HORAS TOEBAH!!! (Toba, baca : Toi Bah/Toyibah)
Selamat pagi TOBA! Selamat pagi Dunia! HORAS!!! Disambut makan pagi yang "cukup" untuk ukuran hotel "international" di Toba, 6:30 am WITO (Waktu Indonesia bagian Toba, hehehe), saya bersiap-siap melanjutkan perjalanan ini. rupanya jadwal telah diatur sedemikian rupa dan akhirnya saya dapat mengunjungi Tomok, Samosir. Menggunakan perahu sewaan saya pertama mengunjungi situs batu gantung. Sang guide 'tidak resmi' karena sekaligus merangkap juru mudi kapal bercerita seputar Toba dan Adat Batak pada khususnya. Toebah, ya itulah (kemungkinan) nama asli Toba. Berasal dari bahasa Arab (dibawa bangsa Persia, melalui Porsea) dari kata Toe (Indah) dan Bah (Air yang banyak) sehingga disebut Toebah (baca; Toibah). Lalu dari waktu ke waktu Toebah lebih mudah dilafalkan dengan Toba. Entah, tidak ada sejarah jelas yang mencatatnya. Namun saya coba ambil positifnya saja, bahwa saya jadi mempunya cara panggil yang baru bagi Toba, hehehe. Dan satu hal yang terpenting adalah saya belajar untuk lebih merekam sejarah, at least buat diri saya sendiri. Saya bahkan tidak punya foto SD, payah sekali ya. Jadi deh saya mluai sering dekat - dekat kamera, hihihihihi.. Samosir, berasal dari kata Samo (samar) dan Sir (keinginan, perasaan) yang berarti perasaan yang samar-samar. Sekali lagi saya dapat'kan dari sang guide. Memang benar juga, dari jauh nan samar kehijauan Samosir sungguh menimbulkan perasaan ingin mendatangi, namun saat di dekati, ya gitu (sekarang sudah gundul), kalo dulu sama saja kaya hutan lainnya. Oh ya, mengenai batu gantung, konon ada suatu putri raja yang akan di tonangkan (tunangan) oleh Ayahnya namun ia menolak sang calon suaminya hingga akhirnya ia menggantung diri. Situs tersebut memang seperti seorang wanita berambut panjang yang menjuntai terbalik ke arah danau. Sekali lagi entah, benar atau tidak. Berlanjut. Akhirnya tibalah saya di Tomok dan segera berjalan di lorong yang menjual souvenir khas Toba. Hmmm, kurang banyak yang menarik, hingga akhirnya saya berhenti di depan boneka si Gale-Gale. Si Gale-Gale adalah boneka yang dapat menari, cukup bayar Rp. 60.000,- / show, kita dapat melihat ia menari. Saat saya perhatikan, kok ngga ada tanda-tanda mekanis untuk menggerakan boneka tersebut, bahkan saya mencari orang yang akan memainkannya saja tidak ada. Apa jangan-jangan boneka tersebut "non-mekanis" ke arah magis? Hehehe. Ya sudah, akhirnya saya cuma berfoto menggunakan ulos. Sehubungan dengan ulos, saya mencoba menyempatkan memakai baju kebesaran raja Batak, sayang waktu lagi - lagi tidak kompromi. Akhirnya saya hanya bisa memandangnya dan mencoba memasuki vibrasi seorang raja Batak. Wow, perasaan itu sungguh besar energy positifnya. Entah saya trance atau bagaimana, yang jelas saya percaya bahwa ia (sang raja) adalah orang yang adil, bijak, nan wibawa. Subhanallah. Ok, ada dua lagi filosofi yang saya dapat. Satu, mengenai rumah adat Batak. Ya, di sisi depan atapnya tidak lebih tinggi dari atap belakangnya. Maksud dari hal tersebut adalah diharapkan sang anak akan lebih tinggi derajatnya dari sang Ayah (ortu). Toh dalam logikanya, bila sang anak di masa depannya lebih tinggi derajatnya dari sang Ayah kan sang Ayah juga yang akan menikmati. Kedua, pintu rumah adat Batak sangat kecil hingga saat masuk harus menunduk. Maksudnya adalah bila berada di rantau, setinggi dan seluas apapun pintunya kita harus menghormati penghuninya. Dimana bumi di pijak, di situ langit di junjung! Lalu terdapat tiga warna yang Batak banget's, Putih, Merah dan Hitam. Putih melambangkan kesucian atau (huhungan) Tuhan Yang Maha Esa, Merah melambangkan keberanian atau hubungan sesama manusia (solidaritas) dan Hitam melambangkan kekelaman atau dunia setelah hidup (kematian). Sejak saat mendengar hal tersebut saya sampai detik ini mencari ulos dengan motif tiga warna tersebut yang indah. Sayang, yang ada biasa-biasa saja. Akhirnya kami kembali lagi ke hotel dan sesegera mungkin melanjutkan perjalanan menuju Sipirok. Kami menyempatkan diri "mampir' ke salah satu Masjid di jalan dan numpang makan di pelatarannya, piknik dadakan. Kami harus bergegas mengejar kekurangan waktu karena di prediksi kami akan melalui jalan yang cukup terjal dan memaksa seluruh rombongan keluar dari bus untuk berjalan kaki. Ya, akhirnya kami telat dan terjadilah kami harus jalan kaki di tengah malam, gelap, berdebu, terjal dan.cukup seram. sebelumnya kami malah sempat "mampir" di WC umum yang benar-benar 'umum'. WC tersebut hanya di tutup seng, tapi orang dari atas truk maupun bus pasti dapat melihat aktifitas di balik seng tersebut. Ya, itulah WC alam milik pendudk setempat. Mau ngomel? Ya mau ngomel kepada siapa? Nikmatilah moment "bersatu dengan alam", hahahaha.. Berlanjut.. Wah, perjalanan ini melelahkan, sungguh saya ingin teriak merasakan penat di seluruh tubuh. Lalu saya nyaris kehilangan arah tujuan 'pencarian saya', rupanya di saat itu juga saya malah mendapat Insight yang semakin dahsyat! Ya, andai saja sang Ompu (Opung) saya tidak gigih untuk keluar dari desa kami (Lancat Julu, Sipirok) menuju Jakarta, apalah jadinya saya. Dahulu Opung Sutan Baginda Pane ( Nurdin Pane) rela berhari-hari lamanya di atas bus 'SIBUAL-BUALI' yang tempat duduknya hanya papan kayu, lurus, tanpa jok untuk menuju Jakarta mengadu nasib. Anak sekarang disuruh gitu, mana tahan? Hahahaha. Tidak ada kata menyerah! Saya yang duduk di atas jok empuk dan bus yang ada AC saja masih bisa mengeluh. Tapi bila saya mencoba memasuki alam sang Opung, wah, mungkin saya bisa kibarkan bendera putih. Namun akhirnya saya tahu, karena kegigihan beliaulah saya bisa menulis ini. Ingat tentang filosofi rumah Batak di atas? Nah itu dia! Saya seperti mengalami flashback dari zaman opung Buyut saya, ke zaman Opung STB Pane, ke Ayahanda saya, hingga ke masa saya. Benarlah filosofi itu. Sebuah kebanggaan menjadi darah daging dari keluarga Pane (Batak). Oh ya, ini bukan bermaksud chauvinism ya, tapi lebih ke arah menghargai adat. Akhirnya, setelah 9 jam perjalan tiba juga di Lancat Julu, Sipirok. Harum tanah dan dingin desa kami menyerbak masuk ke hidung dan tubuh saya. Wow, perasaan tiga tahun lalu saat ini sudah berlipat ganda rasanya. Kali ini lebih istimewa, jauh lebih istimewa. Di sambut oleh Guru Agama, kami mulai bersalam-salaman dan kembali memperkenalkan diri, maklum banyak yang beda generasi atau sudah cukup tua untuk menghafal. Hihihihihi. Berlanjut.. Setelah ritual tersebut selesai, saya melihat kerumunan anak-anak kecil (kami biasa sebut recehan) yang berlari sana-sini. Akhirnya saya sempatkan untuk memfoto mereka. Wah, kilatan blitz sungguh hal yang menyenangkan mereka. Alhasil, belasan foto hanya untuk mengekspose keceriaan mereka, padahal sudah malam lho, hehehehe. Tunggu, kok saya melihat mereka lari kesana kemari membentuk satu pola tertentu? Apa ya.. Ya, ternyata mereka sedang bermain sebuah game menyerupai benteng dan tak jongkok. Kombinasi keduanya kalau saya lihat. Seru sekali kaki kaki kecil itu berlari dengan kecepatan penuh, menggocek lawan hingga terjatuh semua dilakoni tanpa alas kaki. Sudah kapalan nampaknya. Hahahaha.. di tengah keheranan saya, ternyata permainan itu mengedepankan nilai solidaritas, sportifitas, keuletan, kecepatan pengambilan keputusan hingga kesabaran yang sangat original dibandingkan playstation atau game on-line di internet, hahahaha.. Gamenya sederhana, mereka berjumlah sepuluh anak namun harus berpasang-pasangan, dan satu yang jaga pertama, mereka menamainya dengan "BERPELUKAN". Otomatis akan ada yang tidak dapat pasangan. Nah dia yang akan dikejar oleh yang jaga pertama. Hehehehe, tidak semudah itu bung, ini Sumatera bung! Mereka lari kesana-kemari, sambil nyanyi-nyanyi lho, masalah nafas tersengal-sengal nyaris tidak ada. WOW. Kondisinya begini, bila si A mengejar si B di antara kerumunan C-D, E-F, G-H dan I-J maka bisa saja tiba-tiba C melepaskan pasangannya (solidaritas) untuk menyelamatkan si B, otomatis si B jadi berpasangan dengan C dan si D harus pontang panting menyelamatkan diri (kecepatan pengambilan keputusan). Lha, si A yang tadinya berorientasi mengejar si B harus pindah mengejar D karena hanya dia yang sendiri tanpa pasangan. Dan seterusnya si D bisa di selamatkan oleh rekan lainnya. Kalau tidak sabaran (kesabaran), yang kebagian tugas mengejar (keuletan)bisa emosional lho (sportifitas), jangan salah! Mungkin masih banyak nilai lainnya, tapi sementara itu yang saya tahu. Wow, tidak satu pun dari mereka mengeluh bila harus menjadi pihak yang 'jaga' dengan rentang waktu yang lama, lha wong emang dia yang ngga bisa nangkep mangsa, hehehehe. Bahkan saat ada yang tersungkur di atas tanah berkerikil-kerikil, tidak ada yang nangis ataupun mengaduh kesakitan. Insight bagi saya adalah, kerikil kecil di usaha apapun pastilah hanya kerikil kecil, dalam permainan tersebut, saat usai mereka mendapati kegembiraan luar biasa. Begitu juga dalam usaha, kesandung dikit biasa, bangkit kembali dan belajar darinya, itu baru luar biasa BUNG! Dan setiap ada yang mau membantu, mereka tetap wasapada, apakah jatuh hanya trik, atau memang jatuh beneran, seru ya. andai di Jakarta dulu ada yang mengajak saya bermain seperti itu, mungkin di kaki saya penuh luka, hehehehe. Ok, tiba-tiba ada seorang ibu gemuk membawa sapu kesana kemari, rupanya sudah pukul 10:30 malam WITO.. Si Ibu sedang ngamuk karena anaknya main terus, ngga pulang-pulang, hehehehe.jadilah saya harus 'menepi' juga, sapa tahu beliau kalap dan melihat saya adalah anaknya juga, hehehehe. bisa-bisa sapu ijuk dekil itu melayang ke tubuh saya, hikhikhik.. Huf.lelah hari ini. walau semakin sedikit kuantitas Insight yang saya dapat, namun dari segi kualitas jauh lebih besar. Alhamdulillah. Oh ya, di dalam posting ini tidak saya sertakan foto, namun setelah kembali mendapatkan jaringan Internet Broadband yang lebih stabil (mungkin di Jakarta), saya akan posting foto-foto tersebut di Multiply <http://perdanawan.multiply.com/> saya. Silahkan kunjungi, agar anda dapat menikmati indahnya alama Indonesia, kebanggaan kita bersama! Enjoy Sumatera, Enjoy Indonesia Kita. Regards, Perdanawan P. Pane Head Operational TMI Trainer & LoA Achiever [EMAIL PROTECTED] PH: T/F: +62 817 8 13 7 82 (+62 21) 319 09 184 +62 21 9280 5275 [EMAIL PROTECTED] YM : danny.pane http://perdanawan.multiply.com P Please consider our environment before printing this email
