*Pertanyaan di Saat Krisis*

*Read More*? http://indonesianlpsociety.org

*Join the Community*? [EMAIL PROTECTED]

*Upcoming Event*? NLP for Teachers, 15-16 November 2008



Khawatir. Demikian kata yang akrab dengar beriringan dengan merebaknya
berita tentang krisis ekonomi global yang muncul beberapa waktu
belakangan.Betapa tidak? Beberapa rekan sudah merasakan sendiri pemangkasan
yang dilakukan oleh perusahaannya. Rekan yang lain bahkan sudah diberi paket
hemat untuk dapat bekerja secara mandiri atau mencari perusahaan lain yang
mampu mempekerjakan mereka.

Semua karena apa?

Krisis. Krisis. Krisis. Begitu kata orang. Harga naik karena krisis. Kredit
macet meningkat karena krisis. Penjualan menurun karena krisis. Budget
dipotong karena krisis. Saham anjlok karena krisis. Krisis. Krisis. Krisis.

Saya pikir-pikir, malang betul ya nasib makhluk yang bernama krisis ini.
Tapi omong-omong, apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan krisis itu?

Secara harfiah, krisis dapat diartikan sebagai sebuah titik balik, situasi
yang tidak stabil, perubahan yang tiba-tiba, perubahan yang menekan, dsb.
Menariknya, meskipun kata krisis merupakan kata benda, ia memiliki makna
yang sama sekali bukan benda. Coba cermati beberapa definisi yang saya
sebutkan tadi, bukankah Anda sepakat kalau kesemuanya menunjukkan adanya
proses?

Nah, model kata benda seperti ini di dalam ilmu bahasa seringkali disebut
dengan nominalisasi atau terjemahan bebasnya adalah pembendaan. Dengan kata
lain, ia adalah sebuah proses yang panjang, yang untuk memudahkan proses
komunikasi kemudian diberi label agar mudah untuk disebut. Contoh lain
adalah kata pekerjaan, yang merupakan pembendaan dari proses bekerja.

Loh, kok jadi membahas bahasa?

Begini ceritanya. Karena dianggap sebagai benda, maka krisis dianggap
sebagai sesuatu makhluk asing yang tidak menyenangkan yang datang secara
tiba-tiba tanpa diundang. Pertanyaannya, benarkah krisis adalah makhluk yang
demikian?

Sekilas, bisa jadi tampaknya demikian. La wong tadinya aman tentram, kok
tiba-tiba harga naik, saham turun, investasi amblas, dst. Tapi, apa iya itu
yang sebenarnya terjadi?

Jika Anda pernah mengamati bagaimana krisis ekonomi global terjadi, maka
Anda tentu sepakat dengan saya bahwa krisis ini hanyalah sebuah titik puncak
dari serangkaian perjalanan sistem ekonomi kapitalis yang memang telah
dianut oleh sebagian besar negara di dunia. Ia mirip dengan kanker, yang
juga tidak datang secara mendadak, melainkan berproses sedikit demi sedikit
hingga pada suatu ketika merenggut kesehatan penderitanya secara drastis.

Terus, apa gunanya kita memahami hal ini?

Sangat berguna. Sebab kata-kata yang dibendakan, akan menimbulkan efek
stagnan dalam pikiran dan perasaan kita. Maka krisis seolah-olah akan
menjadi sesuatu yang berat dan sulit diubah. Sisi lain, karena dianggap
benda, maka kita pun berharap ia bisa pergi begitu saja, dibuang layaknya
benda yang sudah usang. Atau, ya, setidak-tidaknya ada seorang *super
hero*penyelamat yang akan membantu kita membuangnya. Nah, yang
terakhir ini cukup
banyak kita temukan di berbagai media, salah satunya terkait dengan
terpilihnya Obama sebagai presiden Amerika. "Obama terpilih, saham malah
anjlok", "Obama terpilih, penjualan senjata meningkat", "Obama terpilih,
harapan bagi pulihnya ekonomi dunia."

Saya tidak tahu dengan Anda, hanya bagi saya, memandang krisis dengan cara
seperti ini hanya akan memperlambat proses pemulihannya. Jika krisis datang
secara bertahap, pelan tapi pasti, menggerogoti sedikit demi sedikit, maka
ia pun akan pulih jika kita membenahi sumber masalahnya dengan cara pandang
yang sama. Kita tentu tahu bahwa penyakit kanker seringkali justru bertambah
parah justru karena ia langsung dibuang melalui operasi, bukan?

Lalu, apa donk yang bisa kita lakukan?

Menggunakan analogi kanker tadi, pengobatan dan pencegahan kanker yang
efektif harus dimulai dari perubahan mendasar gaya hidup dan pola pikir. Maka
dalam konteks krisis ini, kita bisa memulai dari perubahan mendasar cara
kita memaknai krisis. Setidaknya ada 2 pertanyaan ampuh yang bisa kita
tanyakan untuk mengubah persepsi kita tentang krisis. Tanyakan pada diri
Anda:

Apa yang *menghalangi* saya untuk bisa mengatasi keadaan ini dan sukses di
masa mendatang?

Jawaban dari pertanyaan itu akan membukakan kita akan berbagai penghalang
yang secara tidak sadar kita pegang terus-menerus. Nah, kalau sudah dibuka,
ia bisa dibongkar dengan pertanyaan:

Sejak kapan saya *memutuskan* untuk memiliki penghalang tersebut?

Loh, kok memutuskan?

Ya, sebab setiap hal yang kita miliki sebenarnya adalah hasil keputusan kita
sendiri. Kita sakit, karena pernah ada masanya kita *memutuskan*—tanpa
disadari—untuk memakan makanan yang tidak sehat dan malas berolahraga. Kita
bangkrut, sebab pernah suatu ketika kita merasa puas dengan pencapaian kita,
dan *memutuskan* untuk tidak mengantisipasi resiko di masa depan.

Jika sudah tahu jawabannya, maka...

Ups! UUD 45 saja bisa diamandemen. PKS saja bisa kadaluarsa. SK saja bisa
dicabut. Mengapa tidak kita cabut keputusan itu, dan menggantinya dengan
keputusan yang lebih memberdayakan?

Ya, kecuali, Anda tetap ingin terus-menerus menjadi korban sih. (TYU)


-- 
Salam Street Smart NLP!

Teddi Prasetya Yuliawan
Indonesia NLP Society <http://indonesianlpsociety.org>

Kirim email ke