Orientasi Ilmu Pengetahuan Tidak lebih dan tidak kurang, diciptakannya akal dan segala perkembangannya, adalah agar kita beriman dan makin beriman kepada Allah SWT.
Berikut ini saya kutipkan tulisan dari buku "Pengantar Studi Ilmu Al-Quran" karangan Syaikh Manna Khalil Al-Qaththan khususnya dari Bab III tentang Wahyu. ===== Perkembangan dunia ilmu telah maju dengan pesat, dan cahayanyapun menerangi segala keraguan yang selama ini meliputi diri manusia tentang masalah apa di balik materi (alam ruh). Materialisme yang selama ini meletakkan segalanya di bawah bentuk percobaan dan eksperimen, mulai percaya terhadap dunia gaib yang berada di balik dunia nyata ini, bahwa alam gaib itu lebih rumit dan lebih dalam daripada alam nyata, dan bahwa sebagian besar penemuan modern menjadikan pikiran manusia menyingkap rahasia yang tersembunyi, yang hakekatnya tidak bisa dipahami oleh ilmu itu sendiri, meskipun pengaruh dan gejalanya bisa diamati. Yang demikian ini telah mendekatkan jarak antara kepada pengingkaran terhadap agama-agama dan keimanan. Itu relevan dengan firman Allah Azza wa Jalla, "Akan kami perlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Quran itu benar adanya" (Fushilat: 53) "Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit" (Al-Isra: 85) ===== Bagi Allah, bukan hal yang sulit dalam memilih di antara hamba-hamba-Nya, manusia yang memiliki jiwa jernih dan kodrati yang siap menerima sinar Ilahi, wahyu dari langit, dapat berinteraksi dengan makhluk yang lebih tinggi, agar kepadanya diberikan suatu risalah yang dapat memenuhi keperluan manusia, ketinggian rasa, keluhuran budi dan kekokohan dalam menjalankan hukum. Mereka itulah para rasul dan nabi Allah. Maka tidaklah aneh bila mereka dapat berhubungan dengan wahyu yang datang dari langit. Manusia kini menyaksikan adanya hipnotisme yang menjelaskan bahwa hubungan jiwa manusia dengan kekuatan yang lebih tinggi itu, menimbulkan pengaruh yang bisa mengantarkan orang kepada pemahaman tentang fenomena wahyu. Orang yang berkemampuan lebih kuat dapat memaksakan kemauannya kepada orang yang lebih lemah; sehingga yang lemah ini tertidur pulas, kemudian menuruti apa yang menjadi kehendaknya sesuai dengan isyarat yang diberikan, maka mengalirlah semua itu ke dalam hati dan lidahnya. Apabila ini yang diperbuat manusia terhadap sesama manusia, bagaimana pula dengan yang jauh lebih kuat dari manusia itu? Sekarang orang dapat mendengar percakapan yang direkam dan dibawa oleh gelombang eter, menyeberangi lembah dan dataran tinggi, daratan dan lautan tanpa melihat si pembicara, bahkan sesudah mereka wafat sekalipun. Kini dua orang dapat berbicara melalui telpon, sekalipun seorang berada di ujung timur dan yang lain di ujung barat, dan terkadang pula keduanya saling melihat dalam percakapan itu, sementara orang-orang yang duduk di sekitarnya tidak mendengar apa-apa selain seperti suara lebah, persis seperti dengingan di waktu turun wahyu. Siapakah di antara kita yang tidak pernah mengalami dialog dengan diri sendiri, baik dalam keadaan sadar atau dalam keadaan tidur tanpa harus melihat apa yang diajak bicara di hadapannya? Yang demikian ini, juga contoh-contoh lain yang serupa cukup yang dapat menjelaskan kepada kita tentang hakekat wahyu. ===== "Patutkah manusia merasa heran dengan sebab Kami telah mewahyukan kepada seorang laki-laki dari antara mereka; Berilah peringatan kepada umat manusia (yang ingkar), dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman, bahwa bagi mereka kedudukan yang sungguh mulia di sisi Tuhan mereka. (Setelah Nabi Muhammad datang kepada mereka), berkatalah orang-orang kafir (yang merasa heran) itu, 'Sesungguhnya (Muhammad) ini tukang sihir yang nyata'" (Yunus: 2) ===== Dari berbagai kutipan di atas dan dari keseluruhan bab tersebut, saya pribadi mencoba menyimpulkan (membangun map saya) dengan beberapa catatan sebagai berikut: 1. Bahwasanya, semua ilmu dan pengetahuan sebagai hasil dari olah akal (cipta, rasa, dan karsa), semestinya membuat kita beriman dan makin beriman kepada Allah SWT, beriman kepada Al-Quran (sebagai wahyu Allah SWT), beriman kepada para malaikat, dan beriman para kepada Rasul. Takdir Allah SWT dan hari akhir, juga harus diimani tanpa terjangkau oleh ilmu dan pengetahuan. 2. Bahwasanya, mempelajari NLP dan Hypnosis juga dalam kerangka yang sama, selain sekedar dipraktekkan dalam kehidupan dunia untuk membantu diri sendiri dan sesama. 3. Bahwasanya, dunia NLP dan Hypnosis berpeluang bisa membantu memahami berbagai tanda-tanda kekuasaan Allah SWT "pada diri mereka sendiri" sehingga menjelaskan bahwa Al-Quran itu benar adanya (sebagaimana yang telah dicapai oleh ilmu alam, ilmu kedokteran, ilmu kimia, ilmu biologi, ilmu psikologi, ilmu fisika dan sebagainya). 4. Bahwasanya, wahyu Allah SWT: - Diturunkan melalui malaikat, di mana Rasul kemudian "berkontak" dengannya. - Diturunkan tanpa perantara, dalam bentuk mimpi yang benar. - Diturunkan dengan Allah SWT berbicara secara langsung (kepada Nabi Musa As), kecuali dalam pewahyuan Al-Quran. - Diturunkan melalui suara (lonceng, kepak sayap malaikat, langsung di telinga), atau bahasa tubuh (berkeringat atau ekspresi tertentu). - Diturunkan dengan penampakan dari malaikat sebagai seorang laki-laki. - Diturunkan hanya kepada manusia dengan kriteria tertentu guna meneruskannya kepada umat manusia. - Adalah informasi dalam bentuk isyarat tersembunyi dan cepat. - Sama sekali berbeda dari ilham. - Sama sekali berbeda dari kasyaf atau suara hati. - Sama sekali berbeda dari intuisi atau perasaan. - Sama sekali berbeda dari pendapat pribadi atau opini. - Tidak diterima melalui "guru". - Telah menyatakan bahwa Rasul tidak mengetahui perkara gaib. - Telah menyatakan bahwa Rasul tidak sedikitpun berkuasa atas dirinya (kecuali yang dikehendaki Allah SWT). 5. Bahwasanya pembelajar dan praktisi NLP dan Hypnosis, di tingkat tertentu berpeluang untuk sedikit menyingkap berbagai hal yang merambah wilayah spiritual, yang dengan itu berpotensi mengarah pada konsekuensi sebagai berikut: a. Makin beriman kepada Allah SWT, dengan meningkatnya pemahaman dan kejelasan tentang berbagai fenomena spiritual seperti wahyu, dan tentang bagaimana seorang Rasul yang notabene "manusia juga", bisa menerima wahyu. b. Mempertahankan akidah Islam, terkait atau dalam memahami dan mengidentifikasi berbagai fenomena, yang sedikit terkuak, terpahami, dan terjelaskan (de-mistifikasi) lewat NLP dan Hypnosis seperti: - Bagaimana seorang anak manusia bisa mengaku-aku sebagai nabi, malaikat, atau bahkan Tuhan. - Bagaimana seorang anak manusia bisa mengaku-aku menerima wahyu dengan berbagai cara di atas atau dengan cara lain. - Bagaimana segolongan orang terjebak dalam aliran "new age" yang menjadikan manusia sebagai pusat segala sesuatu, dan menganggap manusia sebagai penguasa mutlak alam semesta (The Secret, The Law of Attraction, dsb). - Bagaimana segolongan orang terjebak dalam "atheisme" dan "sekulerisme". - Bagaimana fenomena "tenaga dalam" bisa diaplikasikan di dunia modern (berjalan di atas api, firewalk, dilukai tapi tidak sakit, debus, berjalan di atas beling, dsb). - Praktek perdukunan, ramal-meramal, pesugihan, dan nujum yang berbau syirik, komunikasi dengan arwah, sulap, magic, dan bahkan sihir. - Kharisma (keramat, karomah), komunikasi persuasif, komunikasi kharismatik, komunikasi hipnotic yang diwarnai kesyirikan. - Praktek hipnotisme untuk kejahatan (gendam, pelet, magnetisme, pemerkosaan, perampokan, dsb). - Fenomena "bawah sadar" yang kebablasan menjadi "hilang akal". - Berbagai fenomena kesyirikan lain. c. ATAU SEBALIKNYA, merusak dan menggadaikan akidah, akibat praktek-praktek "meta" dan "spiritual" yang tidak berhati-hati, yang mungkin bisa terjadi dalam dunia NLP dan Hypnosis. Seseorang bisa tergelincir akidahnya akibat berbagai praktek "meta" dan spiritual yang demikian (dengan dan terlebih lagi tanpa pemahaman tentang NLP dan Hypnosis), sebagaimana contoh-contoh di atas (naudzubillahi min dzaalik!). 6. Bahwasanya dengan konsekuensi yang amat berseberangan tersebut, para pembelajar dan praktisi NLP dan Hypnosis perlu menjaga akidahnya dan memagari dirinya agar tetap berada di wilayah NLP dan Hypnosis yang sesuai akidah Islam. Inilah yang menjadi landasan utama pemikiran Islamic NLP. Saat kita melihat terjadinya berbagai fenomena sebagaimana contoh-contoh di atas (poin 5.b.), kita bisa melihat bahwa pelakunya ada yang muslim dan ada pula yang bukan muslim. Yang pelakunya muslim, bukan tidak mungkin tetap mengklaim berakidah Islam, menyembah Allah SWT, dan tetap menjalankan berbagai syariat Islam. Kepada mereka kita bisa memberi cap "kafir", "sudah kufur", atau sekedar "kurang iman" dan "lemah akidah". Terhadap mereka, kita bisa memilih di level mana kita perlu memerangi "manusianya" habis-habisan sampai ke akar-akarnya, dan di level mana kita memutuskan bahwa yang perlu kita perangi adalah "pola pikirnya". Pada level tertentu juga, kita cukup yakin; jika saja mereka mau belajar NLP dan Hypnosis, sangat mungkin itu akan sangat membantu mereka dalam membuka jalan untuk kembali ke "jalan yang benar". Di sisi yang lain, jika kita adalah pembelajar dan praktisi NLP dan Hypnosis, kita pun tidak bisa mengklaim bahwa akidah kita "sudah aman" bukan? Maka, pilihannya adalah: 1. Meninggalkan NLP dan Hypnosis sama sekali (atau bahkan mengharamkannya), dan kemudian melihat bagaimana NLP dan Hypnosis termanfaatkan oleh "orang lain" (secara sengaja atau tidak sengaja) dan berdampak merusak atau melemahkan akidah (lihat berbagai tayangan di televisi dan di bioskop sebagai contoh). 2. Tetap mempelajari NLP dan Hypnosis dengan melihat dampak positif dan netralitasnya sebagai ilmu Allah SWT (karena NLP dan Hypnosis lahir dari pikiran manusia, dan karena manusia adalah ciptaan Allah SWT yang Maha Tahu apa yang di belakang, di dalam, dan di depan manusia) dengan tetap berpegang teguh pada akidah Islam. NLP dan Hypnosis sangat powerful sebagai tool dan materi pembelajaran. Keduanya netral sebagai ilmu Allah SWT. Keduanya bisa "mendekatkan" kepada iman, bisa bermanfaat untuk akidah, bisa bermanfaat untuk membantu sesama, bisa bermanfaat untuk "self mastery" atau menjadi "technology of achievement" khususnya di dunia. Atau sebaliknya, keduanya juga bisa menjerumuskan kita ke lembah kenistaan. Lebih dari itu kita harus mengakui: "Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit" (Al-Isra: 85) Wallahua'lam. Mohon koreksi bila ada kesalahan. Ikhwan Sopa http://islamic-nlp.blogspot.com
