Makasih banyak Pak Johny Rusli.

Pertanyaan Bapak bisa saya jawab dengan sebuah metaphora berikut ini.

Si Budi punya sebuah notebook. Merknya Ngasus. Pentium 7, entah seberapa 
ngebutnya. 
Notebook itu luar biasa huebat untuk ukuran jaman sekarang.

Si Budi membuat slide presentasi, di MS Power Point. Slide itu hanya terdiri 
dari sebuah 
slide saja, yang isinya juga hanya sebuah tulisan saja. Apa yang tertulis di 
situ adalah: 
"Pikiran Adalah Alat".

Di dalam notebook itu, atau notebook si Budi itu, punya tiga elemen utama yaitu 
elemen 
yang bersangkutan dengan input (keyboard), dengan otak/perintah (prosesor), dan 
dengan output (layar atau monitor). Kalimat "Pikiran Adalah Alat", dimasukkan 
oleh input, 
kemudian diperintah oleh otak untuk keluar sebagai output di layar.

YANG MEMERINTAHKAN "Pikiran Adalah Alat" MUNCUL DI LAYAR ADALAH OTAKNYA 
NOTEBOOK

YANG MEMERINTAH OTAK NOTEBOOK SIAPA?

SI BUDI TENTU SAJA!

Sekarang kita tengok komputer diri kita. Ada input (panca indera), ada otak (ya 
otak kita 
itu), dan ada output (sikap, keyakinan, prinsip, perilaku, keputusan, tindakan, 
dan 
seterusnya. Semuanyanya menjawab pertanyaan apa dan bagaimana sih dunia ini 
buat 
saya?).

Jika kita suatu pagi jejingkrakan bersenam, perintah gerakan itu datang dari 
otak.
Jika kita menarik gagang pintu dalam rangka membukanya, itu perintah otak.
Jika kita menarik sendok berisi makanan mendekati mulut itu perintah otak.
Jika kita mengambil keputusan untuk menonton atau tidak menonton sebuah film, 
maka 
itu juga proses otak.
Jika kita memilih apakah mending tarawih atau dugem, itu juga urusan otak.

Lantas, seperti juga notebook tadi, siapakah yang memerintah otak?

Siapapun itu PASTI ADA!
IT'S THERE!

Sebab otak persis seperti prosesor di notebook, yang hanya akan bekerja 
melakukan 
perintah setelah mendapatkan perintah dari pihak yang lebih tinggi 
kewenangannya. 
Komputer dengan otaknya hanya bekerja jika diperintah oleh owner komputer itu.

Tubuh, pikiran, dan perasaan kita juga sama. Mereka adalah perangkat komputer 
yang 
sangat kompleks, dahsyat dan luar biasa. Mereka, bekerja tergantung pada 
perintah yang 
diberikan oleh pemilik tubuh, pikiran, dan perasaan itu.

Tangan saya mengetikkan uraian ini, diperintah oleh otak saya.
Yang suruh otak saya siapa?

Apakah SAYA = OTAK SAYA?

Atau OTAK SAYA adalah ALAT SAYA, seperti TELINGA, MATA, HIDUNG?

Jawabannya sangat tergantung pada apa yang kita yakini secara spiritual.

Ikhwan Sopa

--- In [email protected], Johny Rusly <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Dearest Pak Sopa,
>  
> Thanks for sharing di Indonesia Bisa, tanggal 28 Aug. yang lalu. Luar Biasa!
>  
> Pak Sopa, mohon maaf saya terpaksa meninggalkan acara karena ada sebuah 
kepentingan yang mendesak.
>  
> Ada satu hal yang tidak saya mengerti dan mengganjal sbb;
>  
> Menurut Bapak,
> Pikiran adalah sebuah alat, 
> alat untuk mengendalikan tindakan dan prilaku.
>  
> Tetapi apa dan siapa yang mengendalikan pikiran?
>  
> Apakah maksud Bapak, bahwa kita dapat mengendalikan pikiran secara spritual? 
>  
> Apakah itu berarti bahwa kita harus menetralkan pikiran dan melihat ke diri 
> sendiri 
melalui hati dan jiwa? seolah-olah kita keluar dari diri kita dan melihat 
kembali dengan 
hati yang bersih? 
>  
> Apakah itu berarti kita mendengar suara hati nurani untuk mengendalikan 
> pikiran?
>  
> Ilmu EDANnya sangat bermanfaat. Mudah-mudahan saya berkesempatan mengikuti 
workshopnya di lain waktu.
>  
> Terimakasih atas pencerahannya …
>  
> Sukses Selalu ya Pak,
>  
> Johny Rusly
> www.1000hari.blogspot.com
>  
>



Kirim email ke