Kebutuhan Manusia terhadap Konseling Psikologi Islam
Oleh: Prof. Dr. Achmad Mubarok MA
Manusia memiliki dua predikat, yaitu sebagai 'abdullah atau hamba Allah dan
sebagai khalifah atau wakil Allah di muka bumi. Predikat pertama menunjukkan
kelemahan , kekecilan dean keterbatasan serta ketergantungan manusia kepada
yang lain sehingga setiap manusia potensil untuk mengidap masalah, sedangkan
predikat kedua menunjukkan kebesaran manusia sekaligus besarnya tanggung jawab
yang dipikul dalam kehidupannya di muka bumi.
Dari sudut pandang itu maka urgensi Bimbingan dan konseling bagi manusia
merujuk kepada dua predikat tersebut.
1. Sebagai makhluk yang lemah ('abdun) suatu ketika manusia tidak tahan
menghadapi realita kehidupan yang pahit, sempit dan berat. Dalam kondisi fisik
tak berdaya, orang membutuhkan bantuan orang lain, dokter misalnya- untuk
memulihkan kesehatannya. Demikian pula dalam kondisi mental yang kacau (lihat
bab jenis-jenis gangguan jiwa) seseorang membutuhkan bantuan kejiwaan, untuk
memulihkan rasa percaya dirinya, meluruskan cara berfikir, cara pandang dan
cara merasanya sehingga ia kembali realistis, mampu melihat kenyataan yang
sebenarnya dan mampu mengatasi problemanya dengan cara-cara yang dapat
dipertanggung jawabkan.
2. Sebagai khalifah Allah, manusia dibebani tanggung jawab menyangkut kebaikan
dirinya maupun untuk masyarakatnya. Setiap manusia diberi kebebasan untuk
memutuskan sendiri apa yang baik untuk dirinya, asal bukan perbuatan maksiat
yang dilakukan secara terang-terangan. Sebagai khalifah Allah yang dibebani
tanggung jawab untuk kemaslahatan masyarakatnya, maka seorang muslim harus
merasa terpanggil untuk me¬melihara ketertiban masyarakat. Oleh karena itu ia
terpangil untuk meluruskan hal-hal yang menyimpang, menata hal-hal yang salah
tempat, mendorong hal-hal yang mandeg dan menghentikan kekeliruan-kekeliruan
yang berlangsung. Dalam perspektip Bimbimbingan dan Konseling, seorang musim
sebagai khalifah Allah terpanggil untuk membantu orang lain yang sedang
mengalami gangguan kejiwaan yang menyebabkan orang itu tak mampu mengatasi
tugas-tugasnya dalam kehidupan.
Jadi secara kodrati manusia memang membutuhkan bantuan kejiwaan termasuk
konseling agama, dan secara konsepsional harus ada orang yang menekuni bidang
ini agar layanan konseling agama ini dapat diberikan secara profesional,
sebagai perwujudan dari rasa tanggungjawab¬nya sebagai khalifah Allah.
Untuk mengetahui kedudukan Bimbingan dan Konseling Agama, dalam perspektip
keilmuan maupun perspektip ajaran Islam, sekurangnya perlu diketahui lebih
dahulu empat hal, yaitu:
1. Bahwa Kodrat kejiwaan manusia membutuhkan bantuan psikologis.
2. Gangguan kejiwaan yang berbeda-beda membutuhkan terapi yang tepat.
3. Meskipun manusia memiliki fitrah kejiwaan yang cenderung kepada keadilan
dan kebenaran, tetapi daya tarik kepada keburukan lebih banyak dan lebih kuat
tarikannya sehingga motif kepada keburukan lebih cepat merespond stimulus
keburukan, mendahului respond motif kepada kepada kebaikan atas stimulus
kebaikan.
4. Keyakinan agama (keimanan) merupakan bagian dari struktur kepribadian,
sehingga getar batin dapat dijadikan penggerak tingkah laku (motif) kepada
kebaikan.
Sumber, http://mubarok-institute.blogspot.com
Wassalam,
agussyafii