Hore,
Hari Baru!
Teman-teman. 

Salah satu keluhan yang paling sering kita lontarkan adalah tentang 
keterbatasan waktu. Kita merasa seolah-olah pekerjaan yang harus 
diselesaikan itu terlalu banyak. Sehingga hal-hal yang seharusnya 
selesai, malah terbengkalai. Orang-orang positif memandang 
keterbatasan waktu sebagai sinyal baginya agar benar-benar 
memanfaatkan waktu yang tersedia untuk hal-hal yang bermanfaat. 
Mereka memastikan bahwa waktunya digunakan dengan efektif, untuk hal-
hal yang positif secara produktif. Sedangkan, orang-orang negatif 
memandang keterbatasan waktu sebagai penghalang, sekalian alasan 
untuk tidak menyelesaikan tanggungjawabnya. Pertanyaannya sekarang 
adalah; apakah memang pekerjaan kita yang terlalu banyak, ataukah 
kita yang tidak benar-benar menggunakan waktu yang kita miliki untuk 
hal-hal yang berguna?

Jam sembilan pagi, seorang eksekutif sedang mengadakan pertemuan 
diruang meeting. Sekitar setengah jam kemudian, terdengar suara dua 
orang memasuki ruang meeting lain yang letaknya bersebelahan. 
Sebenarnya, system penyekat yang memisahkan kedua ruang meeting itu 
sudah cukup bagus, sehingga kalau orang-orang dikedua ruang itu 
berdiskusi secara normal, suaranya tidak akan tembus keruang 
sebelahnya. Namun, sering orang datang ke ruang meeting tidak untuk 
meeting, melainkan untuk membicarakan hal-hal yang tidak penting. Dan 
itulah yang terjadi dengan orang-orang yang berada diruang meeting 
sebelah itu. 

Sekarang sudah jam sepuluh. Tapi, pembicaraan dari ruang sebelah 
belum juga menandakan pembahasan sesuatu yang berhubungan dengan 
pekerjaan. Alih-alih, mereka berdua itu asyik-asyik saja mengobrol 
ngalor ngidul sambil sesekali cekikikan dan cekakakan. Jam makan 
siang hampir tiba. Kandungan ceritanya masih seperti acara gossip 
program infotainment. Hebat sekali. Disaat orang-orang normal bekerja 
secara produktif, mereka mengambil langkah sebaliknya. Jika anda 
mengira bahwa kisah ini sekedar rekayasa belaka, anda keliru. Dan 
dalam kejadian itu, sang eksekutif adalah atasan langsung dari salah 
satu orang yang berada diruang sebelah itu. Permasalahannya bukanlah 
apakah kita bisa bersembunyi dari atasan atau tidak. Bukan pula 
apakah waktu itu disia-siakan dengan mengobrol yang tidak jelas atau 
melakukan hal lain yang kurang bermanfaat. Melainkan apakah kita 
benar-benar bertanggungjawab dengan waktu kita? 

Ini sangat ironis. Karena, kita seringkali mengatakan kepada atasan 
bahwa kita tidak mempunyai cukup waktu untuk mengerjakan begitu 
banyaknya tugas ini dan itu yang dibebankan perusahaan kepada kita. 
Seperti yang juga dikeluhkan oleh si perumpi yang ketahuan atasannya 
tadi. Dia mengeluhkan terlalu banyaknya pekerjaan; sementara disaat 
seharusnya dia bekerja, dia malah menyia-nyiakan waktunya untuk 
sesuatu yang sama sekali tak berguna buat perusahaan yang 
membayarnya. Tidak juga bisa menjadikan dirinya tambah pintar, atau 
lebih terampil.

Ada juga orang yang berkata;"Semua pekerjaanku kan sudah selesai. 
Soal sisa waktu yang ada, itu urusan gue!" Jika kita mendengar 
pernyataan semacam ini, perlu diuji kebenarannya. Betulkah pekerjaan 
orang ini sudah selesai? Atau, barangkali memang perusahaan telah 
salah mempekerjakan orang. Dijaman ini perusahaan membutuhkan orang 
yang tidak hanya terampil. Tetapi juga penuh inisiatif. Orang-orang 
yang sekedar terampil mungkin bisa menyelesaikan pekerjaan sesuai 
dengan juklak. Sedangkan orang-orang yang melengkapi keterampilannya 
dengan inisiatif; bukan sekedar akan menyelesaikan pekerjaan, 
melainkan datang kepada atasannya dengan gagasan-demi gagasan. Sebab, 
orang-orang yang penuh inisiatif tidak perlu menunggu sang atasan 
untuk menyuruhnya melakukan tugas ini dan itu. Dia sendirilah yang 
berinisiatif untuk itu. Lagi pula, mana ada atasan yang bisa 
selamanya mengawasi dan menyuapi setiap bawahan?

Para bijak bestari sudah sejak lama menemukan sebuah artefak yang 
berisi tulisan kuno. Tulisan itu berbunyi `Fa-idzaa faroghta 
fanshob'. Jika diterjemahkan secara bebas kalimat itu 
berarti; `Jikalau engkau telah menyelesaikan satu hal, maka 
berpindahlah dengan sungguh-sungguh kepada hal berikutnya.' Dengan 
kata lain, artefak itu mengingatkan kita tentang betapa banyaknya hal 
yang menunggu untuk kita tangani. Sehingga, sesungguhnya kita tidak 
memiliki cukup alasan untuk berhenti berkarya. Oleh karena itu, orang-
orang yang mengikuti nasihat ini bersedia berpindah dari satu tugas 
kepada tugas lain. Dari satu aktivitas kepada aktivitas lain. Dari 
satu pencapaian, kepada pencapaian lain. 

Beberapa tahun yang lalu, ada iklan mobil ditelevisi. Diakhir iklan 
itu muncul sebuah tag line berbunyi; `For those who know, there is no 
finish line'. Bisakah anda membayangkan seandainya seorang karyawan 
mempunyai sikap dan pemahaman seperti itu? Dia tidak akan 
mengatakan; `Pekerjaan gue kan sudah selesai. Gue bebas menggunakan 
waktu yang gue miliki'. Karena, orang-orang yang berpengetahuan tidak 
akan pernah menyia-nyiakan jam kerjanya untuk hal-hal yang sama 
sekali tidak memberikan kontribusi kepada perusahaan. Atau tidak 
membuat dirinya menjadi lebih baik dari hari ke hari. Mengapa? 
Karena, orang-orang yang mengerti, tahu bahwa; selama hayat masih 
dikandung badan, there is no finish line.

Kalau begitu, kapan kita boleh beristirahat? Waktunya istirahat, ya 
istirahat saja. Dan, disaat kita harus bekerja, ya bekerja. Jika kita 
bisa menempatkan kedua hal itu saja, kita sudah menjadi pribadi yang 
lebih baik. Dan, dengan prinsip ini, tidaklah mungkin kita mengatakan 
bahwa pekerjaan kita sudah selesai. Sebab, jika demikian; apa alasan 
perusahaan memperpanjang masa kerja kita? Bukankah tidak ada gunanya 
bagi perusahaan? Ngapain mempekerjakan karyawan untuk suatu pekerjaan 
yang sudah selesai?

Banyak orang yang mengatakan;"Jika saya memberi lebih kepada 
perusahaan, apa imbalannya untuk saya?" Sounds familiar ya? Sejauh 
yang saya tahu, orang yang berkontribusi lebih mendapatkan imbalan 
lebih. Hanya saja, imbalan tidak selalu berupa uang. Sebab, ketika 
seorang atasan menepuk bahu bawahannya karena hasil kerjanya lebih 
baik dari teman-temannya; itu adalah suatu imbalan. Ketika para 
pelanggan lebih puas dengan pelayanan kita dibandingkan yang 
dilakukan oleh teman-teman kita, maka itupun sebuah imbalan. 

Jadi, kalau begitu; imbalan itu apa sih? Imbalan is hukum kekelan 
energi in action. Anda masih ingat? Setiap wujud atau tindakan itu 
melibatkan energi. Sedangkan energi itu tidak akan pernah hilang. 
Oleh karena itu, setiap tindakan yang kita lakukan, selalu ada 
catatannya. Jadi, sangatlah penting untuk memastikan bahwa apa yang 
kita lakukan itu baik. Sebab,  kebaikan akan berbuah kebaikan. Persis 
seperti yang dikatakan oleh guru ngaji saya, bahwa; "Suatu hari 
nanti, seluruh umat manusia akan dibangunkan dari kuburnya. Dan pada 
hari itu, akan diperlihatkan kepada mereka balasan atas pekerjaan 
mereka. Barangsiapa yang melakukan kebaikan, meski hanya sebesar biji 
wijen, niscaya dia akan mendapatkan imbalannya."

Dalam kehidupan duniawi, tidak semua perbuatan baik mendapatkan 
imbalan yang pantas. Perusahaan banyak yang pelit kepada karyawan. 
Atasan banyak yang tidak adil dalam mengambil keputusan. Teman, 
banyak yang mengklaim pekerjaan orang lain sebagai miliknya sendiri. 
Sedangkan Tuhan, tidak pernah keliru dalam menilai. Dan memberi 
imbalan. Hitungannya dijamin benar. Kalkulasinya pasti berakurasi 
tinggi. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika dalam artefak yang 
ditemukan oleh para bijak bestari tadi ada tulisan berikutnya yang 
berbunyi: `Wa-ilaa robbika farghob.' Setelah dicari tahu apa artinya, 
ternyata itu adalah lanjutan dari nasihat tadi, yang berarti "Dan 
kepada Tuhanmulah hendaknya kamu menggantungkan harapan."

Oh, ternyata tulisan diartefak itu mengajak kita untuk terus 
berkarya, hingga sebanyak mungkin potensi diri kita yang 
terdayagunakan. Agar banyak manfaat yang bisa kita tebarkan. 
Sedangkan imbalannya? Mungkin kita dapatkan secara kontan didunia. 
Atau, mungkin langsung dimasukkan kedalam rekening tabungan kita 
untuk bekal diakhirat kelak. Sebab, seperti pesan yang tertulis 
diartefak itu; setelah menyelesaikan suatu kegiatan yang baik, 
sebaiknya kita mulai melakukan kegiatan baik lainnya. 
Menyelesaikannya. Lalu mulai lagi dengan kegiatan baik lainnya lagi. 
Terus menerus begitu. Mumpung kita masih punya waktu. Karena, Tuhan 
sedang mengobral imbalan. Meski kebaikan yang kita lakukan itu kecil 
saja, imbalannya tetap ada. Dan bermakna. Mau?

Hore, 
Hari Baru!
Dadang Kadarusman
http://dkadarusman.blogspot.com/
http://www.dadangkadarusman.com/ 

Catatan Kaki: 
Sebelum mengeluhkan bahwa waktu yang kita miliki tidak cukup, lebih 
baik terlebih dahulu memastikan bahwa kegiatan yang kita lakukan 
cukup berharga untuk mengisi waktu yang sedikit itu.  


Kirim email ke