Zen of the barbarian: The mastery of wholeness 
 
Ketika kita bekerja dalam suatu organisasi kita dihadapkan kepada suatu aturan 
perilaku atau aturan penilaian kinerja yang berlaku pada organisasi tersebut. 
Organisasi yang berbeda mungkin mempunyai aturan yang berbeda. Kemampuan kita 
untuk melihat secara keseluruhan seluruh aspek aturan tersebut dalam konteks 
organisasi tersebut, dan ukuran yang kita kenakan pada diri kita sendiri akan 
menentukan ukuran kesuksesan diri kita sendiri.
 
Pada suatu tahun, seorang PNS menjadi anggota untuk tiga tim yang berbeda yang 
melaksanakan penugasan untuk beberapa departemen (senilai sekitar 23 M). 
Kinerja timnya sukses dan mendapat pujian lisan langsung dari beberapa menteri 
departemen yang bersangkutan dan bahkan mendapatkan pujian dari kepala 
organisasi dari anggota tim yang bersangkutan karena bisa menyelesaikan 
penugasan yang kelihatannya mustahil.  Walaupun demikian karena asal 
penugasannya dari departemen yang bersangkutan, penugasan dilakukan tanpa 
memperhatikan penerbitan surat tugas, sehingga ketika pengajuan angka kredit 
anggota tim tersebut dinilai, ia hanya mendapatkan angka kredit sebesar 0,630 
selama tahun itu, beberapa angka kredit yang diajukannya bahkan ditolak tim 
penilai dengan alasan kurang bukti. Apa yang salah dengan anggota tim tersebut?
 
Ketika kita berada di suatu organisasi hal yang perlu diperhatikan ialah sistem 
dari organisasi yang bersangkutan. Dalam kasus anggota tim diatas maka 
seharusnya dia memperhatikan sistem yang berlaku di organisasi PNS tempat ia 
bernaung. Dalam organisasi PNS, penilaian kinerja dilakukan melalui angka 
kredit, angka kredit ini harus disertai surat penugasan. Angka kredit inilah 
yang akan menentukan apakah PNS yang bersangkutan bisa naik pangkat, dan 
pangkat ini berikutnya yang akan menentukan daftar urut kepangkatan PNS yang 
bersangkutan untuk dipertimbangkan dalam jabatan struktural. Kesalahan anggota 
tim tersebut ialah tidak melihat secara menyeluruh seluruh aspek penilaian 
kinerja organisasi tempat anggota tim tersebut berada; keberhasilan 
menyelesaikan penugasan yang kelihatannya mustahil, dan pujian dari menteri 
atau bahkan kepala organisasinya hanyalah penilaian kinerja secara informal 
yang tidak berpengaruh kepada penilaian kinerja organisasi secara
 formal. Hal ini karena penilaian kinerja organisasi secara formal lebih 
ditentukan oleh administrasi angka kredit dan penyelesaian penugasan, dan 
hampir bukan dinilai dari kualitas kinerja riil anggota tim yang bersangkutan. 
Pertanyaan berikutnya ialah apakah hal ini juga berlaku bagi organisasi bertipe 
lain yaitu swasta?
 
Seorang karyawan swasta senior di suatu Bank asing membina karir dari awal, 
karirnya sukses, tetapi ketika dia sudah menjadi sangat kompeten dan dengan 
bayaran gaji yang cukup tinggi, Bank tersebut memecah-mecah pekerjaan karyawan 
tersebut dan memberikannya kepada karyawan yunior yang bergaji lebih rendah. 
Pekerjaan yang dilakukan karyawan setelah pemecahan tersebut membuat karyawan 
senior tersebut menjadi tidak termotivasi untuk bekerja. Apa yang salah dari 
karyawan senior tersebut? Karyawan senior tersebut akhirnya sadar bahwa sistem 
pembinaan sumber daya manusia dalam bank tersebut sudah sangat efektif sehingga 
pegawai yang cukup kompeten tetapi bergaji tinggi dipersilakan untuk 
mengundurkan diri dan keluar dari organisasi untuk digantikan karyawan lain 
yang lebih yunior dengan gaji yang lebih rendah. Bagi bank tersebut 
kompetensilah yang dihargai, kesenioran dengan gaji tinggi hanyalah beban bagi 
organisasi.
 
Dari kedua kasus diatas maka kita bisa mengambil hikmah yaitu untuk bisa 
melihat secara keseluruhan suatu aspek dalam hidup kita sesuai dengan konteks 
dimana kita berada. Konteks berbeda (yang dalam hal diatas ialah organisasi 
yang berbeda) mungkin menerapkan sistem kinerja yang berbeda. Kemampuan kita 
untuk menempatkan diri sesuai konteks, dan mengetahui apa yang dibutuhkan untuk 
berhasil dalam konteks tersebut, menentukan keberhasilan kita dalam ukuran 
konteks tersebut. Pertanyaannya apakah hal ini juga berlaku untuk aspek lain 
dalam kehidupan kita?
 
Dalam pembelian suatu barang (misal mobil atau handphone), seorang penjual yang 
menawarkan barang yang berkualitas dengan harga mahal, menekankan aspek total 
cost of ownership (TCO) untuk mampu bersaing dengan barang lain yang mempunyai 
harga lebih rendah tetapi dengan kualitas lebih rendah. Penjual tersebut 
menyadarkan pembeli untuk menilai harga produknya dalam rentang waktu umur 
teknis produknya, produknya karena kualitas yang lebih tinggi mempunyai umur 
teknis lebih lama, dan selama rentang waktu umur teknis tersebut biaya 
pemeliharaannya lebih murah karena jarang rusak, dan bahkan dalam kasus 
tertentu kalau produk tersebut hendak dijual kembali, pembeli  masih 
mendapatkan harga jual yang cukup tinggi. Penjual tersebut meyakinkan pembeli 
bahwa harga produknya tidaklah seberapa dibandingkan manfaat produknya selama 
umur teknis produk tersebut secara relatif dibanding produk lainnya. Penjual 
tersebut meyakinkan pembeli bahwa secara menyeluruh manfaat
 dan biaya produk tersebut selama umur teknis produk, melampaui harga yang ia 
tawarkan sekarang.
 
Toyota ketika mendesain suatu mobilnya kadang menerapkan target harga mobilnya  
(price target) jauh sebelum Toyota memproduksi mobilnya. Toyota berpendapat 
bahwa targetnya adalah kemampuan produk tersebut untuk bersaing dengan produk 
lain sejenis dan diterima oleh pasar agar produk tersebut bisa menghasilkan 
laba bagi Toyota. Dengan pandangan tersebut maka Toyota kemudian menyesuaikan 
keseluruhan desain dan produksinya untuk mendapatkan target biaya yang cukup 
bagi Toyota dalam menghasilkan laba bila produk tersebut nanti dijual dengan 
target harga yang telah ditetapkan sebelumnya.
 
Kesimpulannya, kemampuan kita untuk melihat secara menyeluruh sesuatu hal dalam 
suatu konteks akan memberikan manfaat bagi kita. Oleh karena itu kita perlu 
berlatih untuk selalu melihat secara keseluruhan suatu konteks jauh sebelum 
kita melakukan suatu tindakan, bahkan untuk melihat akhir/hasil tindakan kita 
justru sebelum memulai bertindak (beginning with the end in mind (Covey)). 
Kemampuan melihat secara menyeluruh membuat kita sadar akan cause-effect dari 
perilaku kita, dan membuat kita untuk sadar untuk menyelaraskan semua usaha 
dalam mencapai tujuan kita, karena usaha yang seimbang akan mempengaruhi 
keseluruhan aspek dari pencapaian tujuan kita (Theory of constraint).
 
Akhir kata, cukup sekian dulu renungan untuk hari ini. Semoga renungannya 
bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih.

Yoyok Suyoko
http://www.yoyoksuyoko.com
"Make a life, not just a living"



      

Kirim email ke