"The Map IS the Territory"

Read More? http://indonesianlpsociety.org

Join the Community? [EMAIL PROTECTED]

Upcoming Event? *NLP for** Teachers, 15-16 November 2008*



Ya, saya baru saja memahami bahwa kebalikan dari presuposisi NLP yang umum
diyakini ini juga benar. Bagaimana tidak? Mempelajari NLP semakin dalam,
saya semakin tidak menemukan sesuatu yang dinamakan 'kenyataan'. Sebab
'kenyataan' yang saya yakini kemarin, dengan mudah berubah menjadi
'kenyataan' yang lain di hari ini. 'Kenyataan' yang saya pegang benar hari
ini, entah apakah masih akan sama dengan 'kenyataan' yang saya pegang esok.

Begitu mudah pikiran-perasaan kita mainkan dengan menggunakan warna, suara,
jarak, intensitas perasaan, sehingga sesuatu yang tadinya terasa 'nyata'
seketika menjadi tidak nyata. Begitu juga sesuatu yang tadinya khayalan
menjadi terasa benar-benar nyata. Yang pertama terjadi ketika saya
menggunakan *Swish Pattern* atau *Phobia Cure*, yang kedua ketika saya
memainkan *wellformed outcome* dalam bentuk visualisasi, auditorialisasi,
dan kinestetikalisasi.

Saya kesal pada seseorang, tinggal saya mainkan suaranya jadi seksi. Saya
tidak terlalu bergairah untuk mengikuti sebuah rapat, tinggal saya otak atik
sehingga menjadi tampak sebuah pertemuan menggairahkan. Saya lemah, letih,
lesu, tinggal saya panggil kembali perasaan semangat dan penuh energi yang
pernah saya alami.

Maka apa yang sebetulnya disebut dengan 'kenyataan'? Adakah sebenarnya yang
disebut dengan 'kenyataan' itu?

Wallahua'lam. Mungkin hanya Tuhan yang tahu, sementara kita harus selalu
menggunakan peta yang kita ciptakan untuk menciptakan 'kenyataan' bagi diri
kita sendiri.

Sejenak saya merenungkan diskusi yang berlangsung di sebuah milis, tentang
seorang luar biasa yang mengalami sesuatu yang disebut dengan 'kegagalan'
dalam rumah tangganya. Apakah memang ia mengalami 'kegagalan'? Tidakkah
penafsiran 'gagal' itu hanyalah bentuk dari penggunaan peta kita yang
mengatakan bahwa perceraian adalah sebuah 'kegagalan'? Sementara NLP
mengajarkan untuk mencari pembelajaran di balik sesuatu yang dianggap
sebagai 'kegagalan'.

Belum lagi diskusi merembet ke seorang ulama yang memutuskan berpoligami.
Benarkah 'poligami' adalah sebuah 'kegagalan' mempertahankan monogami?

Bisa ya, bisa juga tidak. Ia menjadi kegagalan, karena memang itulah peta
yang kita gunakan. Ia bisa juga menjadi sebuah pembelajaran ketika di peta
kita sudah ter-*update* konsep mengenai cara menarik pembelajaran dari
sebuah 'kegagalan'.

Well, maka diskusi itu pun menjadi tidak lagi menarik bagi saya. Sebab semua
pendapat bisa benar, bisa juga salah. Dilihat dari satu sudut dengar, ia
benar, dipindahkan sudutnya, seketika ia menjadi salah. Maka saya pun
kembalikan lagi kepada sebuah presuposisi yang cukup menyentil saya ketika
pertama kali mendengarnya, "Bukan masalah benar atau salah, tapi mana yang
lebih bermanfaat."


-- 
Salam Street Smart NLP!

Teddi Prasetya Yuliawan
Indonesia NLP Society <http://indonesianlpsociety.org>

Kirim email ke