"Kebenaran"                     
                                                
                
                
                
                                
                
                
                
                                
                
                
                                        





        
                Tuesday, 14 October 2   





Untuk
menguasai agama tidak perlu beragama, demikian kata kaum liberal.
Itulah sebabnya mereka membuat “teologi-teologi” baru.  “Untuk menjadi
wasit tidak perlu menjadi pemain” itu logikanya
  
   
 oleh: Hamid Fahmi Zarkasy *   “Semua adalah relatif” (All is relative)
merupakan slogan generasi zaman postmodern di Barat, kata Michael
Fackerell, seorang missionaris asal Amerika.  Ia bagaikan firman tanpa
tuhan, dan sabda tanpa Nabi. Menyerupai undang-undang, tapi tanpa
penguasa. Tepatnya dokrtin ideologis, tapi tanpa partai. Slogan itu
memang enak didengar dan menjanjikan kenikmatan syahwat manusiawi. Baik
buruk, salah benar, porno tidak porno, sopan tidak sopan, bahkan dosa
tidak dosa adalah nisbi belaka. Artinya tergantung siapa yang
menilainya. 

Slogan
relativisme ini sebenarnya lahir dari kebencian. Kebencian Pemikir
Barat modern Barat terhadap agama. Benci terhadap sesuatu yang mutlak
dan mengikat. Generasi postmodernis pun mewarisi kebencian ini. Tapi
semua orang tahu, kebencian tidak pernah bisa menghasilkan kearifan dan
kebenaran. Bahkan persahabatan dan persaudaraan tidak selalu bisa
kompromi dengan kebenaran. Aristotle rela memilih kebenaran dari pada
persahabatan.   
Tidak puas dengan sekedar membenci, postmodernisn lalu ingin menguasai
agama-agama. “Untuk menjadi wasit tidak perlu menjadi pemain” itu
mungkin logikanya. Untuk menguasai agama tidak perlu beragama. Itulah
sebabnya mereka lalu membuat “teologi-teologi” baru yang mengikat. Kini
teologi dihadapkan dengan psudo-teologi. Agama diadu dengan ideologi.
Doktrin “teologi” pluralisme agama berada diatas agama-agama. “Global Theology” 
dan Transcendent Unity of Religions  mulai dijual bebas.  Agar nama Tuhan juga 
menjadi global di ciptakanlah nama “tuhan baru” yakni The One, Tuhan semua 
agama. Tapi bagaimana konsepnya, tidak jelas betul.  


Bukan hanya itu “Semua adalah relatif” kemudian menjadi sebuah kerangka
berfikir. “Berfikirlah yang benar, tapi jangan merasa benar”, sebab
kebenaran itu relatif. “Jangan terlalu lantang bicara tentang
kebenaran, dan jangan menegur kesalahan”, karena kebenaran itu relatif.
“Benar bagi anda belum tentu benar bagi kami”, semua adalah relatif.
Kalau anda mengimani sesuatu jangan terlalu yakin keimanan anda benar,
iman orang lain mungkin juga benar. Intinya semua diarahkan agar tidak
merasa pasti tentang kebenaran. Kata bijak Abraham Lincoln, “No one has the 
right to choose to do what is wrong”,
tentu tidak sesuai dengan kerangka fikir ini. Hadith Nabi Idha ra’a
minkum munkaran…dst bukan hanya menyalahi kerangka fikir ini, tapi
justru menambah kriteria Islam sebagai agama jahat (evil religion) versi 
Charles Kimbal.Jadi merasa benar menjadi seperti “makruh” dan merasa benar 
sendiri tentu “haram”. Para
artis dan selebriti negeri ini pun ikut menikmati slogan ini. Dengan
penuh emosi dan marah ada yang berteriak “Semuanya benar dan harus
dihormati”. Yang membuka aurat dan yang menutup sama baiknya. Confusing! Sadar 
atau tidak mereka sedang men “dakwah”kan
ayat-ayat syetan Nietzsche tokoh postmodernisme dan nihilisme. “Kalau
anda mengklaim sesuatu itu benar orang lain juga berhak mengklaim itu
salah”. Kalau anda merasa agama anda benar, orang lain berhak
mengatakan agama anda salah. 


      

Kirim email ke