Terlepas dari Map Mas Agus,. Dan Mas Yudee,. pasti semua 'merasa'
benar,..hik,.hik.

 

Untuk menjelaskannya,.. saya menyarankan agar memiliki sudut pandang yang
sama,.

Tentang satu hal yang sama.

Karena kalau satu hal yang sama itu dibahas oleh 2 orang yang berbeda sudut
pandang,.. besar kemungkinan akan menghasilkan pendapat atau pandangan yang
berbeda pula.

 

Mengenai masalah syirik,. Apa syirik itu,. ada berapa jenis syirik,.. Apa
saja yang dikategorikan dalam syirik,. itu sangat banyak penjabarannya.

 

Saya kurang tahu, apakah 'topik' ini boleh dibahas di milist ini atau tidak
mengingat ini bukan milis ke agamaan islam,. jadi tergantung pak
Moderatornya,.he..he.he..

 

Jadi,.. kalau moderatornya OK,.. ya monggo saja diteruskan 'diskusinya',.
sambil belajar 'ngaji',. kalau nggak,.ya  monggo per japri saja.

Jangan lupa,.. sebutkan dari mana sumber pendapat masing-masing,..sehingga
lebih pass,.. Apa itu dari Ilmu Syariat,.. apa Ilmu Tauhid,.. mengingat yang
dibahas adalah Sifat Allah,...hu Ahad,..Laa ilahaillallah,.. Dibarengi
tinjauan dari sudut Sunnatullah,..wahh komplit dahh,..

Monggo,. dilanjut,.

 

Wassalam

Nurkhotim

 

 

  _____  

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of
Yudee Akder
Sent: Thursday, January 29, 2009 11:51 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [Bicara] Hidup Itu Untuk Apa?

 

Saya ada sedikit pertanyaan buat anda penulis artikel ini. Anda mengatakan
manusia juga diberikan otoritas ketuhanan antara lain untuk menghukum mati
manusia.   Bagaimana menjelaskan hal ini sehingga tidak berimplikasi pada
syirk.  Jika Allah memberikan otoritas ketuhanan kepada manusia, berarti
Allah bersekutu dengan manusia, atau berbagi otoritas dengan manusia.  Kita
tahu, Allah tidak mempunyai sekutu denganNYA.  

 

Jika ada manusia menghukum sesamanya atas nama Allah, maka pasti akan muncul
pula manusia yang menentang hukuman mati itu atas nama Allah pula.
Sementara, baik manusia yang menjatuhkan hukuman mati maupun yang mentang
hukuman mati, sama-sama  menggunakan akal atau pemahaman terhadap kitab suci
yang dijadikan sumber hukum, yang mana pemahaman seperti itu bersifat
relatif kebenarannya.  

 

Saya mungkin tidak risau seperti ini, jika anda mengatakan bahwa manusia
yang diberikan otoritas ketuhanan seperti itu, hanyalah Nabi dan Rasul yang
memang senantiasa dituntun oleh Allah dalam memimpin umat manusia. 

 

 

Salam 

Yudee   


 

 

  _____  

From: muhamad agus syafii <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Wednesday, 28 January, 2009 11:55:04
Subject: [Bicara] Hidup Itu Untuk Apa?


Hidup Itu Untuk Apa?

By: agussyafii

Didalam keseharian saya suka mendapatkan pertanyaan yang sederhana tapi
cukup mendalam untuk direnungkan. Seperti kemaren sore, sepulang kerja Icha
bertanya pada saya, "Kak agus, hidup itu untuk apa?"

Hidup itu untuk apa? pertanyaan itu cukup lama buat saya untuk mencari
jawabannya. Saya katakan padanya bahwa hidup kita adalah mengabdi pada Alloh
dengan berbuat baik untuk alam & sesama.

manusia memiliki dua predikat, yaitu sebagai hamba Alloh (`abdullah) dan
sebagai wakil Alloh (khalifatullah) di muka bumi. Sebagai hamba Alloh,
manusia adalah kecil dan tak memiliki kekuasaan, oleh karena itu tugasnya
hanya menyembah kepada Nya dan berpasrah diri kepada Nya. Tetapi sebagai
khalifatullah, manusia diberi fungsi sangat besar, karena Alloh Maha besar
maka manusia sebagai wakil Nya di muka bumi memiliki tanggungjawab dan
otoritas yang sangat besar .

Sebagai khalifah, manusia diberi tangungjawab pengelolaan alam semesta untuk
kesejahteraan ummat manusia, karena alam semesta memang diciptakan Alloh
untuk manusia. Sebagai wakil Alloh, manusia juga diberi otoritas ketuhanan;
menyebarkan rahmat Alloh, menegakkan kebenaran, membasmi kebatilan,
menegakkan keadilan, dan bahkan diberi otoritas untuk menghukum mati
manusia. 

Sebagai hamba manusia adalah kecil, tetapi sebagai khalifah Alloh, manusia
memiliki fungsi yang sangat besar dalam menegakkan sendi-sendi kehidupan di
muka bumi. Oleh karena itu manusia dilengkapi Alloh dengan kelengkapan
psikologis yang sangat sempurna, akal, hati, hati nurani, syahwat dan hawa
nafsu, yang kesemuanya sangat memadai bagi manusia untuk menjadi makhluk
yang sangat terhormat dan mulia, disamping juga sangat potensial untuk
terjerumus hingga pada posisi lebih rendah dibanding binatang. 

Wassalam,
agussyafii

---------

Tulisan ini dibuat dalam rangka kampanye kegiatan "Untukmu Ananda." Pada
tanggal 14 Februari 2009. selanjutnya silahkan kirimkan dukungan dan
kepedulian anda kepada "Untukmu Ananda" di 087 8777 12 431 atau di
http://agussyafii. <http://agussyafii.blogspot.com/>  blogspot. com






 

 

 

Kirim email ke