Jujur Itu Langgeng

"Kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana." 
-- Anonim
 
HAMDAN adalah sebuah anomali. Dia pergi ke kantor hanya dengan 
mengendarai sepeda motor yang sudah butut. Helmnya pun bau apak. 
Jaketnya kumal. Padahal Hamdan merupakan orang penting di sebuah 
perusahaan. Dialah yang menjadi pengatur keluar masuknya barang yang 
menjadi komoditas perusahaannya. Hamdan berkali-kali mengatakan 
dirinya hanya berusaha keras menjalankan pekerjaan dengan baik. 
Sehari-hari dia mencatat dengan penuh ketelitian, agar jangan sampai 
satu barang pun lenyap ataupun nyelonong ke tempat lain.
 
Ketelitian menjadi panglima. Kejujuran menjadi napas dalam hidupnya. 
Berkali-kali dia berperang dengan sikapnya itu. Tatkala keluarganya 
membutuhkan uang berlebih untuk sebuah keperluan, dia hanya 
mengandalkan tabungannya yang tak seberapa. Begitu selalu. Hamdan 
pun dicap sebagai orang aneh. 

Hingga pada suatu saat ketika Hamdan telah pensiun, mantan koleganya 
menghubunginya meminta bertemu. Ternyata koleganya memintanya 
mengelola pendistribusian barang-barang di perusahaannya. Tentu 
dengan gaji dan fasilitas yang menggiurkan, yang tidak didapatkan 
oleh Hamdan di perusahaan sebelumnya. Sang kolega pun berbaik hati 
dengan menawarkan kerjasama kepada Hamdan bila berminat, untuk 
menaruh saham di perusahaan tersebut. Hamdan tak membuang kesempatan 
emas ini. Jadi Hamdan tidak hanya mengelola, tapi juga diberi 
kesempatan memiliki perusahaan yang ditanganinya sekarang. 

Rupanya, inilah buah kejujuran yang dimiliki Hamdan. Sang kolega 
mempercayai penuh kejujuran yang dimiliki Hamdan, ditambah dengan 
kecakapannya mengelola pendistribusian barang. 

Kejujuran, dan juga kisah Hamdan sendiri, memang menjadi sesuatu 
yang aneh dan langka. Tak usah mencari jauh-jauh contohnya. Bacalah 
koran, tonton tivi, atau dengarlah radio. Setiap hari kita jumpai 
kasus korupsi, perampokan, penipuan, pencurian, tindak kekerasan, 
perselingkuhan, atau kasus kriminal lainnya. Kesemuanya bermuara 
pada satu hal, bahwa komitmen mengenai kejujuran tidak terpenuhi.
 
Jujur tak hanya diartikan secara harfiah sebagai 'berkata benar, 
mengakui atau memberikan suatu informasi yang sesuai dengan 
kenyataan dan kebenaran'. Tapi juga dalam pengertian yang lebih 
luas, tidak berbohong, tidak menipu, tidak mencuri, tidak korupsi, 
tidak berbuat tindak kekerasan, tidak melakukan selingkuh, dan 
sejumlah `tidak' lainnya, merupakan bentuk lain dari sebuah 
kejujuran.
 
Oleh karena itu kejujuran membutuhkan komitmen untuk pemenuhan 
kejujurannya. Dalam jenis pekerjaan apapun, nilai sebuah kejujuran 
tak bisa ditawar-tawar lagi. Anda harus memegang teguh pada komitmen 
dimanapun Anda berada dan bekerja. Tidak boleh berbohong. Tidak 
boleh menipu. Tidak boleh merekayasa. Bagaimana Anda mau dikatakan 
jujur, jika hendak menjadi caleg saja harus menyogok. Bagaimana Anda 
mau dikatakan jujur, jika Anda membohongi publik dengan aksi 
menggoreng saham, yang nilai sahamnya memang tidak sebanding dengan 
nilai buku perusahaan.
 
Lantas, bagaimana agar nilai-nilai kejujuran dapat terus berkembang? 
Kejujuran sesungguhnya dapat ditularkan. Sama seperti virus, ia 
dapat menyebar dengan cepat. Suri tauladan yang baik selalu berawal 
dari atas. Dalam psikologi, dikenal prinsip modelling. Artinya murid 
akan dengan mudah meniru perilaku tertentu melalui proses peniruan 
terhadap model. Siapa saja dapat bertindak sebagai model. Pemimpin, 
orangtua, guru, orang-orang yang mempunyai banyak penggagum, ataupun 
orang-orang yang mempunyai pengikut. Jadi, bila pemimpinnya tidak 
jujur, sulit mengharapkan rakyatnya juga berlaku jujur. Jika seorang 
pejabat korupsi, jangan salahkan kalau bawahannya ikut-ikutan 
korupsi. Dan, jangan juga salahkan sang anak yang malas belajar 
karena asik menonton televisi, sementara sang anak melihat ibunya 
asik menonton sinetron. 
 
Ada pendapat yang mengatakan bahwa kejujuran sulit diterapkan dalam 
dunia bisnis dan politik. Pertimbangan moral dikesampingkan dan 
lebih mengedepankan nafsu untuk mencari untung atau kekuasaan 
semata. Benarkah demikian? Sebaliknya. Padahal, kejujuran akan 
membawa pada kelanggengan. Kepercayaan, lebih-lebih dalam dunia 
bisnis, membutuhkan prasyarat bernama karakter. Karakter dibangun 
dari dua hal utama; kejujuran dan tanggung jawab. Kejujuran 
berbicara tentang moralitas dan etika. Sedangkan tanggung jawab 
berhubungan dengan kompetensi. Di negeri ini, banyak pebisnis yang 
sukses dan politisi yang dikenang hingga kini karena kejujuran yang 
dianutnya selama ini. Nilai-nilai yang mereka anut untuk: tidak 
ngembat sana-sini, tidak ngemplang, tidak sikut kanan-kiri, tidak 
merekayasa nilai proyek, tidak mengulur-ulur penjualan saham, atau 
tidak ngadalin mitra kerjanya. 

Oleh karena itu kejujuran membutuhkan pengorbanan untuk menunda 
kesenangan. Meniti dan mencapai hasil sesuai dengan usaha tanpa 
harus memark-up atau menipu. Apa enaknya, bila kesuksesan diraih 
dengan begitu cepat, tetapi dengan mengorbankan nilai-nilai 
kejujuran. Hidup tak tentram, tidurpun tak nyenyak.
 
Kejujuran memerlukan kesadaran untuk paham akan batas kelemahan diri 
sendiri dan tidak sungkan untuk mengaku salah. Dan juga sebaliknya, 
bersedia memaafkan kelemahan orang lain. Kejujuran juga berarti 
sadar bila tidak mampu dalam mengerjakan sesuatu. Jika kemampuan 
Anda mengangkat beban hanya lima kilo, jangan memaksakan Anda 
mengangkat hingga mencapai sepuluh kilo. Jika harga saham 
sesungguhnya hanya seribu perak, jangan dipaksakan dijual lima ribu 
perak. 

Kejujuran merupakan salah satu kunci untuk mengatasi masalah hidup 
berbangsa dan bermasyarakat di negeri ini. Seperti pepatah lama 
Belanda yang mengatakan, eerlijk duurt 't langst, jujur itu 
langgeng. Percayalah. (030908)
 
Sumber: Jujur Itu Langgeng oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di 
Jakarta


Kirim email ke