, kami masih sms2’an, tiba2 sebelum Shalat Jumat sms itu terputus,
di telp juga ndak di angkat. Lepas Shalat Jumat tetap loss contact hingga
menjelang Ashar… Ya sudah, tiba saatnya Ashar datang. Di penghujung Shalat
saya berdoa, “Ya Allah, bila si XXXXXX baik untuk’ku menurut’Mu maka
dekatkanlah. Dan Ya Allah, bila si XXXXXX kurang baik untuk’ku menurut’Mu
maka…(saat itu saya ragu untuk berani mengucap lebih lanjut, takut rasa
senang saya yang sedang menggebet seseorang hilang seketika)…jauhkanlah”.
Maka dari itu, hingga detik ini setiap saya coba hubungi si gebetan saya,
selalu tidak terhubung. Okei, tidak apa, toh Allah maha Tahu dan maha Adil.

 

Selama ini kita (saya dan anda) masih membahas LoA dari sisi suksesnya,
belum prosesnya secara detail. LoA saya akan jodoh mungkin terkesan sepele
(buat yang sudah berpasangan), mungkin begitu pahit bila saya mengartikan
jalan Allah adalah tidak baik bagi saya (menurut saya, bukan menurut’Nya).
Namun saya hanya butuh ke’ikhlas’an dari diri saya, saat sudah berbagi
senang dengan si gebetan, Allah mau ambil ya monggo, silahkan (walau sempet
pahit, hehehe). Kini saya berada di state baru, saya yakin Allah akan
berikan saya yang lebih baik, bahkan yang terbaik bagi saya di hari Sabtu,
besok tanggal 19 April 2008. insyaAllah Minggu saya suda bisa bertestimonial
mengenai itu.

 

Mohon di catat, saya bukannya tipe penyerah begitu saja karena baru ½ hari
loss contact sudah give up, lha wong saya tetep hubungi dia (berikhtiar).
Bukan itu saja, saya sangat yakin atas petunjuk Allah (percaya dan ikhlas),
kan saya sudah berdo’a kepada Allah memohon yang terbaik bagi saya
menurut’Nya, ya sudah tunggu saja (pasrah pada keputusan Allah SWT). Kalau
yang ini bukan yang terbaik (baiknya jadi temen), ya udah di’umpet’in dulu
sama Allah (bisa aja HP dia tiba2 lowbatt, pulsa abis ngga nemu tukang pulsa
atao tiba2 ngga ada duit cash, dll).

 

Dari laporan tentang LoA di sinetron dan mendadak curhat ini, dapat kita
lihat bukan, LoA bukan jama’ah – jama’ah-an dan LoA sangat mengenal
Allah/Tuhan. Sehebat-hebatnya anda dan saya me’LoA, kalo Allah ndak approve
ya masuk tahap Law of Delay kan? Hehehe… Pada bagian semi-curhat saya ini,
secara pribadi saya mengajak anda para praktisi LoA lebih ikhlas kepada
Allah dan yakin bahwa Allah akan beri yang terbaik bagi anda menurut’Nya.
Maka dari itu, beranikah anda berkata, “Ya Allah, bila XXXXXX adalah baik
untuk’ku menurut’Mu maka dekatkanlah. Dan Ya Allah, bila XXXXXX kurang baik
untuk’ku menurut’Mu maka…(janganlah anda ragu untuk menerima pahit atau
manisnya keputusan Allah)…jauhkanlah”.

 

Bila anda sudah berani ikhlas, saya rasa kebesaran hati anda akan cukup
besar dan cukup untuk menghindari anda dari syirik atas LoA. Semua itu
adalah pilihan anda. Saya berharap disaat anda (ataupun saya) me’LoA sesuatu
dan belum terkabul’kan oleh Allah SWT, maka anda (ataupun saya) tidak
menyalahkan diri anda sendiri, teknik LoA ataupun (Astaghfirullah)
menyalahkan Allah SWT. Semua yang diberikan Allah adalah yang terbaik bagi
anda menurut’Nya, cam’kan-lah.

 

…

Regards,

 

Perdanawan P. Pane (jomblo ceria, hehehe)

[EMAIL PROTECTED]

http://perdanawan.multiply.com

Kirim email ke