*80% Hoki, 20% Kerja Keras
*by (MTA) Made Teddy Artiana
http://semarbagongpetrukgareng.blogspot.com/


Hampir disetiap pertemuan dengan seseorang yang saya anggap telah sukses,
selalu saja ada godaaan untuk melontarkan pertanyaan berikut. Tips nya apa
nih Pak supaya sukses/kaya seperti Bapak ? hampir dapat dipastikan jawaban
yang selalu saya terima adalah : bekerja keras. Sebagian orang tentu
sependapat dengan saya, bahwa jawaban itu klise dan standard banget.
Celakanya, walaupun berulang kali menerima jawaban yang itu-itu saja,
rupanya saya tidak pernah kapok. Hingga suatu saat, dalam sebuah kesempatan
aneh, saya berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan seorang sahabat
yang notabene ada pengusaha yang sangat sukses. Tetapi lucunya ketika
pertanyaan yang sama saya lontarkan, agak mengejutkan juga ia menjawab
dengan sangat berbeda. Menurut nya seorang yang berada pada golongan kaya,
menengah atau miskin dapat dilihat dari ciri-ciri sebagai berikut.

80% hoki, 20% kerja keras adalah ciri orang kaya
50% hoki, 50% kerja keras adalah ciri orang menengah
20% hoki, 80% kerja keras adalah ciri orang miskin

Jadi rumusan itu dapat diartikan begini, jika kerja keras Anda itu 80%
tetapi hanya menghasilkan sedikit, itu berarti hoki(baca : keberuntungan)
Anda hanyalah 20% dan Anda sudah pasti berada pada lapisan 'orang miskin'.
Nah jika, kerja dan hasil Anda sebading, dalam artian 50% kerja, 50% hoki,
dapat dipastikan Anda berada pada lapisan kedua, alias kelas menengah. Hal
yang sama berlaku pada lapisan teratas atau golongan orang kaya.

Pertama kali ketika mendengar formula itu saya pribadi spontan membantah
nya. Kok bisa ? kira-kira begitu kata-kata pembuka yang saya gunakan.
Apalagi jika mendengar kata 'hoki' serta merta pikiran saya terarah pada
sesuatu yang bersifat 'bawaan' atau 'anugerah' atau 'dari sononya' alias
nggak bisa dipaksain. Wong udah nggak hoki gitu loh…kira-kira demikian.
Sedari dulu memang saya agak alergi dengan satu kata itu. Tetapi jujur saya
tidak punya nyali untuk berdebat dengan 'orang kaya raya' yang sekarang
duduk di depan hidung saya ini. Ngedumel dalam hati adalah pelampisan
terbaik disaat-saat seperti ini. Namun syukurlah, menurut sahabat saya
tersebut, hoki itu bisa diciptakan. Bisa direkayasa. Oh ya ? Sure ! Langkah
pertama, ketahui dulu apa sih yang mengundang keberuntungan itu. Langkah
kedua, berubah. Langkah ketiga, membiasakannya. Mendidik diri untuk terbiasa
menerapkan hal itu hingga environment hoki itu terekam di alam bawah sadar
kita dan pada saat diperlukan …jreeeeeeng!!!…otomatis nongol kepermukaan.

Sahabat saya itu kemudian memberikan contoh yang sangat sederhana. Naik
sepeda. Waktu baru belajar, minta ampun susahnya, babak belur, benjut dan
sebagainya itu sudah biasa. Pernah bertemu orang yang baru belajar naik
sepeda yang tidak pernah jatuh ? Rasanya tidak pernah. Tetapi segalanya
menjadi berbeda, ketika kita sudah menguasai sepeda itu. Kini pertanyaanya
adalah pernah bertemu orang yang telah mahir bersepeda dan berpikir keras
setiap ingin mengayuh pedal nya ? Jawabannya persis sama. Rasanya tidak
pernah.

Demikianlah juga dengan kebiasaan-kebiasaan yang 'berkuasa' untuk mengundang
hoki. Lagi-lagi menurut sahabat saya itu, ia menganjurkan untuk senantiasa
berlatih hingga ketrampilan mengundang hoki itu sungguh-sungguh terekam dan
menjadi kebiasaan yang mendarah daging di alam bawah sadar kita. Ditanggung
kerja keras Anda tersisa hanya 20%, karena yang 80% sudah di handle oleh
binatang bernama 'hoki'.

Bicara soal hoki, tiba-tiba saja saya teringat sebuah quote milik Thomas
Lanier Williams III atau yang lebih dikenal dengan nama Tennessee Williams.
Penulis sandiwara kelas dunia yang sangat tersohor disekitar tahun 1930-1983
dan telah banyak menerima penghargaan. Beliau sempat sedikit berceloteh
tentang hoki. "Luck is believing you're lucky." Ini good news bagi saya.
Karena menurut saya, kalimat ini dapat dijadikan starting point yang cukup
bagus untuk mulai menarik hoki kepangkuan kita. Untuk mengundang hoki
datang, sangat simple, yakni mempercayai bahwa kita beruntung.

Satu hal lagi, ijinkan saya sedikit mengutip sebuah kalimat dari seorang
yang paling bijaksana yang pernah hidup didunia ini, Raja Solaiman, namanya
Dalam sebuah syair beliau pernah menulis : "Percuma saja bekerja keras
mencari nafkah, bangun pagi-pagi dan tidur larut malam; sebab TUHAN
menyediakannya bagi mereka yang dikasihi-Nya, sementara mereka sedang tidur.
"

Menggelitik memang. Apakah segalanya ini terlalu disederhanakan ? Ataukah
memang demikian sederhana, hanya saja karena campur tangan kita ini,
manusia-manusia yang sering menganggap dirinya begitu pandai, akhirnya malah
merumitkan segala yang sesuatu.

Lepas dari itu semua, siapapun di dunia ini, termasuk sahabat saya itu,
tentu bebas memformulasikan apapun yang dianggapnya resep 'cespleng' untuk
sukses. Dan mereka sesuai dengan frekuensinya akan menarik realitanya
masing-masing. Bagaimana dengan Anda ? Ingin coba resep sahabat saya ? Kalau
boleh jujur saya pribadi tengah menerapkan formula hoki-hokian itu. Semoga
dalam 90 hari kedepan saya telah merasakan hasilnya. Seperti kata pepatah
wong londo...We never know, until we try. (***)

Kirim email ke