Dear all,
Sekedar sharing ide untuk mencerdaskan kehidupan bangsa :



Transformasi Diknas Dengan Sistem Sekolah 2.0

 

Oleh  :  HEMAT DWI NURYANTO  *)

 

Datangnya tahun
ajaran baru selalu menyita perhatian dan merepotkan segenap bangsa. Persoalan
pendidikan nasional (diknas) semakin rumit dan menjadi lingkaran setan. Usaha 
untuk
meningkatkan mutu diknas sering kandas karena terkendala oleh ekonomi biaya
tinggi di lembaga pendidikan. Di mata rakyat perangai lembaga pendidikan
semakin kapitalistik dan kejam. Angin surga sekolah gratis yang ditiupkan oleh 
politisi
semakin bikin muak rakyat. Faktanya, berbagai pungutan wajib yang irasional
semakin marak di tahun ajaran baru. Mestinya berbagai pungutan itu disikat
habis. Yang lebih memprihatinkan lagi langkah pemerintah untuk membenahi diknas
belum transformatif dan progresif sesuai dengan kemajuan jaman. Padahal, 
fenomena
globalisasi yang ditandai oleh kekuatan konvergensi teknologi informasi dan
komunikasi (TIK) mestinya dijadikan faktor mendasar untuk mentransformasikan
diknas. Pentingnya visi pemerintah membangun sistem yang mendukung terwujudnya
lingkungan pembelajaran generasi baru alias
Next Generation Learning Environment. Yaitu dengan cara pemanfaatan
teknologi TIK terkini untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, administrasi,
serta interaksi dan kolaborasi antara guru, siswa, orangtua, komunitas, dan 
sekolah
yang lebih efektif dan murah. 

Jika kita
refleksikan dengan perkembangan TIK global dewasa ini, maka bisa digambarkan 
tiga
kategori atau era sekolah. Pertama, Sekolah Konvensional, dengan ciri sudah
mulai memanfaatkan Teknologi Informasi (TI) namun masih sederhana misalnya baru
sebatas memanfaatkan aplikasi office (word processor, spreadsheet,
presentation) untuk menggantikan mesin ketik manual di Laboratorium Komputer
sekolah dan di bagian administrasi sekolah. Keadaan ini disebut pemanfaatan TI
pada era Sekolah 1.0. Kedua, Program Jardiknas dari Depdiknas mulai
diperkenalkan. Sekolah mulai memasuki era pemanfaatan internet. Lalu program
pembelian hak cipta buku yang dilanjutkan dengan penyediaan e-Book mendorong 
sekolah memasuki era
baru yaitu kategori Sekolah 1.5. Pada era Sekolah 1.5. sekolah-sekolah mulai
memasuki tahapan pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) secara
serentak. Namun potensi TIK tersebut juga belum dimanfatkan secara optimal. 
Yaitu
masih sebatas sebagai alat bantu tulis-menulis pada bagian administrasi
sekolah, mengajar office di Laboratorium Komputer dan mengunduh e-Book. 
Seharusnya TIK bisa dimanfaatkan
lebih luas dari itu, yaitu untuk meningkatkan kualitas pembelajaran,
administrasi, interaksi dan kolaborasi antara guru, siswa, orangtua, komunitas
dan sekolah. 

Ketiga, perkembangan internet telah mengarah
ke teknologi Web 2.0 yang ditandai diantaranya berkembangnya sistem berbasis
jejaring sosial (social networking).
Juga diwarnai teknologi AJAX yang memungkinkan berjalannya aplikasi web seperti
aplikasi desktop, berkembangnya teknologi multimedia baik audio dan video
streaming, dan lain-lain. Sistem di sekolah yang memanfaatkan kemajuan internet
diatas disebut Sistem Sekolah 2.0. Sistem tersebut dibangun untuk menunjang 
penyelenggara
satuan pendidikan tingkat dasar dan menengah dengan menerapkan  manajemen 
berbasis sekolah (MBS) sesuai
Standar Nasional Pendidikan. Sekolah 2.0 mengintegrasikan Portal Sekolah dengan
Layanan Pembelajaran seperti e-Academic, e-LearningManagement,
e-Authoring&Learning, e-Library, dan Layanan Administrasi Sekolah seperti
e-Filling, e-Finance, e-Pegawai,
e-Perlengkapan serta sistem
untuk memantau kegiatan di
sekolah secara keseluruhan.


Signifikansi transformasi diknas dengan
Sistem Sekolah 2.0 bisa meningkatkan kinerja guru secara progresif. Forum
Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dalam menyusun materi ajar secara
kolaboratif juga bisa terwujud dengan baik. Yang pada gilirannya forum itu bisa
memperkuat arus World Wide Innovative
Teacher yang mereformasi pendidikan secara cepat. Sistem Sekolah 2.0 juga
mempermudah pendekatan kontekstual atau Contextual
Teaching and Learning (CTL) di kelas. CTL merupakan konsep belajar yang
membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia
nyata. Serta mendorong siswa membuat keseimbangan antara pengetahuan dan
ketrampilan yang dimilikinya serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
sehingga pembelajaran menjadi lebih bernilai tambah. Dalam kelas yang
berkarakter CTL, tugas guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator dan
pendorong daya inovasi dan kreatifitas siswa. 

Sistem Sekolah 2.0 juga bisa
mereformasi Lembar Kerja Siswa (LKS) atau 
Buku Kerja Siswa (BKS) lebih adaptif dan komprehensif dengan
perkembangan IPTEK. Siswa bisa membuat LKS kedalam Blog siswa, dengan demikian
materi dan tampilannya lebih sempurna. Hingga saat ini LKS masih jauh dari
ideal, karena hanya berisi materi dan soal-soal. Selain itu ditinjau dari
segi  penyajiannya pun kurang menarik.
Mestinya LKS bisa mengembangkan aktifitas kreatif yang melibatkan imajinasi,
intuisi dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen, orisinal, dan
rasa ingin tahu. Gambaran masa depan dengan Sekolah 2.0 salah satunya adalah
penggunaan LKS yang diintegrasikan dengan Web 2.0 sebagai inovasi dalam dunia
pendidikan.

Untuk mengambil manfaat potensi kemajuan di atas secara lebih luas, maka 
dirancang
pengembangan sejumlah aplikasi yang mendukung. Yakni aplikasi yang
menggabungkan sistem portal sekolah (e-SchoolPortal), sistem informasi layanan
sekolah (e-SchoolService), sistem informasi administrasi sekolah
(e-SchoolAdministration), Sistem Informasi Pemantauan Sekolah
(e-SchoolMonitoring). E-SchoolPortal
merupakan gerbang untuk memulai interaksi bagi seluruh pemangku kepentingan
sekolah (guru, siswa, orangtua, komunitas, sekolah). Di dalam portal sekolah
terdapat seluruh informasi sekolah maupun kelas, blog guru, blog siswa dan
fasilitas untuk akses aplikasi sekolah lainnya. E-SchoolService mencakup sistem 
informasi operasional pembelajaran
seperti sistem informasi akademik (e-Academic), sistem informasi perpustakaan
(e-Library), sistem informasi manajemen pembelajaran (e-LearningManagement),
dan sistem informasi untuk pengembangan materi ajar dan pengajaran 
(e-Authoring&Learning).
E-SchoolAdministration mencakup
sistem operasional administrasi seperti sistem informasi keuangan sekolah
(e-finance), sistem informasi pengarsipan (e-filling), sistem informasi
kepegawaian (e-pegawai) dan sistem informasi perlengkapan/aset
(e-perlengkapan). E-SchoolMonitoring
merupakan sistem informasi yang dapat digunakan untuk memonitor yang berkaitan
dengan pembelajaran (akademik siswa, perpustakaan, arsip dan learning content) 
dan memonitor
administrasi (perlengkapan, keuangan dan kepegawaian).

Dalam EFA Global Monitoring Report 2005, UNESCO
menyatakan bahwa kualitas pendidikan salah satunya ditentukan oleh manajemen
sekolah. Oleh karena itu penerapan Sistem Sekolah 2.0 merupakan wahana untuk
mewujudkan pendidikan yang berkualitas, murah dan transparan. Keunggulan lain 
dari
Sistem Sekolah 2.0 adalah tersedianya fasilitas e-authoring&learning berbasis 
Crayonpedia (sebuah fasilitas pengembangan materi ajar secara
kolaboratif dan terbuka yang dapat diakses di www.crayonpedia.org) dimana guru,
ataupun pihak pendidik lain dapat mengunggah (upload) ide dan hasil karyanya, 
yang berupa materi ajar, ke dalam
fasilitas tersebut. Fasilitas ini memberi kesempatan dan kemudahan bagi para
pendidik dan yang berminat terhadap pendidikan untuk berpartisipasi dan
menyumbangkan pemikiran bagi pengembangan pendidikan. Dengan adanya fasilitas
ini, semakin banyak materi dan informasi yang berkualitas tinggi yang dapat
digali oleh para pelajar. Dan sebaliknya, para guru yang dulunya pasif menjadi 
proaktif
dalam menyalurkan ide dan mengembangkan profesinya. Jika Sistem Sekolah 2.0 
dijalankan
secara serius akan semakin banyak lembaga pendidikan yang terdongkrak standarnya
sehingga setara dengan SBI (Sekolah Bertaraf Internasional). Penting untuk
dicatat, bahwa selama ini betapa rumit dan mahalnya investasi yang dikeluarkan 
jika
suatu sekolah ingin berstatus SBI dengan standard tertentu. Seperti halnya di
dunia industri ada ISO, maka di dunia pendidikan ada International
Baccalaureate (IB) dari IBO (International Baccalaureate Organization) yang
berpusat di Genewa. Sistem Sekolah 2.0 sangat menjanjikan dalam menggapai  
standar internasional diatas.

*) Penggerak IGOS Center, CEO ZamrudTechnology.


http://hdn.zamrudtechnology.com
www.zamrudtechnology.com
www.crayonpedia.org
www.igoscenter.org



      

Kirim email ke