*Apakah Saya Pasti Sembuh?* *Read More*? http://indonesianlpsociety.org
*Join the Community*? [EMAIL PROTECTED] *Upcoming Event*? Mastering Fear with NLP, 1 November 2008 Tiba-tiba saya teringat dengan seorang ibu yang menelepon untuk membuat janji proses terapi. Setelah saya menjawab berbagai pertanyaan yang ia ajukan, plus memberikan penjelasan tambahan mengenai pendekatakn NLP-Hipnosis yang saya gunakan, ia pun mengajukan pertanyaan, "Jadi, setelah melalui terapi nanti, apakah saya *pasti* sembuh?" Sejenak saya tertegun. Bukan karena tidak tahu jawabannya, melainkan karena saya melakukan* review* terhadap jawaban yang telah saya berikan sebelumnya. Jangan-jangan, penjelasan saya menimbulkan persepsi yang kurang tepat dalam benaknya. Mendengarkan kembali pertanyaan sang ibu, sebenarnya hanya ada satu kata yang menggelitik: pasti. Ya, kata ini memang memunculkan makna keniscayaan dan keajegan. Sebuah proses terapi dengan menggunakan pendekatan NLP yang belakangan sedang *booming*, seringkali dirasa sebagai cara yang niscaya memunculkan hasil kesembuhan. Sisi lain, kata tersebut juga menyelipkan sebuah presuposisi yang menarik, bahwa pendekatan selain NLP tidak bisa memastikan hasil kesembuhan. Saya kemudian jadi teringat beberapa pertanyaan lain yang diajukan oleh mereka yang ingin mempelajari NLP. *Apakah saya pasti bisa menjadi komunikator yang lebih baik kalau mengikuti pelatihan Anda?* *Apakah saya pasti bisa menjadi orang tua yang baik setelah konseling dengan Praktisi NLP?* *Apakah saya pasti bisa menjual lebih banyak setelah mempelajari NLP?* *Apakah saya pasti bisa memimpin anak buah saya agar lebih semangat begitu mempelajari NLP?* *Well*, saya senang mengibaratkan NLP, dan semua ilmu lain, adalah pisau yang begitu tajam. Di tangan seorang koki ia menjadi alat untuk membuat masakan yang enak, di tangan seorang pendekar ia menjadi senjata ampuh, di tangan seorang penjahat ia menjadi alat yang menelan korban. Hasil bukan merupakan fungsi dari ilmu itu sendiri, melainkan fungsi dari penggunaannya. Maka saya pun kemudian menjawab dengan jawaban sederhana, "Apakah Ibu pernah ke dokter?" "Tentu," jawabnya. "Apakah kalau Ibu ke dokter pasti Ibu akan sembuh?" "Ya belum tentu sih. Kalau saya nggak disiplin minum obatnya, atau nggak menjalankan pantangannya, ya bisa nggak sembuh," jawabnya lagi. "Betul. Bahkan, kalau ternyata obatnya tidak cocok karena diagnosa yang belum lengkap, bisa jadi muncul alergi dan efek samping lain," tambah saya. Ia pun tersenyum simpul. Dan saya melanjutkan, "Saya tidak mengobati Ibu dengan NLP. Saya mengajarkan Ibu caranya, dan Ibulah yang mengobati diri sendiri. Hasil akhirnya? Ibu sendiri yang menentukan, apakah akan sembuh dalam waktu satu jam, satu hari, atau satu minggu." *Mau jadi komunikator yang lebih baik? Praktikkan NLP dalam setiap proses komunikasi Anda, ke diri sendiri dan orang lain.* *Mau jadi orang tua yang lebih baik? Praktikkan NLP dalam setiap interaksi Anda dengan anak Anda.* *Mau jadi penjual yang sukses? Praktikkan NLP untuk memotivasi diri Anda dalam menjual, dan membungkus cara penjualan Anda agar lebih menarik.* *Mau jadi pemimpin yang sukses? Praktikkan NLP untuk memimpin diri Anda sendiri, dan memoles cara Anda menggerakkan anak buah Anda.* Jika Anda meyakini bahwa NLP adalah ilmu memodel, maka hakikat dari mengikuti sebuah pelatihan adalah memodel ilmu sang *trainer*. Dan memodel bukanlah proses menerima transferan ilmu, melainkan adalah proses *praktik*menirukan. Itulah sebabnya pembelajar NLP disebut sebagai Praktisi. Mengetahui menjadikan Anda berwawasan. Mempraktikkan apa yang Anda tahu menjadikan Anda berketerampilan. Memaknai apa yang Anda praktikkan menjadikan Anda berkeahlian. -- Salam Street Smart NLP! Teddi Prasetya Yuliawan Indonesia NLP Society <http://indonesianlpsociety.org>
