*Mengapa Mesti Membaca Doa?*

Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan



*Read More*? http://indonesianlpsociety.org
*

Join the Community? [EMAIL PROTECTED]

*

Menjelang puasa, nuansa ruhani dan spiritual semakin mengelilingi kehidupan
saya. Bulan magis ini memang luar biasa. Disebut sebagai bulan kemarau, agar
orang tidak silau dengan kemudahan, dan menarik makna dari 'kesulitan'.

Baru saja saya selesai mengisi kelas 2 hari tentang aplikasi NLP di bidang
rekruitmen, saya pun mendapatkan ilmu baru. Bermula dari kebiasaan saya
untuk menerangkan apa itu NLP, sebuah ilham pun hadir di hadapan.

Neuro-Linguistic Programming, ia disebut demikian, karena sebuah alasan.
Neuro dan Linguistic, selalu dihubungkan dengan sebuah "-", karena keduanya
saling berkait. Neuro, alias saraf, adalah bahan baku dari pikiran dan
perasaan. Dan, melalui penguasaan bahasa, kita bisa melakukan intervensi
terhadap susunan saraf itu, yang otomatis berdampak terhadap pikiran dan
perasaan yang ditimbulkannya. Dengan kata lain, kita bisa melakukan
programming pada pikiran dan perasaan, juga re-programming jika program yang
lama sudah tidak sesuai dengan kondisi yang kita alami.

Dari sini, bahasa pun menjadi titik sentral bagi penentu *state*, alias
kondisi pikiran-perasaan yang kita alami. Ubah bahasanya, state pun berubah.
Katakan sesuatu yang baik, *state* pun menjadi baik. Katakan sesuatu yang
buruk, *state* pun menyesuaikan. Tidak mengherankan, orang-orang sukses
adalah mereka yang punya tabungan kosa kata baik lebih banyak daripada
mereka yang sengsara. Dan, orang-orang biasa serta orang-orang gagal adalah
mereka yang pakar dalam mengumpulkan kosa kata negatif.

*State*, pada akhirnya akan menjadi penentu perilaku yang akan kita
munculkan. *State* positif, maka orang berhutang pun akan kita hutangi. *
State* negatif, maka kita pun akan getol menagih hutang. Maka, kunci
memunculkan perilaku yang baik adalah memunculkan *state* yang positif, yang
kuncinya adalah memprogramkan bahasa yang positif. Dan, bukankah manusia
dinilai dari apa yang ia lakukan? Maka bisa dikatakan, letak kesuksesan
adalah pada kata-kata yang kita programkan pada diri kita setiap saat.

Saya pun teringat pada pertanyaan saya pada suatu waktu di masa lalu,
tentang begitu banyaknya doa yang diajarkan kepada manusia. Doa sebelum
makan, sesudah makan, mau tidur, bangun tidur, mau buang air, mau keluar
rumah, mau naik kendaraan, mau bekerja, mau berbicara di depan umum, dan
seterusnya.

Ah, saya baru sadar maknanya. Ia tidak sekedar doa, yang dijalankan sebagai
sebuah sunnah. Ia adalah sebuah cara yang diberikan Tuhan, agar manusia
senantiasa berbuat baik. Bukankah kata-kata menjadi penentu *state*, dan *
state* adalah penentu perilaku? Dan bukankah tidak ada kata-kata yang lebih
mulia daripada yang diajarkan oleh Tuhan melalui Nabi-Nya? Maka mengucapkan
doa sebelum makan, sejatinya adalah memunculkan *state* yang tepat untuk
makan, sehingga memunculkan perilaku makan yang sehat dan bermanfaat bagi
diri kita. Mengucapkan doa setelah makan, adalah memastikan kita berada
dalam *state* yang tepat untuk mengakhiri makan, sehingga tubuh kita siap
mengolahnya. Membaca doa sebelum tidur adalah memunculkan *state* yang tepat
untuk tidur, sehingga memunculkan perilaku tidur yang bisa menyegarkan diri
serta mengembalikan tenaga kita. Membaca doa naik kendaraan, adalah
menciptakan *state* yang tepat untuk mengendarai kendaraan, sehingga
memunculkan perilaku yang aman bagi diri sendiri dan orang lain.

Subhanallah! Sungguh mulia cara menakjubkan cara Tuhan menjaga ciptaan-Nya.

Saya pun penasaran, bagaimana rasanya jika saya mengucapkan doa secara
kongruen, sesuai dengan yang diajarkan oleh NLP? Jadi, tidak sekedar membaca
tanpa penghayatan seperti yang biasa saya lakukan.

Hasilnya? Subhanallah! Luar biasa! Jauh, jauh lebih menenangkan. Saya
berkendara dengan lebih tenang, sesemrawut apapun kondisi jalan. Saya makan
dengan lebih sabar, alih-alih terburu-buru seperti yang biasa saya lakukan.
Dan, semuanya itu berjalan begitu alami.

Hmm…saya penasaran, apa lagi yang akan saya dapatkan pada bulan Ramadhan
tahun ini?

Anda juga? Mari belajar dan berbagi bersama.

Dan sebelumnya, saya memohon maaf, atas segala kekhilafan yang telah saya
lakukan kepada Anda. Mudah-mudahan kita semua berada dalam state yang tepat
untuk berpuasa dan akan memunculkan perilaku yang lebih baik setelah
menjalaninya.

Taqabbalallahu minni wa minkum. Semoga Allah menerima ibadah saya dan, kita
semua.




-- 
Salam Street Smart NLP!

Teddi Prasetya Yuliawan
Indonesia NLP Society <http://indonesianlpsociety.org>

Kirim email ke