*Apa Sih NLP Itu? (Lagi)*

*Read More*? http://indonesianlpsociety.org

*Join the Community*? [EMAIL PROTECTED]

*Upcoming Event*? *NLP for Teachers, 13-14 Desember 2008*



Masih saja mendengar pertanyaan seperti ini dari beberapa orang yang membaca
tulisan saya sebelumnya <http://indonesianlpsociety.org/?p=86>, maka saya
pun menggunakan jurus lain.

"OK, Anda pernah kesal?" tanya saya.

"Ya jelas pernah lah," jawab orang tersebut.

"Coba ceritakan salah satunya."

"Mm...terakhir kali, kesel banget tuh, sama tetangga saya."

"Wah, bagus. Bagaimana Anda bisa kesal?"

"Ya, dia kan lagi bangun rumah. Berisik banget! Saya ingatkan agar tidak
terlalu menganggung tetangga, eh, malah dia marah-marah. Naik pitam lah
saya."

"Maaf, yang tanyakan adalah, bukan 'Mengapa Anda kesal?', tapi 'Bagaimana
Anda bisa kesal?'"

"Loh, apa bedanya? Ya itu tadi penyebabnya."

"Nah, itu dia bedanya. Saya tidak bertanya penyebabnya. Saya bertanya proses
menjadi kesalnya itu."

"Oh, maksudnya?"

"Misalnya, ada orang yang pada awalnya biasa saja, tapi begitu mendengar
nama orang tuanya di sebut-sebut, maka ia tiba-tiba naik pitam. Jadi,
prosesnya adalah mendengar nama orang tuanya disebut, lalu dia naik pitam.
Nah, Anda bagaimana?"

"Oh, begitu. Ya, waktu dia bilang, 'Dimana yang namanya bangun rumah ya
berisik Pak. Kalau mau pindah rumah aja dulu,' saya jadi naik pitam."

"Apa persisnya yang membuat Anda naik pitam?"

"Maksudnya?"

"OK, coba saya yang bilang ke Anda seperti itu ya, 'Dimana yang namanya
bangun rumah ya berisik Pak. Kalau mau pindah rumah aja dulu,' apa perasaan
Anda?"

"Biasa aja tuh."

"Nah, kalau begitu apa yang membuat perkataan itu kalau dikatakan oleh
tetangga Anda lalu bisa membuat Anda naik pitam?"

"Ah, cara ngomongnya itu lho. Nggak ngenakin banget. Sinis gitu kayaknya.
Nadanya agak tinggi lagi."

"Nah, itu yang saya maksud. Itulah NLP."

"Loh, kok? Apa hubungannya?"

"Ya banyak. NLP itu kan bagaimana Anda menggunakan bahasa atau kata-kata
untuk mempengaruhi program di dalam neurologi Anda. Nah, perasaan marah,
atau naik pitam itu, itu kan tidak lebih dari susunan saraf. Dan, Anda baru
saja menjawab sendiri soal program. Yaitu, ketika tetangga Anda berbicara
dengan cara tertentu, maka Anda merespon dengan naik pitam. Sedangkan kalau
saya yang berbicara dengan kalimat yang persis sama, tapi dengan cara yang
berbeda, Anda biasa saja. Bisa disimpulkan sementara ini, kalau seperti
itulah salah satu cara bekerja program naik pitam Anda," urai saya panjang
kali lebar kali tinggi.

"Oooooh...begitu....."

"Ya, begitu lah kira-kira. Nah, coba sekarang, apa program Anda untuk
bahagia?"

"Mm...berarti, bagaimana cara saya bisa bahagia ya?"

"Betul!"

"Pengalaman terakhir kali sih, waktu maju ke panggung pas diberi penghargaan
karyawan teladan."

"Nah, bagaimana Anda memunculkan perasaan bahagia itu?"

"Mm...Waktu itu, nama saya disebut oleh pembawa acara untuk naik ke
panggung. Terus, ada suara musik yang menggelegar. Tiba-tiba saya merasa
luar biasa!"

"Aha, seperti apa rasanya?"

"Wah, luar biasa lah pokoknya. Tidak bisa tergambarkan dengan kata-kata."

Ketika saya melihat wajahnya berubah begitu drastis, saya berasumsi bahwa ia
sedang terasosiasi dengan kondisi bahagia itu. Maka tanpa dia sadari, saya
pun memasang sebuah *anchor* sentuhan pada lengan atas kirinya.

"Eh, tadi Anda tanya soal NLP kan?"

"Eh, iya. Sori ya Pak."

"Nggak apa. OK, jadi, ketika Anda bahagia...," saya picu *anchor *di lengan
atas kirinya. Dan, seketika wajahnya berubah lagi. "Ini yang Anda rasakan?
Apa yang muncul?"

"Wah, mantab Pak. Suara musik itu seperti terdengar lagi."

"Nah, itu juga NLP."

"Hah? Maksudnya?"

"Anda punya program bahagia. Baru saja saya lakukan sedikit modifikasi pada
program tersebut, dengan memasang sebuah stimulus di lengan kiri atas Anda.
Stimulus ini biasa disebut *anchor*. Fungsinya adalah pemicu untuk
memunculkan sebuah kondisi pikiran-perasaan tertentu, tanpa perlu
repot-repot mengingatnya kembali."

"Wah, bisa begitu ya?"

"Tentu. Inilah yang di artikel saya sebelumnya saya maksud dengan melakukan
reprogram terhadap program yang sudah ada di diri kita. Namanya kan
Neuro-Linguistic Programming. Nah, kata program memiliki asumsi bahwa ia
bisa diinstal, uninstal, dikode ulang, dan di-reinstal, layaknya program
komputer. Program komputer itu kan merupakan model dari program dalam diri
kita, *anyway*," jelas saya lagi panjang kali lebar kali tinggi.

"Wah, saya mengerti sekarang. Rupanya begitu ya."

"Kira-kira begitulah."

"Kok kira-kira terus sih pak?"

"Ya, karena saya juga tidak tahu apa kah memang ini yang sebenarnya terjadi
di dalam diri kita atau tidak. Yang jelas, inilah 'buku manual' yang coba
disusun oleh NLP. Lebih spesifiknya, ini adalah *pemahaman* seorang Teddi
terhadap 'buku manual' yang disusun oleh NLP. Tapi, yang paling tahu
kebenarannya ya hanya Sang Pencipta lah. Karena itulah, para penggagas NLP
selalu melakukan perbaikan di sana sini. Evolusi belum selesai. NLP yang
sekarang beda dengan yang dulu. Bisa jadi juga beda dengan yang akan datang.
Tapi, sementara ini, ya seperti inilah NLP."

"Hmm...OK deh Pak kalau begitu."

Nah, rekan-rekan NLPers pembaca yang budiman. Saya tidak tahu apakah Anda
setuju atau tidak. Namun yang pasti saya baru benar-benar memahami sesuatu
ketika ia telah saya praktikkan sendiri. Sebuah bacaan adalah stimulus bagi
saya untuk mengalami dan menemukan kunci-kunci rahasianya. Maka jika Anda
setuju, mengapa tidak Anda mempraktikkan saja latihan yang saya lakukan
bersama seorang rekan di atas? Mari kita eksplorasi program yang kita miliki
untuk memunculkan kondisi bahagia, syukur, pembelajaran yang mudah,
dan...apa saya yang Anda inginkan.

Dan, agar pembelajaran yang Anda lakukan itu segera terinternalisasi dan
memunculkan pembelajaran baru, Anda boleh menuliskan komentar Anda di bawah
website <http://indonesianlpsociety.org/?p=92>.



-- 
Salam Street Smart NLP!

Teddi Prasetya Yuliawan
Indonesia NLP Society <http://indonesianlpsociety.org>

Kirim email ke