Bulan Rajab belum lama kita lalui. Bulan Sya'ban sebentar lagi kita
akhiri. Kini, bulan Ramadhan segera datang menghampiri. Terkait dengan
ketiga bulan mulia ini, Baginda Rasulullah saw. secara khusus
memanjatkan doa ke haribaan Allah SWT:
«اَللَّهُمَّ
بَارِكْ
لَنَا فِي
رَجَبٍ وَ
شَعْبَانَ وَ
بَلِّغْنَا
رَمَضَانَ وَ
حَصِّلْ
مَقَاصِدَنَا»
Duhai Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan pada bulan Sya'ban
ini; sampaikanlah diri kami pada bulan Ramadhan; dan tunaikanlah
keinginan-keinginan kami (HR Ahmad).
Ibarat samudera, Ramadhan menyimpan sejuta mutiara kemuliaan, memendam
perbendaharaan segala keagungan dan di dalamnya bersemayam aneka
kebesaran. Ramadhan juga merupakan cakrawala curahan karunia Allah SWT
karena semua aktivitas hamba yang beriman pada bulan ini dinilai
sebagai ibadah. Kecil yang dilakukan tetapi besar pahalanya di sisi
Allah. Ringan yang dikerjakan namun berat timbangan di hadapan Allah.
Apalagi jika amal yang besar dan berat, tentu akan mampu melesatkan
hamba ke derajat kemuliaan dan meraih kenikmatan surga-Nya.
Datangnya Ramadhan bagi orang Mukmin adalah laksana `kekasih' yang
sangat ia rindukan; dengan sukacita ia akan menyiapkan segala sesuatu
yang dapat mengantarkan perjumpaan menjadi penuh makna, berkesan dalam
dan senantiasa melahirkan harapan-harapan mulia.
Begitu dasyatnya kemuliaan Ramadhan, Rasulullah saw. di penghujung
bulan Sya'ban berkhutbah di hadapan manusia menjelaskan berbagai
keutamaannya:
Wahai manusia sekalian
Akan datang menaungi kalian bulan yang agung dan penuh berkah; bulan
yang di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan;
bulan yang di dalamnya Allah wajibkan berpuasa dan melaksanakan qiyâm
tathawwu' (salat sunnah tarawih). Siapa saja pada bulan itu
mendekatkan diri dengan sebuah amal kebaikan, ia seperti telah
melaksanakan kewajiban
Siapa saja yang mengerjakan kewajiban, ia
seperti melaksanakan tujuh puluh kewajiban
Ramadhan adalah bulan sabar. Sabar itu pahalanya surga. Ramadhan
adalah bulan memberi pertolongan dan bulan Allah memberikan rezeki
kepada Mukmin. Siapa saja yang memberi makan berbuka seseorang yang
berpuasa, yang demikian itu merupakan pengampunan bagi dosanya dan
keeselamatan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu
memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa sedikitpun
berkurang
Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi sebutir
kurma, atau seteguk air, atau sehirup susu.
Dialah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya ampunan dan
akhirnya pembebasan dari neraka. Siapa saja yang meringankan beban
dari budak sahaya (termasuk di sini para pembantu rumah) niscaya Allah
mengampuni dosanya dan memnyelamatkannya dari neraka. Karena itu,
perbanyaklah empat perkara di bulan Ramadhan; dua perkara untuk
mendatangkan keridhaan Tuhan kalian dan dua perkara lagi yang sangat
kalian butuhkan. Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan
sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan memohon
ampunan-Nya. Dua perkara yang sangat kalian perlukan ialah memohon
surga dan perlindungan dari neraka
(HR Ibnu Huzaimah).
Kemulian dan keistimewaan Ramadhan juga terlukis dalam hadis Nabi saw.
melalui penuturan Abu Hurairah ra.:
«إِذَا جَاءَ
رَمَضَانُ
فُتِحَتْ
أَبْوَابُ
الْجَنَّةُ
وَ غُلِّقَتْ
أَبْوَابُ
النَّارُ وَ
صُفِّدَتِ
الشَّيَاطِيْنُ»
Jika Ramadhan datang, pintu-pintu surga dibuka; pintu-pintu neraka
ditutup; dan setan-setan dibelenggu (HR Muslim).
Derajat yang Harus Diraih
Kita patut merenungkan kembali firman Allah SWT:
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ
آمَنُواْ
كُتِبَ
عَلَيْكُمُ
الصِّيَامُ
كَمَا كُتِبَ
عَلَى
الَّذِينَ
مِن
قَبْلِكُمْ
لَعَلَّكُمْ
تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa
sebagaimana puasa itu diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar
kalian bertakwa. (QS al-Baqarah [2]: 183).
Dari ayat ini, tanpa harus melalui pengkajian mendalam kita memahami
bahwa target akhir dari pelaksanaan kewajiban shaum adalah takwa.
Artinya, shaum adalah medium sekaligus momentum perubahan untuk
mewujudkan individu dan masyarakat yang bertakwa.
Ayat tersebut diserukan kepada orang-orang yang beriman. Ini
mengisyaratkan bahwa puasa akan mengantarkan pada ketakwaan jika
dilakukan atas dorongan keimanan. Amal-amal Ramadhan akan bermakna dan
berpengaruh jika didasari oleh keimanan.
Sayangnya, justru di sinilah yang menjadi kelemahan selama ini.
Prosesi, ritual dan aktivitas Ramadhan sering tidak didasari oleh
iman. Puasa dijalankan sering karena alasan sudah menjadi tradisi,
bukan karena keimanan dan harapan akan ridha-Nya. Ramainya majelis
zikir dan pengajian bisa jadi lebih karena terbawa suasana religius
Ramadhan, bukan didasari oleh keyakinan bahwa semua itu adalah bagian
dari kewajiban mengkaji Islam, dakwah, amar makruf nahi mungkar.
Program-program religi mungkin diadakan lebih karena alasan bisnis,
bukan karena keyakinan sebagai bagian dari kewajiban mewujudkan
kehidupan yang islami. Penutupan tempat-tempat maksiat dan penghentian
kemaksiatan pun dilakukan untuk menghormati kesucian Ramadhan karena
toleransi, bukan didasari oleh keyakinan bahwa segala bentuk
kemaksiatan besar ataupun kecil akan mendapatkan azab Allah kelak di
akhirat.
Bisa juga Ramadhan selama ini menjadi kurang bermakna dan lemah
pengaruhnya karena realitas takwa yang menjadi hikmah puasa itu
sendiri belum dihayati. Ketakwaan adalah hikmah dari puasa. Mereka
yang berpuasa harus senantiasa memperhatikan dan mengupayakan secara
maksimal agar ketakwaan terwujud dalam dirinya. Ketakwaan adalah
derajat yang paling mulia bagi hamba yang beriman. Allah SWT berfirman:
إِنَّ
أَكْرَمَكُمْ
عِندَ
اللَّهِ
أَتْقَاكُمْ
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah
adalah orang yang paling bertakwa (QS al-Hujurat [49]: 13).
Hakikat Takwa
Takwa berasal dari kata waqâ-yaqî-waqyan, yang dalam bahasa Arab
diubah menjadi taqwa untuk membedakan antara isim dan sifat, yang
meliputi makna: menjaga, menjauhi, takut dan berhati-hati. Dalam takwa
itu rasa takut dan cinta kepada-Nya menyatu; berjalan seiring dan
saling berkelindan. Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz pernah
berkata, takwa kepada Allah itu bukan dengan terus-menerus shaum di
siang hari, shalat di malam hari atau sering melakukan kedua-duanya;
takwa kepada Allah tidak lain adalah dengan meninggalkan apa saja yang
Allah haramkan dan menunaikan apa saja yang Allah wajibkan. Siapa yang
melakukan kebaikan setelah itu, itu adalah tambahan kebaikan di atas
kebaikan.
Para Sahabat yang mulia, sebagaimana yang dinyatakan oleh Imam Ali bin
Abi Thalib kw., sering menyatakan bahwa takwa adalah:
اَلْخَوْفُ
مِنَ
الْجَلِيْلِ
وَ الْعَمَلُ
بِالتَنْزْيِلِ
وَ
اْلإِسْتِعْدَادُ
لِيَوْمِ
الرَّحِيْلِ
(Takut kepada Zat Yang Mahaagung; mengamalkan al-Quran; menyiapkan
diri untuk menyambut datangnya hari yang kekal [akhirat]).
Dengan kata lain, takwa adalah kesadaran akal dan jiwa serta
pengetahuan syar'i akan wajibnya mengambil halal-haram sebagai standar
bagi seluruh aktivitas dan merealisasikannya secara praktis ('amalî)
di tengah-tengah kehidupan. Nilai esensial dari seluruh ibadah wajib
dan sunnah pada bulan Ramadhan ini harus mewujud dalam sebuah spektrum
jiwa yang pasrah, tunduk dan sepenuhnya berjalan di bawah kesadaran
ketuhanan (ihsân). Semua ini bermuara pada sebuah kesadaran bahwa
Allahlah satu-satunya yang wajib disucikan (dengan hanya beribadah
kepada-Nya) baik di kesunyian ataupun di keramaian; dalam kesendirian
maupun berjamaah; di waktu malam ataupun siang; dalam keadan sempit
atau lapang; di daratan ataupun di lautan. Semua itu mengalir sampai
ujung batas kesempatan hidupnya.
Ketakwaan Personal dan Sosial
Takwa harus tercermin dalam kesediaan seorang Muslim untuk tunduk dan
patuh pada hukum Allah. Kesediaan kita untuk tunduk dan patuh pada
seluruh hukum syariah Islam inilah realisasi dari ketakwaan dan
kesalihan personal kita.
Secara personal, hukum syariah seperti shalat, puasa, zakat, memakai
jilbab, berakhlak mulia, berkeluarga secara islami; atau bermuamalah
seperti jual-beli, sewa-menyewa secara syar'i dan sebagainya bisa
dilaksanakan saat ini juga. Begitu ada kemauan, semua itu bisa dilakukan.
Namun, dalam konteks sosial, banyak hukum syariah yang saat ini seolah
begitu sulit dilakukan, seperti:
1. Peradilan/persanksian (misal: qishâsh, potong tangan bagi
pencuri, cambuk/rajam bagi pezina, cambuk bagi peminum khamr, dsb).
2. Ekonomi (misal: hukum tentang kepemilikan, pengelolaan kekayaan
milik umum, penghapusan riba dari semua transaksi, dsb).
3. Politik Luar Negeri (misal: dakwah ke luar negeri dan jihad/perang).
4. Kewarganegaraan (misal: hukum tentang status kafir dzimmi,
musta'min dan mu'âhad).
Kaum Muslim sesungguhnya diperintahkan untuk menjalankan semua hukum
syariah tersebut. Kaum Muslim juga diperintahkan untuk memutuskan
semua perkara di tengah-tengah masyarakat dengan hukum-hukum Allah.
Sebagaimana hukum-hukum yang bersifat personal wajib dilaksanakan,
demikian pula dengan hukum-hukum yang bersifat sosial. Hanya saja,
semua hukum yang terkait dengan pengaturan masyarakat di atas adalah
kewenangan penguasa/pemerintah, bukan kewenangan individual/personal.
Karena itu, justru di sinilah pentingnya kaum Muslim memiliki penguasa
(yakni Khalifah) dan sistem pemerintahan yang sanggup menerapkan
hukum-hukum Islam di atas (yakni Khilafah). Inilah wujud ketakwaan
kita secara sosial. Ketakwaan dan kesalihan sosial ini dengan
sendirinya mendorong kita untuk gigih memperjuangkan penerapan semua
hukum-hukum Allah terkait dengan masalah sosial kemasyarakatan tersebut.
Selama bulan Ramadhan ini, kita secara ruhiah memang dilatih untuk
meningkatkan ketundukan dan ketaatan pada syariah. Pada bulan Ramadhan
ini, hal-hal yang notabene biasa kita lakukan di luar Ramadhanseperti
makan, minum dan berhubungan suami-istriternyata bisa kita
tinggalkan. Jika yang halal saja (di luar Ramadhan) bisa kita
tinggalkan pada bulan Ramadhan ini, apalagi yang haram. Jika yang
sunnah seperti shalat tarawih, sedekah dan sebagainya saja bisa kita
lakukan, apalagi yang wajib. Artinya, dengan kemauan yang besar, semua
hukum syariah yang Allah bebankan kepada kita, pasti bisa kita
laksanakan. Ramadhan yang segera akan menyapa kita adalah madrasah
untuk mewujudkan itu semua.
Akhirnya, marilah kira merenungkan firman Allah SWT:
وَلَوْ أَنَّ
أَهْلَ
الْقُرَى
آمَنُواْ
وَاتَّقَواْ
لَفَتَحْنَا
عَلَيْهِم
بَرَكَاتٍ
مِّنَ
السَّمَاءِ
Sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, Kami akan membukakan
pintu keberkahan atas mereka dari langit dan bumi (QS al-A'raf [7]: 96).
Wallâhu a'lam bi ash-shawab. []
KOMENTAR:
Kerugian Indonesia dari kontrak ekspor gas ke Cina mencapai Rp 350
triliun (Republika, 26/8/2008).
Ironis! Gas diekspor sangat murah, sementara rakyat menjerit karena
harga gas di dalam negeri sangat mahal