Salam untuk Anda semua,

Ya, saya belum pernah baca novelnya. Tapi saya pernah menyaksikan kisahnya 
melalui layar kaca sekitar tahun 1987. Lumayan panjang durasinya hampir 3 jam, 
dan waktu itu saya menonton hingga jam 2 dini hari :)
Ceritanya memang asyik dan dan sulit terlupakan (apalagi waktu itu TVRI belum 
ada iklan hehehe), heroik sekali, dan happy ending. Kalau tidak salah jean 
valjean sempat menjadi Maire (Walikota) ... benar ?

Salam gemilang

AGUNG WIDYATMOKO

http://benedikawidyatmoko.wordpress.com

________________________________
To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; 
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; 
[email protected]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL 
PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL 
PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
From: [EMAIL PROTECTED]
Date: Tue, 8 Jul 2008 22:40:24 +0700
Subject: [Bicara] Les Miserables dan Harga Seorang Manusia





















Les Miserables dan Harga Seorang Manusia
By MTA (Made Teddy Artiana)
http://semarbagongpetrukgareng.blogspot.com/



"Mati bukanlah soal; yang mengerikan adalah tidak hidup"
(Jean Valjean)


                Laki-laki yang dipenjara karena persoalan sepele itu memang 
bernasib malang. Hukum mengganjarnya dengan tidak adil, mencuri hanya karena 
ingin menyelamatkan keluarganya yang kelaparan membuat dirinya terlibat akan 
konflik moral berkepanjangan. 19 tahun dipenjara untuk sebuah roti dan beberapa 
kali usaha melarikan diri. Jean Valjean, lelaki itu keluar dari penjara dengan 
api dendam yang berkobar. Diperlakukan semena-mena, hukum yang kaku, aturan 
yang dingin, hanya secuil dari segudang ketidakpuasaan akan hidup yang 
dirasainya. Bertemulah ia dengan seseorang, Uskup Myriel, nama orang itu. 
Mantan narapidana, yang tidak diterima oleh masyarakat itu, akhirnya diterima 
bernaung di rumah Sang Uskup. Tidak hanya sekedar diterima, ia diperlakukan 
sebagai layaknya seorang manusia. Tetapi seolah air susu yang dibalas dengan 
air tuba, Valjean mencuri bahkan memukul Sang Uskup hingga pingsan. Perhiasan 
lilin perak itu pun diambilnya dari tangan 'pahlawan yang menolongnya'. Tetapi 
ternyata hidup, tidak seperti hukum-hukum dunia. Hidup adalah hakim yang adil. 
Valjean tertangkap. Gilanya, Uskup Myriel malah membela pencuri itu. Orang tua 
yang bijak itu malah berdalih, bahwa ialah yang memberikan itu pada Valjean, 
bahkan meminta maaf, karena merasa pemberiannya itu tidak cukup. Dia justru 
diselamatkan oleh orang yang ia aniaya. Kejadian ini menggoncangkan jiwa 
Valjean. Gurun yang membara itu kini telah diguyur hujan lebat. Inilah awal 
cara pandang baru yang dimiliki Valjean. Benih perubahan itu pun mulai tumbuh. 
Walau tidak mudah, dan kadang terjatuh, ia tetap bertarung. Seolah petinju yang 
babak belur dihajar lawan, namun Valjean memutuskan tidak beringsut dari ring 
tanding. Seakan mendapatkan sebuah jubah baru, ia berusaha keras keluar dari 
masa lalu yang suram. Bukan persoalan sepele. Bayangan raksasa itu laksana 
kulit yang selalu menempel pada tubuhnya. Tidak mungkin lari. Sepanjang hidup 
ia terlibat pergumulan untuk "hidup benar tapi menderita, ataukah hidup 
sebaliknya". Akhirnya Jean Valjean pun dapat mengakhiri pertarungan itu dengan 
baik.



Bagi sebagian orang penggemar novel dan film drama, cerita di atas pastilah 
tidak asing lagi. Les Miserables karya Victor Hugo memang fenomenal. Tidak 
terhitung bahasa yang menterjemahkan novel ini. Belum lagi film adaptasinya 
yang berjumlah puluhan. Dan kini, jangankan dikalangan kutu buku, demikian 
banyak seminar dan motivator terinspirasi akan novel tahun 1862-an itu, dan 
mengangkatnya kehadapan para audiens. Bagi Anda yang belum pernah membaca novel 
karya Victor Hugo ini, saya sarankan untuk segera membacanya. Atau jika membaca 
merupakan kegiatan yang tidak terlalu Anda sukai, ada baiknya Anda mencari 
versi film nya. Dari semua orang yang pernah menonton ataupun membaca Les 
Miserables, hampir semua sepakat, bahwa intisari dari novel itu adalah betapa 
berharganya nilai manusia. Bicara soal harga manusia, Prof. Norweigh, seorang 
pakar kimia dan komputer, dalam sebuah jurnal kedokteran 'iseng' menghitung 
harga seorang manusia. Mengejutkan, jika diuangkan, total harga oragan tubuh, 
enzim, kelenjar dll dari manusia itu total berharga kurang lebih USD 85 milyar. 
Bahkan untuk sebuah zat penumbuh rambut saja, dengan perkiraan dibutuhkan orang 
sampai 50 th sebanyak 20 gram, satu gramnya berharga USD 2 juta ! Jadi jangan 
pernah pandang remeh rambut Anda, entah ia keriting, lurus, tipis, berombak 
atau apapun, karena harganya mahal. Ada sesuatu yang menarik dari penyelidikan 
sang profesor, yaitu satu-satunya komponen yang tidak dapat dimasukkan dalam 
perhitungan itu adalah nyawa manusia. Jadi harga semahal itu untuk tubuh, 
jeroan-jeroan dan berbagai bahan kimia didalam tubuh kita. Memang belum pernah 
ada ilmuwan yang 'berani' menghitung harga sebuah nyawa manusia, mungkin karena 
memang hanya itu satu-satunya item yang tidak bisa dihargai alias tak 
terkalkulasi lagi. Berarti jika ditotal-total, kita ini, atau lebih tepanya 
hidup Anda dan saya itu jauh..jauh..jauh lebih berharga dari USD 85 milyar. 
Percaya atau tidak itu benar adanya. Tetapi harga yang demikian seolah jadi 
tidak berharga jika kita melihat banyak orang memilih untuk melacurkan atau 
menjual diri, atau terikat akan berbagai kebiasaan yang merendahkan harkat dan 
martabatnya, atau bahkan menukar dirinya dengan uang, jabatan, posisi yang dia 
pandang sangat berharga. Ironis memang, tetapi itulah manusia. Pernah seorang 
bijak berkata pada saya demikian, "Tuhan itu tahu persis betapa berharganya 
diri kita, setan pun tahu betapa mulianya kita, satu-satunya yang bodoh itu ya 
kita sendiri. Manusia sering tidak tahu betapa berharganya dirinya". Saya rasa 
pendapat beliau 100% benar adanya. Nah, balik lagi ke Les Miserables nya Victor 
Hugo, Uskup Myriel rupanya termasuk segelintir manusia yang tahu betapa 
berharganya manusia, betapapun hitam jejak langkah yang ditinggalkannya di masa 
lalu. Dan rupanya sudut pandang yang demikian, punya kuasa untuk mengubah 
(sebenarnya saya lebih suka memakai kata 'mengingatkan') pribadi seorang 
Valjean. Inilah yang membuat Valjean memutuskan untuk 'hidup' dan bukan 
'sekedar tidak mati'. Untuk bertarung sekuat tenaga dan menang, bukan 
meninggalkan gelanggang pertandingan dengan kibaran bendera putih setengah 
tiang.





Bagaimana dengan Anda dan saya ? Apakah kita sudah berada dalam keadaan 'hidup 
sebenar-benarnya' ataukah kita sebenarnya sudah tidak hidup, bahkan jauh hari 
sebelum kita divonis mati ? Sepertinya jawaban atas pertanyaan itu, sedikit 
banyak akan melibatkan sebuah pertanyaan lagi, tentang seberapa paham kita akan 
harga kita sebagai manusia. Saran saya, merenungkan jawaban itu ditengah-tengah 
sebuah pemakaman akan cukup membantu kita menjawab pertanyaan-pertanyaan 
tersebut. Akhir kata, percayalah apapun keadaan Anda saat ini, Anda dan saya 
sangat berharga dimata-Nya. (***mta***)























_________________________________________________________________
Manage multiple email accounts with Windows Live Mail effortlessly.
http://www.get.live.com/wl/all

Kirim email ke