Ketika Hidup ini Bermakna

Pagi Senin kamaren saya kedatangan seorang ibu, datang mengeluhkan
dirinya bahwa ia menjadi orang yang paling malang di dunia, karena ia
berada pada posisi maju kena-mundur kena, maju melawan  nuraninya dan
mundur juga melawan nuraninya. Ia sudah berusaha mencari jalan keluar,
meyangkut problemnya maupun menyangkut perasaan dirinya, tetapi kaki
tidak bisa melangkah dan hati seperti digerogoti setiap harinya. Ia
berusaha melupakan, tetapi ia selalu hadir dalam ingatan, ia berusaha
menghibur diri, tetapi hiburan terasa hambar, ia benar-benar tidak
tahu harus apa yang dilakukan


Beliau seorang ibu dengan tiga anaknya perempuan semuanya, mempunyai
dua adik perempuan yang masih gadis dan keduanya tinggal bersamanya,
disekolahkan olehnya sejak SMP. Problem yang menyulitkan ialah bahwa
wanita tersebut masih memiliki seorang ibu berusia 56 tahun, tetapi
oleh karunia Tuhan ibunya masih nampak sangat muda dan cantik, lebih
cantik dibanding anak-anaknya. Orang yang tak kenal, tak percaya bahwa
orang cantik itu ibunya, karena nampak masih sangat muda dan segar. 

Yang menjadi persoalan ialah bahwa ibunya bukan hanya nampak muda dan
cantik, tetapi perangainya juga seperti orang muda. Sebenarnya ketika
itu status ibu masih bersuami seorang pegawai Pemda di sebuah kota
propinsi di Sumatera, yang usianya terpaut 26 tahun lebih muda, tetapi
sekarang sedang pisah ranjang. Suami ibu dulu adalah mahasiswa yang
kost kemudiaan dibiayai kuliahnya oleh ibu tersebut dan selanjutnya
menjadi suaminya yang ke empat. Suami muda itu sekarang sedang
kasmaran terhadap wanita yang lebih sebaya usianya, dan selama pisah
ranjang tersebut, ibu ke Jakarta, tinggal di rumah anaknya yang
pengusaha itu.

Persoalan menjadi lebih rumit karena ibu tua cantik itu sekarang
bersaing dengan dua anak gadisnya dan tiga cucu perempuannya dalam
memikat lelaki. Semua teman dan pacar anak gadis dan cucunya yang
datang wakuncar selalu digoda, dan celakanya, mereka tidak percaya
jika dikatakan bahwa wanita cantik itu calon mertua. Ibu cantik itu
bahkan berhasil merebut calon mantunya untuk diajak kencan dan
jalan-jalan di Jakarta. Babak akhir dari persaingan itu mengakibatkan
semua laki-laki yang tahu duduk soal kemudian lari menjauh dari
gadis-gadis kekasihnya, karena sungkan atau malu. Ibu pengusaha itu
juga menjadi serba salah, malu kepada suaminya, malu kepada calon ipar
dan calon mantunya. Ia tidak bisa mengusir ibu kandungnya, tidak 
mampu pula untuk menanggung malu. Adik dan anaknya juga tidak berani
mengusir ibu dan neneknya, meskipun hatinya mendongkol dan sedih.
Penghuni rumah itu kemudian menjadi pendiam semuanya, kecuali ibu tua
cantik yang tetap kenes.

Menurut ceritanya, wanita pengusaha itu telah berusaha mengatasi
kegalauan perasaanya itu  dengan renang di kolam renang sampai
kelelahan, tetapi hanya sekejap ia dapat melupakan permasalahan di
rumahnya. Ia terkadang nyetir mobil dengan ngebut untuk membuang
kegundahannya, ia juga mencoba membaur dengan alam, dengan makan gelar
tikar di pinggir jalan, ia ingin alamiah seperti orang lain, tetapi
fikiran tetap kusut. Saya merasa benar-benar menjadi orang yang paling
malang di dunia ini, katanya. 

Ketika saya menanyakan kepada ibu itu, Apakah ibu punya perhatian
kepada anak-anak yatim ? Ibu itu menjawab bahwa setiap event-event
tertentu ia selalu mengirimkan ber karung-karung beras ke panti-panti
asuhan. Ketika saya tanyakan ke panti asuhan mana beras itu
dikirimkan, ibu itu mengaku tidak tahu, karena itu secara
administratif diurus oleh pegawai perusahaannya. Ia hanya meneken
persetujuan tanpa tertarik untuk tahu ke panti asuhan mana beras itu
di antar. 
Mendengar pengakuannya yang spontan itu, saya langsung tembak, juga
dengan logika aktual. Ibu ini seperti buku tulis. Buku itu sangat
berguna bagi orang lain, tetapi si buku tak memperoleh apa-apa. Ibu
banyak menolong orang, tetapi ibu sendiri tidak tertolong, ibu
mengobati orang sakit, tetapi ibu sendiri tidak terobati. Anak yatim
yang makan beras ibu boleh jadi makan dengan lahap dan nikmat, tetapi
ibu justeru tidak memiliki selera makan.

Mengapa demikian, karena ibu tidak berhubungan dengan manusia, ibu
tidak memiliki hubungan interpersonal dengan anak-anak yatim di panti
asuhan itu. Ibu hanya berhubungan dengan kertas-kertas yang mati,
sehingga ibu tidak memperoleh umpan balik. Ibu orang yang dibutuhkan
oleh orang lain, tetapi ibu tidak tahu makna hidup, karena ibu tidak
berhubungan dengan mereka sebagai manusia  Coba jika ibu mengenal
siapa yang diberi, mengenal problema anak-anak yatim itu. Jika ibu
mengenal mereka, ibu mungkin akan menjadi tahu bahwa anak-anak yatim
itu boleh jadi sudah tidak membutuhkan beras, karena beras di gudang
panti sudah berlebih, bahkan di jual oleh pengurusnya. Jika ibu
mengenal mereka, mungkin ibu menjadi tahu bahwa yang dibutuhkan oleh
anak-anak panti itu adalah perhatian, kepedulian dan kasih sayang.
Betapa bahagianya jika ibu dapat mengamati perilaku anak yatim yang
semula putus asa, tak memiliki semangat hidup, tak bercita-cita,
setelah memperoleh sentuhan perhatian dari ibu kemudian berubah
menjadi anak yang periang, yang oiptimis, dan berobsesi menjadi yatim
seperti yatimnya Rasulullah. Oh, sungguh betapa hidup ini bermakna,
dan sungguh indah hidup ini. Jika ibu asyik dengan bagaimana
memikirkan orang lain, maka derita ibu di rumah terlupakan dan bahkan
terselesaikan dengan sendirinya.



Salam cinta,
Agussyafii

=======
Tulisan ini dibuat dalam rangka kampanye "Keluargaku, Surgaku"
silahkan kirimkan dukungan dan komentar anda di
http://agussyafii.blogspot.com atau sms 0888 176 48 72





Kirim email ke