Taruhan itu ngak baik menurut UU.

Kalau dianalisa sih sbb seandainya binusian adalah
pejabat yg memutuskan maka pejabat akan bilang menurut
aspirasi rakyat maka akhirnya diputuskan berdasarkan
asumsi berikut bahwa UU APP akan  ( disahkan /
ditolak) :D :
1. setiap hari sepanjang perjalanan dari perbatasan
jakpus-jaktim ke jak-bar, gue  liat di jalanan itu
selama ini, yang ada cuma spanduk gede di beberapa
gedung gedung di jalan protokol yg isi nya mendukung
RUU APP supaya secepat nya disahkan.  misalnya dari
PII (perhimpunan pelajar ..).  Gue belum pernah
ngeliat ada yg pasang spanduk menolak APP, atau
mungkin karena gue ngak pernah lewat jalanan yg
menolak yach?   misalnya kagak pernah ada spanduk di
pagar kemanggisan yg isinya misalnya Civitas Univ
Bxxxx menolak RUU APP kan. :D mungkin pada takut
didemo kali ya kalau pasang spanduk menolak. 

Berita di koran juga ada puluhan organisasi yg
pernyataan sikap nya ke para wakil rakyat, minta
segera disahkan UU APP dan diterapkan sepenuhnya. 
Yg resmi menolak secara organisasi jumlahnya kalau
liat di koran jauh lebih kecil.  Palingan yg paling
jelas menolak  beritanya dari Bali doank.

Di beberapa propinsi lain, malah beritanya gubernur
nya ikutan berdemo dan mendanai demontrasi buat
mendukung UU APP.  

Yg jelas jelas-jelas menolak biasanya cuman tereak
tereak  di milis-milis doank yg jelas kagak nyampe ke
pejabat yg menampung aspirasi dan ngak formal secara
organisasi.  Tul ngak neh :D 

So biasanya sih kalau pejabat republik BBM kan
memutuskan berdasarkan aspirasi yg berkembang dan
diliat dalam masyarakat.  Lah kalau pejabat keliling
keliling jalan protokol di Ibukota di beberapa tempat
liatnya spanduk spanduk dukungan APP  terus kan
berarti asumsi nya para Binusian juga .......


berikut ini artikel menarik yg menjelaskan kenapa para
pasien di Indo lebih memilih berobat ke luar negeri. 
Kalau asumsi para Binusian selama ini karena mereka
kelebihan duit itu salah besar, karena terbukti
berobat di luar negeri itu karena duit para pasien
ngak cukup kalau musti berobat di dalam negeri yg
harga nya 2,5 x lipat.    Mungkin itu juga sebab nya
banyak Binusian yg kabur kerja di luar negeri karena
biaya hidup (internet, telpon voip, dll) di luar
negeri yg belasan sampai puluhan kali lebih murah tapi
penghasilan lebih besar.  :D

Sama seperti temen yg lulusan dari Kairo, waktu
ditanya kenapa pilih ke Kairo, apa dapat beasiswa. 
Jawabnya pakai biaya sendiri, karena dia mau kuliah di
Jakarta, ternyata biaya kuliah + biaya hidup nya
setelah dihitung jauh lebih mahal, makanya dia ambil
kuliah ke Kairo aja, sekalian bisa belajar agama kata
nya. 

Buat perbandingan dari tetangga yg baru kena Demam
berdarah,  opname di Rumah sakit dapat kelas 2, karena
kelas III sudah penuh karena kena DB semua.  Biaya
rawat 6 hari menghabiskan sekitar 4 jt rupiah.  mahal
banget yach, cuman 6 hari doank.  ini masih rumah
sakit biasa , belum rs international loh. 

Malah ada anak tetangga yg bilang kalau separuh dari
temen sekelasnya kagak masuk sekolah  karena kena DB.
:D



http://www.suarapembaruan.com/News/2006/04/08/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY
--------------------------------------------------------------------------------

"God Heal We Help"

Josef Purnama Widyatmadja

Tiba di Penang dari Hong Kong pada 26 Maret 2006,
penulis dan istri yang akan diperiksa jantungnya di
jemput mobil rumah sakit Adventist dan diantar ke
penginapan. Kami berdoa dan pasrah pada Tuhan apabila
istri memang memerlukan by pass. 

Senin, 27 Maret 2006, sejak pukul 5.30 pagi kami antri
mengambil nomor urut di rumah sakit. Selama tiga hari,
lebih dari 90 persen pasien berasal dari Indonesia,
terutama Sumatera (Medan). Banyak orang beralih
berobat dari Singapura ke Malaysia (Malaka atau
Penang) karena biaya lebih murah. 

Menurut pengakuan mereka, biaya by pass di Medan
mencapai Rp 160 juta, di Jakarta Rp 120 juta,
sedangkan di Penang cukup Rp 70 juta- 80 juta (sekitar
26.000 ringgit). Sungguh tak terpikir, mengapa berobat
di negeri sendiri jauh lebih mahal. 

Menurut pengakuan seorang pasien, rumah sakit ini tak
pernah gagal melakukan by pass. Jarak Medan ke Penang
tak terlalu jauh, apa lagi pelayanan dokter dan
perawat sangat ramah dan penuh perhatian. Bukan
peralatan dan keahlian yang menjadi kelebihan rumah
sakit ini dibandingkan rumah sakit lain di Malaysia
atau Singapura, melainkan citra dan hati petugasnya
dalam bekerja.


Manusiawi

Di pintu gerbang rumah sakit tertera tulisan "God heal
we help". Suatu semboyan yang menempatkan Allah
sebagai sumber penyembuhan. Filosofi pekerja rumah
sakit tidak menempatkan kepandaian manusia dan
peralatan sebagai sumber penyembuhan, tapi Allah. Para
pekerja rumah sakit hanya menempatkan diri sebagai
orang yang mau menolong dan dipakai Allah. 

Semboyan itu mengingatkan kepercayaan almarhumah
Nyonya Mayong dari Kudus. Almarhumah yang berjualan
jamu Jawa lebih dikenal dengan nama desa asalnya,
dekat kota Kudus, ketimbang nama asalnya Ang Wan Ing.
Sekitar tahun 50 -80-an, hampir semua pengemudi becak,
dokar (kereta berkuda) di Kudus tahu di mana alamat
rumah Nyonya Mayong. Dalam mengobati orang sakit,
nyonya Mayong hanya memberi ramuan jamu Jawa yang
sederhana serta obat Barat yang ada di pasar. 

Banyak yang cocok, termasuk Bupati Kudus saat itu,
Muchtar (almarhum). Tak ada ramuan istimewa. Setiap
orang berobat, selalu diingatkan pepatah emas dalam
bahasa Jawa: "Percaya iku tampa, bungah dadi tamba
(percaya akan menerima, gembira menjadi obat ". 

Nyonya Mayong tak pernah mengklaim jamunya hebat dan
mujarab. Dia hanya minta para pembeli untuk percaya
pada Allah dan obat yang ia minum, untuk mendapatkan
apa yang ia minta. "Membuat pasien gembira merupakan
obat mujarab untuk menyembuhkan," ujarnya. 

Tak segan Nyonya Mayong memijat dan mengerik, memegang
dan memulas dengan minyak, kepala dan punggung lelaki
petani, pengemudi becak yang sering kali penuh
keringat dan kotor. Kadang kala ia tak ragu membasuh
kaki dan membalut luka (borok) dengan hati yang penuh
kasih. 

Bukan uang yang utama, tapi kesembuhan pasien yang
utama. Banyak pembeli merasa terharu karena pelayanan
macam ini tak bisa didapatkan di rumah sakit
pemerintah maupun swasta. Tak jarang setelah minum
jamu dan menerima pelayanan Nyonya Mayong, pembeli
mengatakan, "Maaf nyahten (ibu), kami tak ada uang
untuk membayar." Nyonya Mayong tak marah dan membalas
, "Asal kamu sembuh, cukuplah." 

Sebagai gantinya, petani membawa padi atau jagung saat
panen. Di era maju, memang sulit mencari pengobatan
gratis di tengah perkembangan masyarakat yang makin
materialistis. Menjadi tugas pelayan di unit kesehatan
untuk memberikan pelayanan dengan hatinya, tak sekadar
karena tuntutan uang.


Kesehatan untuk Semua

Saat ini pelayanan kesehatan manusiawi di simpang
jalan. Pelayanan kesehatan tak lagi di lihat sebagai
medan pelayanan kemanusiaan, tapi komoditi
perdagangan. 

Yang kuat dan kaya makin baik fasilitas kesehatannya,
sedangkan yang miskin makin tersingkir. Tuntutan alat
modern dan biaya tinggi pendidikan dokter, pembayaran
hak paten yang mahal, menjadikan ratusan juta manusia
di dunia tak tersentuh pelayanan kesehatan. 

Kemajuan ekonomi tidak otomatis membawa perbaikan
pelayanan kesehatan. Sistem kesehatan di Tiongkok
setelah kemajuan ekonomi malah membuat orang miskin
jauh dari jangkauan kesehatan. Banyak penduduk desa
tak bisa ke rumah sakit. 

Di banyak negara, beban utang luar negeri menambah
penderitaan rakyat kecil makin menjadi. Cita-cita WHO
health for all hanya menjadi ilusi karena IMF
memaksakan structural adjustment policy (pengurangan
anggaran sektor kesehatan) kepada pemerintah yang
memiliki utang, seperti Indonesia dan Filipina. 

Banyak rumah sakit dan Puskesmas tak mampu lagi
memberikan pelayanan berkualitas kepada rakyat. Banyak
petugas kesehatan di Filipina lari dari negerinya
untuk memperbaiki nasib. Sedangkan di Indonesia,
banyak pasien harus lari ke Malaysia karena pelayanan
kesehatan di negeri sendiri tidak saja mahal, tapi
juga kurang memuaskan. 

Sambil menunggu istri yang menjalani katerisasi dan
angiographies di kamar ICU, penulis merenung, "Orang
berobat ke Penang bukan karena ia kelebihan uang, tapi
karena biaya yang dia miliki tak cukup bila berobat di
negeri sendiri. Kapan rumah sakit swasta di Tanah Air
bisa memberikan pelayanan yang manusiawi, berkualitas,
dan murah? Mengapa Penang bisa?"

"Kapan pemerintah dan wakil rakyat tidak sibuk dengan
undang-undang porno dan peraturan keagamaan yang
memecah belah persatuan? Kapan kita mulai mementingkan
upaya menjadikan Indonesia bangsa yang bermartabat dan
kuat? Bukankah empat puluh tahun lalu Malaysia masih
belajar dari Indonesia dalam mengelola negara?"

Belum selesai lamunan, pukul 21.00 terdengar suara
perawat mempersilakan penulis masuk ke ICU untuk
berjumpa dengan dokter ahli jantung. Dokter berkata,
"Istri saudara tak perlu by pass atau pasang cincin.
Hanya di temukan penyempitan di bagian arteri kecil.
Cukup makan obat, melakukan exercise, dan jaga
makanan. Tak perlu datang lagi kemari jika tak ada
gejala khusus". 

Segala ketegangan dan ketakutan kami hilang dan
diganti wajah seri penuh ucapan syukur. Penulis hanya
bisa berujar, "Terima kasih. Allah menyembuhkan dan
dokter menolong. Pakailah dan pimpinlah sisa pelayanan
kami di tanah seberang sampai kami kembali ke Tanah
Air. Terima kasih kepada semua sahabat yang telah
mendoakan. 

Semoga mereka yang masih bergumul dengan sakitnya bisa
mendapat kesembuhan dan pelepasan dan segera akan
menerima kabar kesembuhan".


Penulis adalah pengamat masalah sosial dan
internasional




--- Edward Firms <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Ada yg brani taruhan RUU tsb bnr2 disahkan ato kagak
> ? :-)
> 


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 




BinusNet founded on Dec 28, 1998 Owner : Johan Setiawan
Moderator BinusNet : Suryadi Liawatimena & Surya Iskandar


Stop or Unsubscribe: send blank email to [EMAIL PROTECTED]
Questions or Suggestions, send e-mail to [EMAIL PROTECTED]

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--==-=--==-=-=--=-=-=-=-=-=
Bina Nusantara mempersembahkan
25 Tahun Bersama Binus untuk Indonesia
1981 - 2006

Venue: Plenary Hall, Jakarta Convention Center
Date : 25 February 2006
-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=--==-=--==-=-=--=-=-=-=-=-=
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/binusnet/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke