Hari Kebangkitan Nasional telah genap berusia 100 tahun. Usia yang mungkin cukup tua dalam melewati sejarah bangsa ini. Kalau kita tengok kebelakang, Budi Utomo didirikan oleh mahasiswa STOVIA dengan pelopor pendiri Dr. Wahidin Sudirohusodo dan Sutomo pada tanggal 20 Mei 1908 yang bertujuan untuk memajukan Bangsa Indonesia, meningkatkan martabat bangsa dan membangkitkan Kesadaran Nasional.
Dan kini telah berjalan 100 tahun, kebangkitan nasional tidak lagi bertujuan untuk memajukan bangsa Indonesia ataupun meingkatkan martabat bangsa akan tetapi telah beralih fungsi yang lebih luas yang salah satu contohnya adalah untuk memupuk rasa persatuan dan kesatuan dikalangan anak bangsa. Ketika pertandingan Piala Thomas dan Uber Cup pada tanggal 13-18 Mei 2008. Betapa gegap gempitanya rakyat Indonesia mendukung tim nasional yang sedang berlaga dipentas itu. Semua rakyat mendukung tim dari Indonesia, tidak hanya itu saja, penonton yang didalam stadion pun dengan semangat dan kompak menyebut-nyebut In-Do-Ne-Sia...secara kompak dan berulang-ulang. Secara tidak sadar tumbuh jiwa nasionalisme didalam tubuh kita. Bahwa dengan nasionalisme kita bisa menjadi nasib dan sepenanggungan. Kita bisa menjadi bersaudara walau kita tidak mengenal latar belakang orang tersebut. Nasionaliesme dalam artian yang luas merupakan harga mati. Dan ini tidak bisa dipungkiri lagi. Untuk menjadi seorang nasionalis harus bercermin kepada sejarah bangsa ini. G.W.F. Hegel, seorang filsuf idealis Jerman abad 19, berkata: “Pelajaran yang manusia dapatkan dari sejarah adalah bahwa manusia tidak pernah belajar dari sejarah.” Kita perlu rendah hati untuk selalu belajar dari sejarah, bukan untuk dikungkung oleh tradisi yang diwariskan oleh sejarah, melainkan untuk berhati-hati agar tidak mengulang kesalahan yang sama dan untuk maju di dalam perjalanan sejarah. Dengan sikap yang demikian inilah, maka kita akan dapat melihat bahwa dalam zaman yang terus berubah, ada nilai-nilai penting yang dapat kita pelajari. Dengan demikian, ketika kita melihat ada era baru yang disebut globalisasi di dalam perjalanan sejarah, kita bisa menghadapinya dengan badan yang tegap dan mata yang menatap ke depan dengan optimis. Sebaliknya, tanpa kita mengerti perjalanan sejarah, kita cenderung untuk jatuh ke salah satu ekstrem yang sebenarnya telah dibuktikan gagal oleh sejarah. Dalam artikel ini, nilai penting yang hendak saya kupas adalah nasionalisme. Ir. Soekarno, presiden pertama kita, sebenarnya telah mengupas banyak hal yang berharga tentang nasionalisme. Di salah satu pidato beliau dalam buku yang berjudul “Filsafat Pancasila Menurut Bung Karno”, Bung Karno menjelaskan beberapa hal mendasar tentang konsep nation atau bangsa. Beliau menjelaskan bahwa tiga syarat mutlak suatu negara adalah batasan teritori yang tegas, adanya rakyat, dan adanya pemerintahan pusat yang ditaati oleh seluruh rakyat yang berdiam di atas teritori yang jelas terbatas itu.1 Mengutip Ernest Renan, Bung Karno juga menjelaskan bahwa satu bangsa adalah satu jiwa, une nation est un ame. Dan yang mengikat kumpulan manusia menjadi satu jiwa adalah: (1) Keinginan yang kuat untuk hidup bersama (Le desir d’etre ensemble - Ernest Renan); (2) Satu persamaan karakter atau watak, yang timbul dari persatuan pengalaman (Otto Bauer); dan (3) Satu kesatuan wilayah geopolitik (Ir. Soekarno).2 Di atas dasar konsep nation ini, khususnya dari pemikiran Otto Bauer, kita melihat bahwa salah satu yang menyebabkan jiwa nasionalis muncul adalah persamaan nasib, persamaan pengalaman. Bangsa Indonesia pernah bersama-sama jaya dalam kejayaan Sriwijaya dan Majapahit, dan juga pernah bersama-sama menderita beratus-ratus tahun dalam penjajahan. Kembali di sini kita melihat pentingnya kita mengenal sejarah. Kita yang lahir di akhir abad 20 tidak mengalami masa-masa kejayaan maupun masa-masa sengsara tersebut. Bukankah tidak mungkin kita memiliki jiwa nasionalisme yang kokoh jika kita tidak mengenal dengan jelas sejarah bangsa kita? Terlebih lagi, bangsa Indonesia adalah bangsa yang plural dan multikultural. Jika pemuda-pemudi Indonesia yang plural ini tidak memiliki pengenalan sejarah yang baik tentang bangsa Indonesia, jelas perpecahan akan timbul. Penonjolan kesukuan atau agama akan menimbulkan perpecahan. Inti masalahnya adalah karena kita tidak merasa bahwa kita ini SATU. Jika kita sungguh-sungguh mengasihi bangsa ini, kita harus banyak belajar dari sejarahnya. Mari kita memiliki semangat yang sama seperti pemuda-pemudi Indonesia tahun 1928 yang memiliki semangat nasionalisme yang patut dikagumi. Coba bandingkan dengan pemuda-pemudi Indonesia saat ini yang malas belajar sejarah, kerjaannya main Computer Games melulu tanpa tujuan hidup. Hai pemuda-pemudi Indonesia, sadarlah bahwa Anda adalah orang Indonesia! Sampai kapan Anda mau tidur? Kapan Anda sungguh mempunyai jiwa Indonesia? Percuma kita ber-KTP Indonesia tanpa kita mempunyai jiwa seorang Indonesia! Apa yang tidak kelihatan jauh lebih penting dan esensial daripada yang kelihatan!3 Sekarang kita melihat arus zaman di mana kita hidup pada saat ini. Era ini disebut orang era globalisasi. Disebut globalisasi karena dunia ini sedang mengarah menjadi satu dunia yang global. Didukung oleh kemajuan teknologi informasi dan transportasi, batasan-batasan wilayah tidak lagi menjadi persoalan. Bangsa-bangsa yang dulunya cenderung terisolasi satu sama lain atau yang hanya mempunyai wilayah kerjasama dengan negara tetangga yang dekat, sekarang dapat berelasi ke seluruh negara di dunia dengan mudahnya. Nah, di dalam zaman yang batasan negara tidak lagi menjadi persoalan, apakah nasionalisme masih relevan? “Buat apa sih menonjolkan negara? Toh saya pindah-pindah terus Indonesia-Singapura! Jangan fanatik sama negara sendiri lah!” Apakah jiwa nasionalisme menghambat globalisasi? Apakah arus globalisasi mengancam eksistensi nations? Menghadapi arus globalisasi ini, ada dua macam respons ekstrem yang dapat diamati. Ekstrem pertama adalah mutlak terbawa arus globalisasi dan mungkin bisa disebut menjadi disnationalist. Ekstrem kedua adalah menutup diri karena curiga berlebihan terhadap globalisasi, dan akhirnya menjadi chauvinist. Kedua ekstrem ini timbul karena alasan yang sebenarnya wajar. Penganut ekstrem pertama melihat banyak hal yang baik yang bisa didapat dari arus globalisasi. Penganut ekstrem kedua melihat banyak hal yang baik yang dikhawatirkan akan terbuang jika terbawa arus globalisasi. Tiap penganut mempunyai alasan yang baik. Tapi orang yang bijaksana akan berkata: “Adalah baik kalau engkau memegang yang satu dan juga tidak melepas yang lain.4” Lao Tzu (551 - 479 SM), filsuf Taoist dari China, juga berkata: “Ketika kamu berdiri dengan kedua kakimu di atas tanah, keseimbanganmu akan tetap terjaga.5“ Ada yang menarik dari beberapa diskusi yang saya ikuti di salah satu forum di dunia maya. Salah seorang anggota forum mempertanyakan masalah jiwa nasionalisme. Katanya jiwa nasionalisme itu tidak bisa membuat masyarakat menjadi makmur, jiwa nasionalisme itu hanya kamuflase saja yang dilakukan pemerintah agar bisa membodohi rakyatnya. Sampai-sampai kawan ini mempertanyakan apa yang telah negara berikan untuknya sebagai warga negara Indonesia. Indonesia negara besar, penduduknya besar, tanah airnya sangat makmur, kekayaan alamnya melimpah, tetapi kenapa masih dikategorikan negara miskin, penduduknya masih banyak yang bodoh, kelaparan terjadi dimana-mana, masyarakatnya temperamental dll ungkapan-ungkapan lainnya yang mungkin kalau dimasukan dalam artikel ini tidak tahu sebagaimana panjangnya nantinya. Intinya kawan ini tipis jiwa nasionalisme, mungkin tidak tipis lagi tetapi sudah tidak ada lagi akibat kekecewaan dia terhadap penyeleraan negara ini (pemerintah). Apakah ini yang dimaksud dengan terbawa arus globalisasi yang mana akan mengakibatkan disnationalist?. Kebetulan kawan ini sedang bekerja diluar negeri tetapi masih memiliki saudara di Indonesia. Dengan perasaan rendah diri saya diforum itu mempertanyakan beberapa hal yang harus dijawabnya sebelum dia berkoar-koar mengenai masalah nasionalisme. Ada beberapa pertanyaan yang membuat dia tidak bisa menjawabnya. Yaitu 1). Ketika dia dilahirkan waktu dulu yang pertama menolong dia adalah orang mana? 2). Ketika dia kecil dulu dia meminum susu yang bersubsidi dari pemerintah, bisa tidak dia menghitung berapa dana subsidi pemerintah yang dia makan lewat susu tersebut. 3). Ketika dia masuk sekolah yang mengajarkan dia membaca dan tulis, yang mengenalkan Ilmu pengetahuan orang dari mana? 4). Lalu buku yang dia beli juga buku yang disubsidi pemerintah lewat subsidi kertas, bisa tidak dia menghitung berapa uang pemerintah yang dimakannya lewat subsidi kertas? 5). Ketika dia makan nasi, nasi yang dimakannya juga nasi yang disubsidi pemerintah lewat subsidi pupuk dan bibit. Bisa tidak dia menghitung berapa jumlah uang negara yang dimakannya ketika dia makan nasi itu? 6). Ketika dia mengendarai motor atau mobil, BBM yang dipakainya juga BBM yang bersubsidi, bisa dia menghitung uang pemerintah yang dimakannya lewat subsidi BBM? Jadi ungkapan bahwa apa yang telah pemerintah berikan kepada dia tidak ada itu merupakan suatu kebohongan, dia secara tidak sadar hidup di Indonesia pemerintah akan memberikan beberapa fasilitas baik apakah dalam bentuk subsidi maupun fasilitas umum lainnya. Jadi tidak lagi setelah 100 tahun Kebangkitan Nasional ini kita mempertanyakan "Apa yang telah negara berikan ke kita", tetapi sudah berubah menjadi "Apa yang akan kita perbuat untuk negara ini?" Pekanbaru, 23 Mei 2008, Pas ketika BBM naik dari Rp. 4.500 menjadi Rp. 6.000 artikel aslinya http://rizal_muhammad.blogs.friendster.com/isi_hatiku/2008/05/memaknai_hari_k.html Kenaikan BBM NO............ Tarik Subsidi BBM YES.......... >> Jangan Sekali-sekali berpikir untuk berhenti berpikir. Silakan Kunjungi friendster gue http://profiles.friendster.com/17090780 >>Jangan Sekali-sekali berpikir untuk berhenti berpikir<
