Alhamdulillah Pak.

Saya mengikuti perjalanan Pak Taufik dari awal, saat Pak Taufik jadi 
pembicara di Temu Darat Milis Bicara lebih dari dua tahun yang lalu.

Luarbiasa. Dalam dua tahun Pak Taufik sudah menuai hasil. Semoga ke 
depan makin cerah Pak. And bekerjalah dengan keras tapi tidak terlalu 
keras. He...he....

Sukses dan selamat buat Pak Taufik Arifin.

Sopa.
http://milis-bicara.blogspot.com

--- In [email protected], Taufik Arifin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Pak Ikwan apa kabar?
>  
> Benar sekali apa yang bapak tulis, saya dan isteri dulu adalah 
orang yang
> masuk kategor Bekerja Terlalu Keras yang bapak maksud.
> Pagi berangkat ke kantor berdua, pulang nyambung lagi kerja extra 
dan
> Sabtu dan Minggu kerja di PT Persamin (perusahaan Sabtu Minggu).
> Setiap hari pulang di atas jam 23.00 dan bangun jam 4.00 ngejar 
sholat
> subuh dan siap-siap berangkat. 
> Hampir 10 tahun "model" kerja begini kami jalankan, hasilnya luar 
biasa,
> kami "bangkrut". Pada hal pada saat kami memutuskan utk bekerja 
keras seperti
> itu kondisi kami oke-oke saja bahkan mungkin di atas rata-rata.
>  
> Nah, benar seperti yang dikatan pak Ikhwan bahwa kami bekerja 
karena 
> ketakutan yang luar biasa atas masa depan yang bukan kami yang
> mengendalikan tapi "it God,s". Sama seperti
> ibu itu, kami hanya punya satu orang anak umur 9 tahun sekarang, 
sebetulnya
> kebutuhan kami sedehana saja, tapi "dreams" dengan kata lain 
"ketakutan"
> yang luar biasa yang membuat kami bekerja kesetanan.
>  
> Karena kami bekerja keras (gila) seperti itu kami merasakan bahwa 
hati
> kami jauh dari rasa Sabar, Syukur dan Ikhlas. Kami waktu itu percaya
> bahwa masa depan kamilah yang menentukan, kalau kami bekerja
> keras sekarang nanti kami akan menikmatinya. 
>  
> Sekarang setelah hampir 2 tahun kami jalani bisnis kami dengan cara
> antara tidak Malas dan tidak Ngoyo itu, kami mempunyai kehidupan
> yang jauh lebih baik. Bisnis kami tumbuh dengan baik, keluarga kami
> bahagia kami punya waktu lebih banyak untuk mereka. Kami tidak
> terlalu khawatir denga masa depan kami karena kami Ikhlas berserah
> diri pada Allah, bukankah Allah tidak akan membebani umatNya 
> melebihi dari kemampuan ummatnya itu....?
>  
> Terima kasih pak Ikhwan... atas hikmah ini.
>  
>  
> Salam,
>  
>  
> Taufik Arifin 
> 
> 
> L&G Risk Services 
> We serve "All Risks"
> 
> office +62 21 70302898 - fax +62 21 73449337, hp+62 081586662730 
> http://taufikarifin.blogspot.com
> http://lifeandgeneral.blogspot.com
> 
> 
> --- On Mon, 11/10/08, Ikhwan Sopa <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> From: Ikhwan Sopa <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: [Bicara] LOA: Jangan Bekerja Terlalu Keras!
> To: [email protected]
> Date: Monday, November 10, 2008, 12:00 AM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> LOA: Jangan Bekerja Terlalu Keras!
> 
> "Bekerja keras itu letaknya di antara malas dan ngoyo" - Ikhwan Sopa
> 
> Pagi ini seorang ibu menelepon saya sembari menangis terisak-isak. 
> Ibu ini tidak bertanya tentang apapun. Pada intinya ia hanya 
> menumpahkan segala perasaannya tentang deraan hidup yang menurutnya 
> makin menyiksa.
> 
> Setelah Workshop E.D.A.N. selama dua hari kemarin, pagi ini setelah 
> shalat subuh saya tidur lagi untuk mengumpulkan kembali energi 
baru. 
> Saat saya tidur itulah ibu ini menelepon saya.
> 
> Saya tanyakan kepadanya dari mana ia mendapatkan nomor telepon 
saya. 
> Ia mengatakan bahwa seorang ustadz telah mereferensikan nama saya 
> sebagai seseorang yang paham "The Law of Attraction". Nama saya 
> muncul setelah ia berusaha mencari ketenangan hidup dengan 
> berkonsultasi kepada lebih dari limapuluh orang. Saya sedikit kaget 
> karena saya bukanlah pakar, saya hanya pengamat dan pembelajar yang 
> tengah menempa diri menjadi praktisi.
> 
> Ibu ini bercerita bahwa ia adalah seorang single parent dengan satu 
> anak yang masih bersekolah di TK. Ibu ini juga menceritakan bahwa 
> suaminya pergi meninggalkannya begitu saja dua tahun yang lalu. 
Tanpa 
> berita dan tanpa titipan nafkah.
> 
> Sejak ditinggal pergi itu, ia menjadi tulang punggung keluarga. 
> Mengurus anak satu-satunya, mengurus orang tuanya yang sudah renta, 
> dan mengurus adik-adiknya yang masih belum bekerja.
> 
> Sambil terus terisak, ia menceritakan bagaimana dirinya begitu 
keras 
> membanting tulang untuk menopang kehidupan keluarganya. Ia 
berbisnis 
> dengan berdagang berbagai barang dagangan, mulai di lapak sampai di 
> beberapa kios. Ia juga berbisnis di bidang lain termasuk bisnis 
> perkayuan. Selain itu, ia juga menceritakan beberapa model bisnis 
> lain yang ia terjuni.
> 
> Mendengar cerita malang-melintangnya ia di berbagai lini bisnis, 
saya 
> sempat tercenung.
> 
> Seberapa besar sih kebutuhan seorang ibu dengan satu orang anak 
yang 
> masih di TK? Kalau ia juga menanggung beban orang tua dan adik-
> adiknya, seberapa beratnyakah itu? Atau, begitu menakutkankah masa 
> depan baginya? Bukankah sebagai manusia, kita hanya perlu makan 
tiga 
> kali sehari? Bukankah Tuhan Maha Adil dan Maha Pemberi Rizki? 
> Bukankah menyiapkan berbagai kebutuhan di masa depan itu mestilah 
> seperti kita akan hidup selamanya?
> 
> Saya seperti melihat adanya ketidakproporsional an antara apa yang 
ibu 
> ini butuhkan dengan apa yang menurutnya perlu dikerjakan. Saya 
> menangkap kesan bahwa ibu ini telah bekerja terlalu keras. Saya 
juga 
> bisa mengira-ngira, bahwa ibu ini mulai terjebak pada berbagai 
> tindakan yang "away" ketimbang "toward".
> 
> Ibu ini seperti masuk ke dalam penjara untuk terus "berlari dari" 
apa 
> yang ia takutkan, dan bukan "mengejar apa" yang ia cita-citakan. Ia 
> terjebak masuk ke dalam sirkuit balap yang tak bergaris finish.
> 
> Dengan berusaha se-empatik mungkin saya pun berkata kepadanya, 
"Ibu, 
> yang namanya bekerja keras itu letaknya di antara malas dan ngoyo. 
> Tentang malas kita sudah mengetahui bahwa Tuhan pun tidak suka pada 
> orang malas. Tentang bekerja keras, di sinilah kita seringkali 
> KEBABLASAN dan seolah merasa bisa menggeser kursi Tuhan".
> 
> Sepanjang yang saya ketahui, esensi dasar dari The Law of 
Attraction 
> adalah sabar, syukur, dan ikhlas. Dan, semua itu berada dalam time 
> frame yang jelas bukan milik manusia.
> 
> Maka, bekerja malas jelas bukan pilihan. Akan tetapi, bekerja 
terlalu 
> keras juga bukan pilihan yang bijaksana. Dengan bekerja terlalu 
> keras, belief system kita akan teracuni oleh pernyataan yang 
berikut 
> ini:
> 
> "Kalo nggak gini caranya, ya gimana bisa dapat?"
> 
> Lha...! Tidakkah itu sama saja "mengkudeta" Tuhan dengan 
memposisikan 
> diri sebagai penentu hasil?
> 
> Bekerjalah dengan keras, dan tetap memberi ruang untuk keyakinan 
akan 
> Tuhan sebagai Hakim yang tertinggi.
> 
> Lantas, seberapa keraskah kita harus bekerja? Anda ukurlah sendiri 
> dengan parameter ini:
> 
> - Sabar,
> - Syukur,
> - Ikhlas,
> - di dalam kerangka waktu yang bukan milik kita.
> 
> NB: Telepon ibu ini terputus saat ia mulai terangguk-angguk di 
tengah 
> isaknya. Ibu, jika Anda sempat membaca ini, pertimbangkanlah untuk 
> mengukur kembali sebab mungkin ibu sudah bekerja terlalu keras!
> 
> Sukses buat Anda semua.
> Let It Go, Let It GOD.
> 
> Ikhwan Sopa
> Master Trainer E.D.A.N.
> http://www.facebook .com/profile. php?id=714484144 &ref=profile
> http://milis- bicara.blogspot. com
>


Kirim email ke