Pak Ikwan apa kabar? Benar sekali apa yang bapak tulis, saya dan isteri dulu adalah orang yang masuk kategor Bekerja Terlalu Keras yang bapak maksud. Pagi berangkat ke kantor berdua, pulang nyambung lagi kerja extra dan Sabtu dan Minggu kerja di PT Persamin (perusahaan Sabtu Minggu). Setiap hari pulang di atas jam 23.00 dan bangun jam 4.00 ngejar sholat subuh dan siap-siap berangkat. Hampir 10 tahun "model" kerja begini kami jalankan, hasilnya luar biasa, kami "bangkrut". Pada hal pada saat kami memutuskan utk bekerja keras seperti itu kondisi kami oke-oke saja bahkan mungkin di atas rata-rata. Nah, benar seperti yang dikatan pak Ikhwan bahwa kami bekerja karena ketakutan yang luar biasa atas masa depan yang bukan kami yang mengendalikan tapi "it God,s". Sama seperti ibu itu, kami hanya punya satu orang anak umur 9 tahun sekarang, sebetulnya kebutuhan kami sedehana saja, tapi "dreams" dengan kata lain "ketakutan" yang luar biasa yang membuat kami bekerja kesetanan. Karena kami bekerja keras (gila) seperti itu kami merasakan bahwa hati kami jauh dari rasa Sabar, Syukur dan Ikhlas. Kami waktu itu percaya bahwa masa depan kamilah yang menentukan, kalau kami bekerja keras sekarang nanti kami akan menikmatinya. Sekarang setelah hampir 2 tahun kami jalani bisnis kami dengan cara antara tidak Malas dan tidak Ngoyo itu, kami mempunyai kehidupan yang jauh lebih baik. Bisnis kami tumbuh dengan baik, keluarga kami bahagia kami punya waktu lebih banyak untuk mereka. Kami tidak terlalu khawatir denga masa depan kami karena kami Ikhlas berserah diri pada Allah, bukankah Allah tidak akan membebani umatNya melebihi dari kemampuan ummatnya itu....? Terima kasih pak Ikhwan... atas hikmah ini. Salam, Taufik Arifin
L&G Risk Services We serve "All Risks" office +62 21 70302898 - fax +62 21 73449337, hp+62 081586662730 http://taufikarifin.blogspot.com http://lifeandgeneral.blogspot.com --- On Mon, 11/10/08, Ikhwan Sopa <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Ikhwan Sopa <[EMAIL PROTECTED]> Subject: [Bicara] LOA: Jangan Bekerja Terlalu Keras! To: [email protected] Date: Monday, November 10, 2008, 12:00 AM LOA: Jangan Bekerja Terlalu Keras! "Bekerja keras itu letaknya di antara malas dan ngoyo" - Ikhwan Sopa Pagi ini seorang ibu menelepon saya sembari menangis terisak-isak. Ibu ini tidak bertanya tentang apapun. Pada intinya ia hanya menumpahkan segala perasaannya tentang deraan hidup yang menurutnya makin menyiksa. Setelah Workshop E.D.A.N. selama dua hari kemarin, pagi ini setelah shalat subuh saya tidur lagi untuk mengumpulkan kembali energi baru. Saat saya tidur itulah ibu ini menelepon saya. Saya tanyakan kepadanya dari mana ia mendapatkan nomor telepon saya. Ia mengatakan bahwa seorang ustadz telah mereferensikan nama saya sebagai seseorang yang paham "The Law of Attraction". Nama saya muncul setelah ia berusaha mencari ketenangan hidup dengan berkonsultasi kepada lebih dari limapuluh orang. Saya sedikit kaget karena saya bukanlah pakar, saya hanya pengamat dan pembelajar yang tengah menempa diri menjadi praktisi. Ibu ini bercerita bahwa ia adalah seorang single parent dengan satu anak yang masih bersekolah di TK. Ibu ini juga menceritakan bahwa suaminya pergi meninggalkannya begitu saja dua tahun yang lalu. Tanpa berita dan tanpa titipan nafkah. Sejak ditinggal pergi itu, ia menjadi tulang punggung keluarga. Mengurus anak satu-satunya, mengurus orang tuanya yang sudah renta, dan mengurus adik-adiknya yang masih belum bekerja. Sambil terus terisak, ia menceritakan bagaimana dirinya begitu keras membanting tulang untuk menopang kehidupan keluarganya. Ia berbisnis dengan berdagang berbagai barang dagangan, mulai di lapak sampai di beberapa kios. Ia juga berbisnis di bidang lain termasuk bisnis perkayuan. Selain itu, ia juga menceritakan beberapa model bisnis lain yang ia terjuni. Mendengar cerita malang-melintangnya ia di berbagai lini bisnis, saya sempat tercenung. Seberapa besar sih kebutuhan seorang ibu dengan satu orang anak yang masih di TK? Kalau ia juga menanggung beban orang tua dan adik- adiknya, seberapa beratnyakah itu? Atau, begitu menakutkankah masa depan baginya? Bukankah sebagai manusia, kita hanya perlu makan tiga kali sehari? Bukankah Tuhan Maha Adil dan Maha Pemberi Rizki? Bukankah menyiapkan berbagai kebutuhan di masa depan itu mestilah seperti kita akan hidup selamanya? Saya seperti melihat adanya ketidakproporsional an antara apa yang ibu ini butuhkan dengan apa yang menurutnya perlu dikerjakan. Saya menangkap kesan bahwa ibu ini telah bekerja terlalu keras. Saya juga bisa mengira-ngira, bahwa ibu ini mulai terjebak pada berbagai tindakan yang "away" ketimbang "toward". Ibu ini seperti masuk ke dalam penjara untuk terus "berlari dari" apa yang ia takutkan, dan bukan "mengejar apa" yang ia cita-citakan. Ia terjebak masuk ke dalam sirkuit balap yang tak bergaris finish. Dengan berusaha se-empatik mungkin saya pun berkata kepadanya, "Ibu, yang namanya bekerja keras itu letaknya di antara malas dan ngoyo. Tentang malas kita sudah mengetahui bahwa Tuhan pun tidak suka pada orang malas. Tentang bekerja keras, di sinilah kita seringkali KEBABLASAN dan seolah merasa bisa menggeser kursi Tuhan". Sepanjang yang saya ketahui, esensi dasar dari The Law of Attraction adalah sabar, syukur, dan ikhlas. Dan, semua itu berada dalam time frame yang jelas bukan milik manusia. Maka, bekerja malas jelas bukan pilihan. Akan tetapi, bekerja terlalu keras juga bukan pilihan yang bijaksana. Dengan bekerja terlalu keras, belief system kita akan teracuni oleh pernyataan yang berikut ini: "Kalo nggak gini caranya, ya gimana bisa dapat?" Lha...! Tidakkah itu sama saja "mengkudeta" Tuhan dengan memposisikan diri sebagai penentu hasil? Bekerjalah dengan keras, dan tetap memberi ruang untuk keyakinan akan Tuhan sebagai Hakim yang tertinggi. Lantas, seberapa keraskah kita harus bekerja? Anda ukurlah sendiri dengan parameter ini: - Sabar, - Syukur, - Ikhlas, - di dalam kerangka waktu yang bukan milik kita. NB: Telepon ibu ini terputus saat ia mulai terangguk-angguk di tengah isaknya. Ibu, jika Anda sempat membaca ini, pertimbangkanlah untuk mengukur kembali sebab mungkin ibu sudah bekerja terlalu keras! Sukses buat Anda semua. Let It Go, Let It GOD. Ikhwan Sopa Master Trainer E.D.A.N. http://www.facebook .com/profile. php?id=714484144 &ref=profile http://milis- bicara.blogspot. com
