*Mumpung Krisis*

Read More? http://indonesianlpsociety.org

Join the Community? [EMAIL PROTECTED]

Upcoming Event? *NLP for Teachers, 15-16 November 2008*



Krisis ekonomi global. Nilai rupiah menurun. Dolar semakin tinggi. IHSG
menakutkan. Ekspor menurun. Budget dipotong. Karyawan dikurangi.

Para presiden pusing. Para menteri pening. Para pialang kriting.

Jika Anda sama dengan saya, maka kata-kata di atas adalah kata-kata favorit
berbagai media beberapa minggu belakangan. Sampai-sampai, saya menemukan
sebuah lelucon yang menceritakan seorang anak yang mengatakan bahwa ayahnya
bekerja di klub gay, alih-alih jujur mengakui bahwa sebenarnya sang ayah
bekerja di Lehmann Brothers!

Sisi lain, saya cukup terkejut karena kakak ipar saya tiba-tiba sering
mengajak kami berjalan-jalan dan mentraktir di akhir pekan. Usut punya usut,
rupanya ia digaji dengan dolar, sehingga pundi-pundinya tentu terisi dengan
lebih penuh dari biasanya.

Saya pun putar otak agar berita-berita tersebut tidak meracuni pikiran dan
perasaan saya. Toh, tidak ada yang bisa kita lakukan, kecuali melakukan yang
terbaik dalam tanggung jawab kita, bukan? Untunglah, sebuah tulisan menarik
saya temukan pagi ini. Judulnya adalah "Aji Mumpung Yuk!" Berikut ini saya
uraikan hal-hal yang menarik diuraikan oleh sang penulis, Sony Gunawan.

Mumpung dalam Bahasa Indonesia berarti 'kebetulan'. Atau jika ditelaah lagi,
ia bisa berarti 'saat masih ada kesempatan'. Maka mumpung ada uang berari
'kebetulan ada uang' atau 'saat masih memiliki uang'. Mumpung masih muda?
Ya, saat masih berusia muda.

Memang, seringkali kata mumpung ini menjadi memiliki konotasi negatif ketika
disandangkan dengan kata 'aji' sehingga menjadi 'aji mumpung'. Apalagi jika
sudah dikaitkan dengan dengan status pejabat, artis, dll, kata aji mumpung
seolah-olah menjadikan sang pelaku seseorang dengan kehinaan yang tiada
tara.

Apakah memang demikian artinya?

Hmm...tidak juga menurut saya. Mari kita simak contoh kalimat 'mumpung
masing muda, maka belajar dan bekerja keraslah'. Baik, bukan? Atau, 'mumpung
sedang banyak uang, maka perbanyaklah menabung dan bersedekah'. Bukankah
mulia jadinya?

Nah, telusur punya telusur, saya justru semakin menemukan bahwa kata mumpung
ini menarik, sebab ia memaksa kita untuk berorientasi solusi, terutama jika
disandingkan dengan hal-hal yang terkesan negatif. Coba kita lengkapi
kalimat berikut.

Mumpung harga lagi mahal, ...

Mumpung perusahaan sedang berhemat, ...

Mumpung rupiah sedang turun, ...

Kalau Anda sama dengan saya, maka jawaban yang muncul adalah:

Mumpung harga lagi mahal, maka saatnya berhenti yang tidak perlu.

Mumpung perusahaan sedang berhemat, maka saatnya berpikir lebih kreatif
untuk bekerja lebih efisien agar perusahaan tetap untung.

Mumpung rupiah sedang turun, maka saatnya membeli barang produksi dalam
negeri, kan efeknya buat kebaikan kita juga.

Menarik, bukan?

Nah, saya jadi penasaran. Jika saya tuliskan: Mumpung lagi krisis, ...

Kalimat positif apa kah yang akan Anda tuliskan?



-- 
Salam Street Smart NLP!

Teddi Prasetya Yuliawan
Indonesia NLP Society <http://indonesianlpsociety.org>

Kirim email ke