Selamat Pagi..!!! Semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin...

 

Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua
rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk. Sholat lima waktu? Sudahlah
jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek saja agar lekas
selesai. Tanpa doa dan segala macam puji untuk Allah, terlipatlah
sajadah yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib
sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum
termasuk catatan: "Kalau tidak terlambat" atau "Asal nggak bangun
kesiangan". Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?

Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya
dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki
mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya.
Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap Allah
Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka. Ketika adzan
berkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju
sumber panggilan, kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk
bersimpuh di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.

Baca Qur'an sesempatnya, itu pun tanpa memahami arti dan maknanya,
apalagi meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat yang
mengalir dari lidah ini tak sedikit pun membuat dada ini bergetar,
padahal tanda-tanda orang beriman itu adalah ketika dibacakan ayat-ayat
Allah maka tergetarlah hatinya. Hanya satu dua lembar ayat yang sempat
dibaca sehari, itu pun tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang
malas. Yang begini ngaku beriman?

Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka untuk
meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah. Sesekali mereka
terhenti, tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna
terdalam dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya. Tak jarang
mereka hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata. Setiap tetes
yang akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena
lidah-lidah indah yang melafazkan ayat-ayat Allah dengan pemahaman dan
pengamalan tertinggi.

Bersedekah jarang, begitu juga infak. Kalau pun ada, dipilih mata uang
terkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh. Berbuat baik
terhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau sedang ada kegiatan
bakti sosial, yah hitung-hitung ikut meramaikan. Sudah lah jarang
beramal, amal yang paling mudah pun masih pelit, senyum. Apa sih
susahnya senyum? Kalau sudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan
dan Kasih Allah?

Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tutur
lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan semata
milik Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain. Juga bukan
semata teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Ia senantiasa
penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, bahkan kepada
musuhnya sekali pun. Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba
beramal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.


Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan, ya
tetangga sebelah kiri. Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh
temeh, tapi permusuhan bisa berlangsung berhari-hari, kalau perlu
ditambah sumpah tujuh turunan. Waktu demi waktu dihabiskan untuk
menggunjingkan aib dan kejelekan saudara sendiri. Detik demi detik dada
ini terus jengkel setiap kali melihat keberhasilan orang dan berharap
orang lain celaka atau mendapatkan bencana. Sudah sedemikian pekatkah
hati yang tertanam dalam dada ini? Adakah pantas hati yang seperti ini
bertemu dengan Allah dan Rasulullah kelak?

Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya kepada orang-orang
beriman yang masuk ke dalam surga Allah kelak. Tentu saja mereka yang
berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula. Tak inginkah kita
menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu? Lalu kenapa masih terus
bermuka masam terhadap saudara sendiri?

Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat. Terhadap orang tua
kurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka, apalah
lagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh
apa pun selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka
besarkan dengan segenap cinta. Cinta yang berhias peluh, air mata, juga
darah. Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah?

Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih. Kaki mulia ibu lah yang
disebut-sebut tempat kita merengkuh surga. Bukankah Rasulullah yang
sejak kecil tak beribu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu, bahkan
tiga kali beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah? Bukankah
seharusnya kita lebih bersyukur saat masih bisa mendapati tangan lembut
untuk dikecup, kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat
hangat dan menyejukkan? Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi
mendapatkan kesempatan itu. Ataukah harus menunggu Allah memanggil
orang-orang terkasih itu hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan
kehadiran mereka? Jangan tunggu penyesalan.

Astaghfirullaah .....

 

Sumber : Eramulsim.com

 

Baca juga artikel motivasi lainnya hanya di :

 

http://www.beraniegagal.com

 

Salam Sukses,

M. Rian Rahardi

 

# BeraniBisnis.Com <http://www.beranibisnis.com/?id=inaya>  

# KeuanganPribadi.Com <http://www.keuanganpribadi.com/?id=misterryan> 

P  Please consider the environment before printing this email 

 



This email and any attachments are confidential and may also be privileged.  If 
you are not the addressee, do not disclose, copy, circulate or in any other way 
use or rely on the information contained in this email or any attachments.  If 
received in error, notify the sender immediately and delete this email and any 
attachments from your system.  Emails cannot be guaranteed to be secure or 
error free as the message and any attachments could be intercepted, corrupted, 
lost, delayed, incomplete or amended.  Standard Chartered PLC and its 
subsidiaries do not accept liability for damage caused by this email or any 
attachments and may monitor email traffic.

 

Standard Chartered PLC is incorporated in England with limited liability under 
company number 966425 and has its registered office at 1 Aldermanbury Square, 
London, EC2V 7SB.

 

Standard Chartered Bank ("SCB") is incorporated in England with limited 
liability by Royal Charter 1853, under reference ZC18.  The Principal Office of 
SCB is situated in England at 1 Aldermanbury Square, London EC2V 7SB. In the 
United Kingdom, SCB is authorised and regulated by the Financial Services 
Authority under FSA register number 114276.

 

If you are receiving this email from SCB outside the UK, please click 
http://www.standardchartered.com/global/email_disclaimer.html to refer to the 
information on other jurisdictions.

Kirim email ke