Semua Salah…Kecuali Saya<http://semarbagongpetrukgareng.blogspot.com/2009/03/semua-salahkecuali-saya.html> by MTA (Made Teddy Artiana) email [email protected]
Dulu ketika masih duduk di kelas 2 SMA, saya pernah punya pengalaman unik. Waktu itu saya baru saja pulang mengantar pacar, ketika di sebuah jalan lurus yang panjang, ada sebuah motor yang tepat berada ditengah jalur, dengan lampu sen kiri menyala. Wah harus dikasih pelajaran nih. Segera motor saya pacu mendekat, setelah berada persis disebelah motornya, saya langsung memberi kode dengan tangan kiri, yang mengisyaratkan agar ia mematikan lampu sen nya yang terus menyala sedari tadi. Setelah itu, tanpa memperhatikan reaksinya, saya tancap gas menjauh. Sempat pula kepala ini menggeleng kecil beberapa kali. Nggak belok kok nge-sen, gitu kira-kira. Tetapi tanpa diduga, tidak berapa lama kemudian, ganti motornya yang mendekat dan dengan tersenyum geli dia memberi kode yang persis sama dengan yang saya lakukan tadi. Kurang ajar ! Dikasih tahu bukannya terima kasih malah ngeledek. Beberapa saat omelan terus meluncur dari bibir ini, sampai ketika mata saya tidak sengaja terarah ke lampu sen motor sendiri. Astaga !!! Ya ampuuuunnn…!! ternyata lampu sen kiri motorku..juga menyala…dari tadi…bahkan ketika saya sedang “sok” memberitahu orang itu !!! Ketika pertama kali membaca uraian Dale Carnegie, mengenai betapa Al Capone – pemimpin mafia di Chicago sana - dan para penjahat kelas wahid tidak pernah sekalipun memandang diri mereka sebagai penjahat, saya tertegun. Betapa tidak, mereka yang jelas-jelas berbuat kriminal, memperkosa, membantai manusia dengan tanpa alasan, melindungi peredaran obat bius, ternyata tidak pernah memandang diri mereka bersalah. Dalam buku yang sama, Dale juga menceritakan bahwa hampir 100% dari mereka yang berada dipenjara Sing-Sing – penjara kriminal nomer satu di New York- juga sama sekali tidak melihat diri mereka sebagai para kriminal, melainkan sebagai korban. Sungguh-sungguh kenyataan yang hampir tidak dapat dipercaya. Yang lebih mengherankan lagi, jika sifat yang satu itu, juga terjadi dikalangan atas. Presiden Taft – masih menurut buku itu – ketika berbuat sebuah kesalahan, dan diberitahu tentang itu, juga tidak pernah mengaku salah. Lengkap sudah. Jika demikian berarti sifat “tidak mau disalahkan” itu melekat secara merata di mahluk yang bernama manusia. Dari penjahat hingga level presiden. Dari orang miskin sampai konglomerat. Sungguh tepat kata-kata seorang pujangga ternama di Timur Tengah sana “Siapakah yang mengetahui kesesatan ? Bebaskanlah aku dari yang tidak aku ketahui”. Kita memang selalu melihat lebih jelas kearah kesalahan orang lain, dibandingkan kesalahan kita sendiri. Lampu sorot untuk orang lain, sedangkan lilin redup untuk diri sendiri. Untuk orang lain, sedapat mungkin kita gunakan kata “harusnya kan dia…” untuk diri sendiri “ya gimana lagi aku kan…”. Apakah TUHAN salah mendesain kita. Pastilah tidak. Kata mereka-mereka yang bijak, justru disinilah ujian itu berlangsung. Manusia yang bisa melihat kesalahannya, mengakuinya dengan sportif dan mengubahnya akan menerima upah yang tidak kecil. Sementara manusia yang tidak pernah mau melihat kesalahannya, tidak akan pernah mengalami kemajuan, malah kemunduran diberbagai segi kehidupan, yang akan dialaminya. Masing-masing dengan konsekuensinya. Nggak usah jauh-jauh ke Chicago atau New York sana, Hendri –supir kami- juga cukup menyebalkan. Hendri selalu sesumbar mengatakan bahwa daerah ini atau daerah itu adalah kekuasaannya, atau hafal diluar kepala. Tetapi tidak berapa lama, kami akan menemukan diri kami tersesat atau berputar-putar dijalan yang tidak jelas, sementara dia, tidak pernah mengaku bersalah, meskipun keringat dingin sudah mengalir dipipi !! Atau seorang client wedding organizer istri saya. Sebut saja ibu Noni, sudah diperingatkan bahwa jumlah pesanan catering yang ia pesan dibawah standar, alias kurang, tetap tidak menggubris ‘warning’ kami. Akhirnya, persis seperti prediksi kami, makanan di resepsi perkawinan itu habis lenyap hanya dalam tempo 30 menit setelah acara. Apakah ia mengakui kesalahannya ? Tidak sama sekali. Atau Jocky, salah seorang crew photography kami, yang sering kali berbuat kesalahan, tetapi tetap membantah jika dinasehati. Hampir seluruh asisten photographer dan videographer kami dibuat “BT Abis” tetapi apakah Jockie menyesal dan mengakui kesalahannya ? Jangan harap. Ia malah semakin jenius mencari alasan untuk merasionalisasi kesalahannya. Belum lagi si Budi, dia itu….….EH TUNGGU DULU…sepertinya saya mulai menggenapi analisa Dale Carnegie tentang sifat dasar manusia, yaitu begitu mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi buta atau membutakan diri dengan kesalahannya sendiri…jadi malu nih..ada baiknya tulisan ini ditutup sesegera mungkin karena ternyata saya juga lebih suka membicarakan kesalahan orang disekitar saya, daripada konsentrasi membenahi kekurangan-kekurangan saya sendiri. Padahal jelas-jelas lebih menguntungkan untuk memperbaiki diri sendiri dibanding, bertindak sebagai tuhan “kecil” menghakimi, mengkritik bahkan menelanjangi kesalahan orang lain. Sedangkan TUHAN “yang beneran” saja tidak menghakimi kita, sebelum waktunya. *** +++ *what a wonderfull world ! what an abundant life !! what an exciting journey !!! * MTA -* Made Teddy Artiana* IT, photographer & graphic designer [ My Photography PORTFOLIO ] # Wedding Special Photography # Pernikahan Agung Puteri Sri Sultan Hamengku Buwono X GRAJ Nurkamnari Dewi & Jun Prasetyo MBA http://nurkamnaridewi.multiply.com # Wedding Photography # http://candidwedding.multiply.com http://weddingcandid.multiply.com http://prewedding.multiply.com http://prewedding1.multiply.com http://prewedding2.multiply.com http://prewedding3.multiply.com http://outdoorprewedding.multiply.com http://weddingceremony.multiply.com # Commercial Photography # http://companyprofile.multiply.com http://withbobsadino.multiply.com # Jurnalism Photography # http://fotojalanan.multiply.com [ MY BLOGGER ] belajar dari DIA tentang hidup http://semarbagongpetrukgareng.blogspot.com pengalaman unik dibidang photography http://weddingmustoryku.blogspot.com [ CONTACT US ] Esia. 96202505 Flexy. 70820318 m. 0815 740 900 80 - 0813 178 227 20 email. [email protected] +++
