Alhamdulillah!!! Lama rasanya saya menunggu untuk mendapatkan tulisan 
seperti ini. Selama ini saya ingin mengungkapkan hal seperti ini. 
Hanya saja mungkin saya kurang pandai dalam menyusun kata-kata. Apa 
yang diungkapkan dalam tulisan ini hampir sama persis dengan apa yang 
ingin saya katakan pada teman-teman kerja saya. Saya ingin memotivasi 
mereka dengan pokok pikiran dari tulisan ini.
Yth. Bpk. Dadang Kadarusman, Bolehkah kiranya saya copy tulisan anda 
ini untuk saya cetak dan saya sebarkan ke teman-teman saya di kantor? 
Saya mengucapkan beribu terimakasih bila anda berkenan untuk 
mengijinkan saya mengcopy dan menyebarkan tulisan anda ini. Saya akan 
menyertakan identitas anda sebagai : 
Dadang Kadarusman
http://dkadarusman.blogspot.com/
http://www.dadangkadarusman.com/ 

Saya juga baca-baca tulisan anda di blog dan web anda. Saya pingin 
tahu kelanjutan dari tulisan anda yang berjudul "Apakah kesuksesan
selalu berkorelasi dengan uang" soalnya kalau saya klik read more 
selalu terjadi error. Mohon kiranya anda bisa mengirimkan ke email 
saya : [EMAIL PROTECTED]

Hormat saya,

Yusuf Indrahermawan Al-Jufri
www.onlineearning.batucyber.com
www.electronics.batucyber.com



--- In [email protected], "dkadarusman" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Hore,
> Hari Baru!
> Teman-teman. 
> 
> Salah satu keluhan yang paling sering kita lontarkan adalah tentang 
> keterbatasan waktu. Kita merasa seolah-olah pekerjaan yang harus 
> diselesaikan itu terlalu banyak. Sehingga hal-hal yang seharusnya 
> selesai, malah terbengkalai. Orang-orang positif memandang 
> keterbatasan waktu sebagai sinyal baginya agar benar-benar 
> memanfaatkan waktu yang tersedia untuk hal-hal yang bermanfaat. 
> Mereka memastikan bahwa waktunya digunakan dengan efektif, untuk 
hal-
> hal yang positif secara produktif. Sedangkan, orang-orang negatif 
> memandang keterbatasan waktu sebagai penghalang, sekalian alasan 
> untuk tidak menyelesaikan tanggungjawabnya. Pertanyaannya sekarang 
> adalah; apakah memang pekerjaan kita yang terlalu banyak, ataukah 
> kita yang tidak benar-benar menggunakan waktu yang kita miliki 
untuk 
> hal-hal yang berguna?
> 
> Jam sembilan pagi, seorang eksekutif sedang mengadakan pertemuan 
> diruang meeting. Sekitar setengah jam kemudian, terdengar suara dua 
> orang memasuki ruang meeting lain yang letaknya bersebelahan. 
> Sebenarnya, system penyekat yang memisahkan kedua ruang meeting itu 
> sudah cukup bagus, sehingga kalau orang-orang dikedua ruang itu 
> berdiskusi secara normal, suaranya tidak akan tembus keruang 
> sebelahnya. Namun, sering orang datang ke ruang meeting tidak untuk 
> meeting, melainkan untuk membicarakan hal-hal yang tidak penting. 
Dan 
> itulah yang terjadi dengan orang-orang yang berada diruang meeting 
> sebelah itu. 
> 
> Sekarang sudah jam sepuluh. Tapi, pembicaraan dari ruang sebelah 
> belum juga menandakan pembahasan sesuatu yang berhubungan dengan 
> pekerjaan. Alih-alih, mereka berdua itu asyik-asyik saja mengobrol 
> ngalor ngidul sambil sesekali cekikikan dan cekakakan. Jam makan 
> siang hampir tiba. Kandungan ceritanya masih seperti acara gossip 
> program infotainment. Hebat sekali. Disaat orang-orang normal 
bekerja 
> secara produktif, mereka mengambil langkah sebaliknya. Jika anda 
> mengira bahwa kisah ini sekedar rekayasa belaka, anda keliru. Dan 
> dalam kejadian itu, sang eksekutif adalah atasan langsung dari 
salah 
> satu orang yang berada diruang sebelah itu. Permasalahannya 
bukanlah 
> apakah kita bisa bersembunyi dari atasan atau tidak. Bukan pula 
> apakah waktu itu disia-siakan dengan mengobrol yang tidak jelas 
atau 
> melakukan hal lain yang kurang bermanfaat. Melainkan apakah kita 
> benar-benar bertanggungjawab dengan waktu kita? 
> 
> Ini sangat ironis. Karena, kita seringkali mengatakan kepada atasan 
> bahwa kita tidak mempunyai cukup waktu untuk mengerjakan begitu 
> banyaknya tugas ini dan itu yang dibebankan perusahaan kepada kita. 
> Seperti yang juga dikeluhkan oleh si perumpi yang ketahuan 
atasannya 
> tadi. Dia mengeluhkan terlalu banyaknya pekerjaan; sementara disaat 
> seharusnya dia bekerja, dia malah menyia-nyiakan waktunya untuk 
> sesuatu yang sama sekali tak berguna buat perusahaan yang 
> membayarnya. Tidak juga bisa menjadikan dirinya tambah pintar, atau 
> lebih terampil.
> 
> Ada juga orang yang berkata;"Semua pekerjaanku kan sudah selesai. 
> Soal sisa waktu yang ada, itu urusan gue!" Jika kita mendengar 
> pernyataan semacam ini, perlu diuji kebenarannya. Betulkah 
pekerjaan 
> orang ini sudah selesai? Atau, barangkali memang perusahaan telah 
> salah mempekerjakan orang. Dijaman ini perusahaan membutuhkan orang 
> yang tidak hanya terampil. Tetapi juga penuh inisiatif. Orang-orang 
> yang sekedar terampil mungkin bisa menyelesaikan pekerjaan sesuai 
> dengan juklak. Sedangkan orang-orang yang melengkapi 
keterampilannya 
> dengan inisiatif; bukan sekedar akan menyelesaikan pekerjaan, 
> melainkan datang kepada atasannya dengan gagasan-demi gagasan. 
Sebab, 
> orang-orang yang penuh inisiatif tidak perlu menunggu sang atasan 
> untuk menyuruhnya melakukan tugas ini dan itu. Dia sendirilah yang 
> berinisiatif untuk itu. Lagi pula, mana ada atasan yang bisa 
> selamanya mengawasi dan menyuapi setiap bawahan?
> 
> Para bijak bestari sudah sejak lama menemukan sebuah artefak yang 
> berisi tulisan kuno. Tulisan itu berbunyi `Fa-idzaa faroghta 
> fanshob'. Jika diterjemahkan secara bebas kalimat itu 
> berarti; `Jikalau engkau telah menyelesaikan satu hal, maka 
> berpindahlah dengan sungguh-sungguh kepada hal berikutnya.' Dengan 
> kata lain, artefak itu mengingatkan kita tentang betapa banyaknya 
hal 
> yang menunggu untuk kita tangani. Sehingga, sesungguhnya kita tidak 
> memiliki cukup alasan untuk berhenti berkarya. Oleh karena itu, 
orang-
> orang yang mengikuti nasihat ini bersedia berpindah dari satu tugas 
> kepada tugas lain. Dari satu aktivitas kepada aktivitas lain. Dari 
> satu pencapaian, kepada pencapaian lain. 
> 
> Beberapa tahun yang lalu, ada iklan mobil ditelevisi. Diakhir iklan 
> itu muncul sebuah tag line berbunyi; `For those who know, there is 
no 
> finish line'. Bisakah anda membayangkan seandainya seorang karyawan 
> mempunyai sikap dan pemahaman seperti itu? Dia tidak akan 
> mengatakan; `Pekerjaan gue kan sudah selesai. Gue bebas menggunakan 
> waktu yang gue miliki'. Karena, orang-orang yang berpengetahuan 
tidak 
> akan pernah menyia-nyiakan jam kerjanya untuk hal-hal yang sama 
> sekali tidak memberikan kontribusi kepada perusahaan. Atau tidak 
> membuat dirinya menjadi lebih baik dari hari ke hari. Mengapa? 
> Karena, orang-orang yang mengerti, tahu bahwa; selama hayat masih 
> dikandung badan, there is no finish line.
> 
> Kalau begitu, kapan kita boleh beristirahat? Waktunya istirahat, ya 
> istirahat saja. Dan, disaat kita harus bekerja, ya bekerja. Jika 
kita 
> bisa menempatkan kedua hal itu saja, kita sudah menjadi pribadi 
yang 
> lebih baik. Dan, dengan prinsip ini, tidaklah mungkin kita 
mengatakan 
> bahwa pekerjaan kita sudah selesai. Sebab, jika demikian; apa 
alasan 
> perusahaan memperpanjang masa kerja kita? Bukankah tidak ada 
gunanya 
> bagi perusahaan? Ngapain mempekerjakan karyawan untuk suatu 
pekerjaan 
> yang sudah selesai?
> 
> Banyak orang yang mengatakan;"Jika saya memberi lebih kepada 
> perusahaan, apa imbalannya untuk saya?" Sounds familiar ya? Sejauh 
> yang saya tahu, orang yang berkontribusi lebih mendapatkan imbalan 
> lebih. Hanya saja, imbalan tidak selalu berupa uang. Sebab, ketika 
> seorang atasan menepuk bahu bawahannya karena hasil kerjanya lebih 
> baik dari teman-temannya; itu adalah suatu imbalan. Ketika para 
> pelanggan lebih puas dengan pelayanan kita dibandingkan yang 
> dilakukan oleh teman-teman kita, maka itupun sebuah imbalan. 
> 
> Jadi, kalau begitu; imbalan itu apa sih? Imbalan is hukum kekelan 
> energi in action. Anda masih ingat? Setiap wujud atau tindakan itu 
> melibatkan energi. Sedangkan energi itu tidak akan pernah hilang. 
> Oleh karena itu, setiap tindakan yang kita lakukan, selalu ada 
> catatannya. Jadi, sangatlah penting untuk memastikan bahwa apa yang 
> kita lakukan itu baik. Sebab,  kebaikan akan berbuah kebaikan. 
Persis 
> seperti yang dikatakan oleh guru ngaji saya, bahwa; "Suatu hari 
> nanti, seluruh umat manusia akan dibangunkan dari kuburnya. Dan 
pada 
> hari itu, akan diperlihatkan kepada mereka balasan atas pekerjaan 
> mereka. Barangsiapa yang melakukan kebaikan, meski hanya sebesar 
biji 
> wijen, niscaya dia akan mendapatkan imbalannya."
> 
> Dalam kehidupan duniawi, tidak semua perbuatan baik mendapatkan 
> imbalan yang pantas. Perusahaan banyak yang pelit kepada karyawan. 
> Atasan banyak yang tidak adil dalam mengambil keputusan. Teman, 
> banyak yang mengklaim pekerjaan orang lain sebagai miliknya 
sendiri. 
> Sedangkan Tuhan, tidak pernah keliru dalam menilai. Dan memberi 
> imbalan. Hitungannya dijamin benar. Kalkulasinya pasti berakurasi 
> tinggi. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika dalam artefak yang 
> ditemukan oleh para bijak bestari tadi ada tulisan berikutnya yang 
> berbunyi: `Wa-ilaa robbika farghob.' Setelah dicari tahu apa 
artinya, 
> ternyata itu adalah lanjutan dari nasihat tadi, yang berarti "Dan 
> kepada Tuhanmulah hendaknya kamu menggantungkan harapan."
> 
> Oh, ternyata tulisan diartefak itu mengajak kita untuk terus 
> berkarya, hingga sebanyak mungkin potensi diri kita yang 
> terdayagunakan. Agar banyak manfaat yang bisa kita tebarkan. 
> Sedangkan imbalannya? Mungkin kita dapatkan secara kontan didunia. 
> Atau, mungkin langsung dimasukkan kedalam rekening tabungan kita 
> untuk bekal diakhirat kelak. Sebab, seperti pesan yang tertulis 
> diartefak itu; setelah menyelesaikan suatu kegiatan yang baik, 
> sebaiknya kita mulai melakukan kegiatan baik lainnya. 
> Menyelesaikannya. Lalu mulai lagi dengan kegiatan baik lainnya 
lagi. 
> Terus menerus begitu. Mumpung kita masih punya waktu. Karena, Tuhan 
> sedang mengobral imbalan. Meski kebaikan yang kita lakukan itu 
kecil 
> saja, imbalannya tetap ada. Dan bermakna. Mau?
> 
> Hore, 
> Hari Baru!
> Dadang Kadarusman
> http://dkadarusman.blogspot.com/
> http://www.dadangkadarusman.com/ 
> 
> Catatan Kaki: 
> Sebelum mengeluhkan bahwa waktu yang kita miliki tidak cukup, lebih 
> baik terlebih dahulu memastikan bahwa kegiatan yang kita lakukan 
> cukup berharga untuk mengisi waktu yang sedikit itu.
>


Kirim email ke