salam txs pa
Pada 16 Februari 2009 10:15, Ikhwan Sopa <[email protected]> menulis: > Silahkan Pak Fadly, semakin tersebar semoga semakin bermanfaat. > > Sukses buat Pak Fadly dan Anda semua. > > Sopa. > > http://milis-bicara.blogspot.com > http://www.facebook.com/profile.php?id=714484144&ref=profile > > --- In [email protected] <bicara%40yahoogroups.com>, "dr.Akhmad Fadly > Noor" <dr.fa...@...> > wrote: > > > > assalamulaikum > > > > saya baca tulisan ini sangat luar biasa sekali untuk para orang > tua..jadi > > saya mohon izin untuk memposting tulisan ini di group > superparenting FB dan > > biarkan tulisan ini menjadi ide banyak orang tua dan kalaupun ada > yang > > menyanggahi maka akan memperjelas lagi apa sebenarnya yang kita > sebagai > > orang tua masing2 ingin kan untuk anak2 nya. > > > > terima kasih atas tanggapan pa ikhwan sopa. > > > > salam > > > > > > > > Pada 13 Februari 2009 14:16, Ikhwan Sopa <ikhwan.s...@...> menulis: > > > > > > *Pengembangan Diri Berbasis Fitrah* > > > > > > Tulisan ini nyaris sepenuhnya pendapat pribadi saya. Pun > demikian, saya > > > sangat terinspirasi oleh dua hal. Yang pertama adalah sebuah buku > yang > > > sempat saya baca belakangan, judulnya "40 Kewajiban Orang Tua > Terhadap Anak" > > > karangan Drs. Muhammad Thalib. Kedua, konsep "Generation C" yang > bergulir > > > belakangan ini. ("C" adalah "content". Generation C adalah > generasi yang > > > didominasi oleh individu dan pribadi yang punya "content". > Jargonnya "It's > > > About You", atau "It's Me".) > > > > > > Lebih dari itu, saya tetap yakin bahwa keterbukaan pikiran dan > perenungan > > > Anda, sangat mungkin akan mengantarkan Anda menemukan benang- > benang merah > > > yang bisa jadi selama ini justru Anda cari. Semoga. > > > > > > Mari kita mulai dengan yang paling mendasar. > > > > > > Sesuai fitrah, Tuhan yang Maha Menciptakan telah menciptakan > manusia dengan > > > karakteristik yang khas dan berlaku universal. Dan jika sesuatu > berlaku > > > universal, kita bisa mengatakannya sebagai "hukum alam". Dan > sebagai hukum > > > alam, maka sifatnya adalah "hampir pasti". > > > > > > Manusia dilahirkan sebagai bayi, yang kemudian tumbuh besar > menjadi dewasa, > > > lalu mati. Ada manusia laki-laki dan ada manusia perempuan. Dalam > proses > > > pertumbuhan dan perkembangan seorang anak manusia, ada usia-usia > khusus yang > > > punya keistimewaan. Itulah hukum alam, hukum yang dianggap > "pasti" sesuai > > > Sunatullah. > > > > > > Kita mengenal adanya "the golden age", usia sekitar batita atau > balita. > > > Menurut penelitian, usia itu dianggap sangat penting karena > merupakan waktu > > > bagi terbentuknya berbagai konsepsi, sistem keyakinan, proses > pembelajaran > > > dan berkembangnya berbagai bentuk kreatifitas. > > > > > > Kemudian, secara fitrah ada juga masa yang disebut dengan "akil > baligh". > > > > > > Pada usia itu, Tuhan menentukan bahwa individu yang bersangkutan, > mulai > > > dianggap mandiri dan bertanggungjawab terhadap diri sendiri. Ia > dianggap > > > mulai mampu bertanggungjawab, mandiri, dan berdikari dalam hidup > di dunia > > > nyata. Pada masa itu ia diharuskan mulai memahami baik atau > buruk, benar > > > atau salah, menguntungkan atau merugikan, keputusan tepat dan > tidak tepat, > > > tindakan benar dan tindakan salah, sikap baik dan tidak baik, > cara berpikir > > > empower atau disempower, kreatifitas positif dan kreatifitas > negatif, dan > > > seterusnya. > > > > > > Apa yang menjadi ciri utama dari usia akil baligh itu, adalah > bahwa > > > individu yang bersangkutan mulai mengalami perubahan dan > perkembangan pada > > > dirinya, baik secara fisik maupun mental. > > > > > > Jika ia wanita maka ia akan mulai haid, jika ia pria maka ia akan > mulai > > > bermimpi basah. Keduanya, akan mulai menyukai lawan jenis. Suara > mereka > > > mulai berubah. Si wanita akan mulai membesar buah dadanya, dan si > pria mulai > > > berubah suaranya dan mulai menonjol jakunnya. > > > > > > Pola pikir, sistem keyakinan, berbagai konsep jati diri, juga > mulai > > > berkembang pada diri mereka di masa-masa itu. Mentalitas mereka > mulai > > > bergolak mencari dan menemukan berbagai hal, yang akan menjadi > template > > > dasar kedewasaan mereka. > > > > > > Berbagai hal dari dunia luar yang terekspos kepada diri mereka > pada masa > > > dan usia itu, akan membentuk siapa diri mereka nantinya. Berbagai > hal itu, > > > cenderung akan melekat kuat sampai akhir hayat. Bayangkan ini, > sesuatu yang > > > memotivasi pada usia itu, bisa jadi akan memotivasi mereka seumur > hidup. > > > Sesuatu yang men-demotivasi pada masa dan usia itu, sangat > mungkin akan > > > melumpuhkan mereka seumur hidup. Bagaimanakah itu semua jika > dikaitkan > > > dengan produktifitas? Dengan keberhasilan menciptakan > kreatifitas? Dengan > > > keberhasilan bisnis? Dengan aspek kepemimpinan dan organisasi? > Dengan > > > berbagai karya dan buah tangannya? Dengan relationship dan > kehidupan > > > sosialnya? > > > > > > Kita yakin bahwa Tuhan Maha Menciptakan dan Maha Tahu. > > > > > > Maka, sebuah kombinasi antara usia tertentu dengan perubahan dan > > > perkembangan fisik serta mental pada diri mereka yang akil > baligh, tentunya > > > adalah ramuan terbaik dengan timing yang terbaik, untuk membentuk > > > pribadi-pribadi manusia dewasa yang berhasil di dunia dan di > akhirat kelak. > > > Itu sebabnya, moment akil baligh itu dianggap sebagai saat yang > paling tepat > > > untuk mengekspos dan meng-unleashed berbagai hukum, hak dan > kewajiban, dan > > > berbagai pilihan yang menjadi tanggung jawab pribadi secara > mandiri. > > > > > > Kita, akhirnya bisa mengatakan bahwa usia akil baligh itu, adalah > "the > > > second golden age". > > > > > > Usia batita dan balita adalah saat terbaik untuk meng-imprint > berbagai > > > proses awal pembelajaran secara internal. Kemudian, usia akil > baligh adalah > > > moment yang tepat untuk memperkenalkan mereka dengan dunia nyata > dan dunia > > > luar. Untuk hidup di dalam kenyataan. > > > > > > Sekali lagi, semua itu adalah ketentuan Tuhan yang universal > sifatnya, atau > > > dengan dengan kata lain semua itu menjadi hukum alam, yang > "hampir pasti" > > > akan membentuk hasil akhir dari pribadi-pribadi manusia. > > > > > > Pertanyaannya, jika secara spiritual fenomena kombinasi antara > usia dan > > > perubahan serta perkembangan fisik dan mental itu dianggap > sebagai kondisi > > > dan saat yang paling tepat untuk mengaktivasi berbagai konsep > positif dan > > > sistem keyakinan, tidakkah kondisi dan moment itu juga merupakan > saat yang > > > paling tepat baginya untuk memulai pengembangan diri untuk > kepentingan > > > duniawi? > > > > > > Tidakkah itu juga merupakan saat yang paling tepat, bagi si anak > untuk > > > mulai memahami mana kreatifitas yang bagus dan yang tidak? Mana > yang pilihan > > > profesi masa depan yang cocok dan yang tidak? Mana profesi yang > baik atau > > > tidak baginya? Mana peluang bisnis dan usaha yang menguntungkan > sesuai > > > karakter pribadi atau tidak? Bagaimana memahami sebuah pilihan > keputusan di > > > dunia nyata berdampak baik atau buruk? Bagaimana sebuah pilihan > kepemimpinan > > > yang dilakoninya berpengaruh positif atau negatif? Apakah sebuah > pilihan > > > sikap akan menjadikannya sebagai pribadi yang tahan banting atau > yang loyo? > > > Manakah yang cocok baginya sebagai karyawan atau entrepreneur? > Apakah ia > > > lebih baik jadi seniman atau orang kantoran? Apkah di masa depan > ia akan > > > menjadi pedagang atau menjalankan restoran? > > > > > > Ingatlah sekali lagi, hukum alamnya adalah; apapun yang terjadi > pada > > > masa-masa itu, cenderung akan melekat sangat kuat sampai akhir > hayat. > > > Bagaimana dewasanya, sangat terpengaruh oleh moment dan masa itu. > > > > > > Sekarang, mari kita refleksikan cara berpikir di atas ke berbagai > hal yang > > > berlangsung di sekitar kita, atau bahkan pada berbagai hal yang > ada di > > > tangan kitalah kekuasaannya. > > > > > > Bagaimana Anda melihat dan menyikapi semua fenomena ini? > > > > > > Seorang anak kelas empat SD, sambil sekolah berjualan jus buatan > ibunya > > > kepada teman-temannya. Seorang anak lain yang kelas lima SD, > tidak hanya > > > bertukar-menukar kertas "fel" dengan teman-temannya, melainkan > > > membisniskannya dengan keuntungan seratus dua ratus rupiah. > Apakah Anda > > > menyikapinya sebagai sesuatu yang keterlaluan dan mengada-ada? > Atau Anda > > > menyikapinya sebagai sebuah proses pembelajaran di moment yang > tepat? > > > > > > Seorang anak kelas dua SMP, sarapan paginya masih disuapi oleh > pembantu. > > > Apakah menurut Anda, itu adalah sebuah kewajaran tentang > memanjakan anak, > > > karena orangtuanya sudah bersusah payah bekerja untuk > menyenangkannya? > > > Apakah menurut Anda anak itu memang semestinya begitu dan tidak > perlu > > > bersusah payah seperti orang tuanya? Atau Anda melihat bahwa > fenomena itu > > > justru akan mengkibatkan kelumpuhannya di masa depan karena > menyia-nyiakan > > > moment paling tepat untuk mencetak keberhasilan? > > > > > > Anak-anak SMU dihindarkan dari menyibukkan diri dalam > berorganisasi atau > > > berwirausaha, kecuali apa yang menjadi ekstrakurikulernya. Mereka > belum > > > banyak dianjurkan (mungkin malah tidak dianjurkan) menyambi > berbisnis atau > > > menjalankan pola-pola entrepreneuship. Mahasiswa dan mahasiswi > diminta untuk > > > masuk mengurung diri di dalam kamar saja. Belajarlah, carilah > nilai yang > > > tinggi. Apakah menurut Anda itu adalah sebuah keharusan demi > tercapainya > > > gelar dan perbaikan hidup di masa depan? Atau Anda bisa melihat > bahwa semua > > > itu adalah penundaan atau bahkan sebentuk kehilangan moment yang > berharga? > > > Atau, Anda bisa melihat bagaimana mereka yang lulus dengan nilai > sangat baik > > > bisa jadi justru tergagap-gagap saat menghadapi dunia kerja dan > dunia > > > bisnis? > > > > > > Para nabi, sebagai contoh manusia-manusia sukses dan berhasil, > telah mulai > > > mandiri dan berdikari dengan pengembangan diri dan dengan upaya > bisnis sejak > > > usia belasan. Menggembala kambing, atau berdagang ke penjuru > negeri. > > > > > > Bagaimana dengan pemandangan ini? > > > > > > Seorang ayah, menimbuni anaknya dengan berbagai buku dan > permainan edukasi. > > > Semata-mata hanya untuk anaknya. Seorang ayah yang lain, > melengkapi sebuah > > > ruangan di rumahnya dengan seribu buku, berbagai permainan > edukasi, dan > > > kemudian mendorong anaknya untuk mau menekuni dan mengelola sebuah > > > perpustakaan mini, learning club, pusat pertukaran buku, dan > penyewaan komik > > > serta majalah. > > > > > > Di sebuah SMP, selain belajar anak-anak juga menjalankan sebuah > media > > > majalah sekolah yang bukan cuma mading. Ada dewan redaksinya, ada > reporter, > > > fotografer dan wartawannya, ada yang mengurus ke percetakan dan > ada bagian > > > administrasinya. Mereka tidak hanya menjalankannya sebagai hobi > atau ekstra > > > kurikuler, melainkan sebuah bisnis yang nyata. Sebab mereka juga > digaji > > > walau ala kadarnya. Sebab mereka juga melakukan aktivitas > pemasaran untuk > > > iklan. Mereka juga berusaha keras untuk selalu menaikkan tiras. > > > > > > Di sebuah SMU, ada radio sekolah. Ada penyiar, ada announcer dan > ada > > > redaksinya. Mereka meeting dengan serius karena sebuah bisnis > tentulah > > > bicara uang. Mereka juga digaji dan dibayar sesuai kinerja. > Mereka didorong > > > untuk mandiri dan berdikari, mereka bahkan diupayakan untuk mulai > mampu > > > membiayai hidupnya sendiri sedini mungkin. > > > > > > Tiga contoh terakhir baru terlintas di angan-angan saya saja. > Akan tetapi, > > > bagaimanakah Anda menyikapinya. Apakah itu mengada-ada? Apakah itu > > > penyelewengan dunia pendidikan? Atau bahkan sebentuk eksploitasi > anak? > > > > > > Atau, Anda mulai melihatnya sebagai sebuah upaya memanfaatkan > moment yang > > > paling tepat bagi mereka, karena Anda tahu bahwa moment itu jelas > tak akan > > > terulang kembali. > > > > > > Bagaimana Anda melihat Mark Zuckerberg, si pemilik Facebook yang > masih > > > teramat muda dengan sebuah perusahaan bernilai 500 triliun > rupiah? Bagaimana > > > Anda melihat Bill Gates atau Adam Khoo yang mendapatkan satu juta > dollar > > > mereka di usia dua puluh? Saya kok yakin, bahwa mereka tidak ujug- > ujug > > > menjadi manusia yang sukses secara dunia. Pastilah ada apa-apanya > di usia > > > akil baligh mereka. > > > > > > Masihkah kita harus memenjarakan anak-anak dalam sangkar emas, > dengan dasar > > > keinginan kita di masa depan? Masihkah kita memegang keyakinan > bahwa fokus > > > mereka semata-mata hanyalah belajar? Bukankah "the second golden > moment" > > > itulah yang akan membekas kuat sampai akhir hayat? Tidakkah itu > saat yang > > > paling tepat bagi mereka untuk belajar dan memahami dunia nyata? > > > > > > Masihkah kita berkeyakinan bahwa semua itu adalah untuk kebaikan > mereka? > > > Tidakkah kita mestinya mulai berpikir bahwa apa yang kita lakukan > selama ini > > > bisa jadi justru menunda, mengamputasi, atau bahkan melumpuhkan > mereka di > > > masa depan? > > > > > > Bukankah Yang Maha Tahu telah mengindikasikan pentingnya "the > second golden > > > moment" itu? Bahwa aspek spiritualitas memang tak terpisahkan > dari kehidupan > > > duniawi. Bahwa keseimbangan dunia dan akhirat adalah jalan > terbaik. Bahwa > > > moment itu tak boleh tersia-sia karena khawatirnya orang tua > tentang > > > "harapan dan cita-cita orang tua"? > > > > > > Saya mulai bertanya-tanya, bagaimana caranya mulai mengajari anak- > anak saya > > > yang masih SD, untuk mengembangkan diri dalam kepemimpinan, > organisasi, > > > manajemen, berkehidupan sosial yang lebih dari sekedar bermain, > dunia > > > bisnis, atau keterampilan untuk mandiri dan berdikari lainnya. > Apakah saya > > > kejam? Atau justru saya membantu mereka mengembangkan diri pada > moment yang > > > tepat sesuai fitrah? Atau, cukuplah saya memfokuskan mereka di > meja belajar > > > dan membiarkan moment fitrah untuk mandiri dan berdikari itu > berlalu begitu > > > saja? > > > > > > Semoga membenangmerahi. > > > > > > *Ikhwan Sopa* > > > Master Trainer E.D.A.N. > > > http://milis-bicara.blogspot.com > > > > > > > > > > > > > > -- > > dr.Akhmad Fadly Noor > > http://brain-klinik.blogspot.com > > > > Certified Master of Practitioner NLP > > Licenced of Practitioner NLP™ > > Certified Hynoterapi > > Master Trainer of International Parenting Association (IPA) > > Co-Founder NAE > > > > > -- dr.Akhmad Fadly Noor http://brain-klinik.blogspot.com Certified Master of Practitioner NLP Licenced of Practitioner NLP™ Certified Hynoterapi Master Trainer of International Parenting Association (IPA) Co-Founder NAE
