CINTA TAK HARUS SAMA
 
 
Bu, lapar !,rengek anak kecil yang sedang berada di pangkuannya. Wanita itu 
menatap dengan lembut anaknya. Hatinya terasa teriris-iris. Dipandangi gubug 
reyot tempatnya tinggal, tidak ada sama sekali makanan yang masih tersisa. 
Hanya ada air putih yang masih tersisa di dalam kendi tanah diatas meja. 
Perlahan diraihnya kendi tanah itu dan mengulurkan kucunya ke mulut anak semata 
wayangnya. Sang anak meneguk tiga kali berusaha menghilangkan rasa lapar dengan 
meminum air.
Anak kecil itu menatap wajah ibunya dengan penuh rasa sayang, seakan ingin 
mengucapkan rasa terima kasih yang sangat dalam.   Tangan kecilnya meraih 
keatas mengusap air mata bening yang keluar dari kelopak mata ibunya.
 
”Mengapa ibu menangis”, tanya sang anak perlahan.
 
Wanita itu menghela nafas panjang, dia berfikir tidak mungkin menjelaskan apa 
yang sedang difikirkannya kepada anak kecil ini. Ini tentang beban hidupnya 
yang sangat berat, bahkan dia selalu berusaha tegar terhadap semua keterbatasan 
yang dia miliki.
 
”Nggak apa-apa kok sayang, bobok lagi saja !”,ujar sang wanita lembut seakan 
ingin menciptakan ketentraman di hati anaknya.
 
Sang anak menatap lebih dalam ke arah mata ibunya, seakan mencoba mencari tahu 
alasan mengapa ibunya menangis.
”Aku tahu beban ibu sangat berat”,celetuk polos sang anak yang membuat  ibunya 
sedikit tersentak.
”Aku tahu dengan segala keterbatasan ibu, ibu selalu berusaha untuk mencukupi 
segala kebutuhanku. Ibu menjadi buruh mencuci, kadang-kadang ibu mengumpulkan 
sisa-sisa sampah untuk dijual lagi. Aku tahu ibu melakukan itu semua agar aku 
bisa makan”, anak kecil itu terus berceloteh untuk membuat ibunya bangga.
 
”Tapi ibu tidak bisa menyekolahkanmu anakku !”,jawab sang ibu dengan penuh 
penyesalan.
 
”Ibuku sayang !”,kata sang anak sambil bangkit dari tidurnya. Diletakkan kedua 
tangannya di pangkuan ibunya seakan ingin memberikan kekuatan kepada orang yang 
paling dicintainya.
”Ibu tidak menyekolahkanku, tetapi setiap malam ibu mengajariku membaca, 
berhitung, mengaji, atau pengetahuan-pengetahuan baru dari kertas koran bekas 
yang kita kumpulkan. Semakin hari aku semakin mengerti tentang ilmu-ilmu baru, 
bahkan mungkin jauh lebih banyak dari teman-teman sebayaku”,jawab sang anak 
tulus dan bangga.
 
”Iya, tapi aku tak mampu menyekolahkanmu di SD di kampung kita. Coba kalau ibu 
mampu maka kamu nanti bisa punya ijasah melanjutkan ke sekolah yang lebih 
tinggi dan masa depanmu akan lebih baik”,sang ibu menjawab sambil tertunduk 
seakan merasa telah mengeluh terlalu dalam kepada anaknya.
 
Sang anak kecil menggeser duduknya tepat dihadapan sang ibu. Dia tersenyum 
sangat manis, dipijatnya kaki wanita didepannya. Seorang wanita cantik 
sebenarnya, tetapi nampak lebih tua dari umur yang sebenarnya, apalagi dia 
harus hidup sendiri sepeninggal suaminya.
 
”Ibuku sayang, dengan semua yang ibu bisa, ibu sudah memberikan yang terbaik 
untuk kehidupanku. Aku bersyukur karena mendapatkan limpahan kasih sayang yang 
tiada tara. Ibu selalu mengajariku semua yang seharusnya aku tahu. Ibu selalu 
berada disampingku pada saat aku membutuhkannya. Aku memang ingin sekolah di SD 
di kampung kita, tetapi aku lebih ingin mendapatkan cinta yang aku rasakan 
selama ini. Aku memang ingin hidup berlimpah ruah seperti anak-anak kecil 
sebayaku, tetapi aku lebih ingin hidup disampingmu karena aku selalu 
mendapatkan limpah ruah kasih sayang yang selama ini aku butuhkan.”.
 
Sambil mendekatkan wajah, anak kecil itu melanjutkan perkataannya, ”Bu, 
mencintai tak harus sama, ketulusan untuk mewujudkan cinta jauh lebih penting 
dari sekedar menyamakannya dengan kehidupan orang lain.”
 
Dipeluknya wanita itu dengan penuh kasih sayang, ”Bobok lagi yuk, ibu harus 
istirahat, besok kita janji jam setengah enam sudah di rumah Pak Hadi untuk 
mencuci baju”
 
Anak kecil itu menarik selimut kumalnya sampai ke dada. Membiarkan wanita itu 
berurai air mata. Tetapi kali ini bukan karena kesedihan meratapi nasib, justru 
karena syukur yang amat dalam karena Tuhan mengirimkan malaikat kecil untuk 
mendampingi dan memperkuat hidupnya.
 
 
Selamat menjalani hari dengan penuh rahmat.
 
Cahyana Puthut Wijanarka
www.peopledeveloppeople.com


      

Kirim email ke