Masih ada sinetron Olivia di RCTI yg njiplak dari film lepas yg judulnya She's 
The Man.
Kalo dulu sih kualitas sinetron Indonesia masih bagus, tapi gak tau juga ya apa 
sejak dulu sudah menjiplak karya negeri orang. Sekarang karna sudah banyak 
beredar serial Kor-Jap-Twn makanya bisa tau sinetron ini niru yg mana. Tapi 
kalo jiplaknya dari telenovela, sapa yg tau?
Emang sinetron Indo sekarang ini banyak pembodohannya, dan juga kualitas akting 
artis2nya gak hebat2 banget. Bukannya sirik lho, ya...... Adegan yg paling gw 
benci di tiap sinetron itu, mungkin rekan2 yg lain pernah perhatikan, kalo 
adegannya marah atau terkejut, wajah si artis diclose-up trus matanya 
membelalak sambil mulutnya spt komat kamit  dan terengah-engah. Parahnya lagi, 
untuk ekspresi spt ini aja sampe di-shoot sekitar 10 detik lebih.
Emang harus diakui kalo produksi film & sinetron Indonesia emang udah bangkit 
lagi, tapi kenapa mutunya justru  anjlok? Apa kreativitas produser dan penulis 
ceritanya udah bener2 abis sehingga harus digantikan ama mental plagiator?



nisc <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                  Info Menarik 
utk para pencinta Sinetron Indonesia ( Bila ada ) 
 
 Entah disadari atau tidak, sinetron yang
 mendominasi layar kaca di Indonesia
 sebenarnya merupakan adaptasi (baca:
 jiplakan) dari berbagai tayangan drama
 yang populer di negeri asalnya seperti
 Korea, Jepang, Taiwan, dan sebagainya.
 Berikut daftarnya:
 
 1. 2 Hati (Snow Angel)
 2. Benar-Benar Cinta (Devil Beside You)
 3. Benci Bilang Cinta (Goong/Princess
 Hours)
 4. Benci Jadi Cinta (My Girl)
 5. Berani Tampil Beda (The Magicians
 of Love/Ai Qing Mo Fa Shi)
 6. Bintang (Huan Zhu Ge Ge)
 7. Bukan Diriku (Anything for You)
 8. Buku Harian Nayla (Ichi Rittoru No
 Namida/1 Litre of Tears)
 9. Cincin (Beautiful Days)
 10. Cinta Remaja (My Sassy Girl Choon
 Hyang)
 11. Cowok Impian (It Started With a Kiss)
 12. Darling (My Name is Kim Sam Soon)
 13. Dua Hati Satu Cinta (Qin Shen Shen
 Yu Meng Meng)
 14. I Love You, Boss! (Bright Girl's
 Success Story)
 15. Intan (Be Strong Geum Soon)
 16. Janji Jaya (My Name is Kim Sam Soon)
 17. Katakan Kau Mencintaiku (Sad Love
 Song)
 18. Kawin Muda (My Little Bride)
 19. Liontin (Glass Shoes)
 20. Pacarku Besar Sekali - FTV (My
 Name is Kim Sam Soon)
 21. Pangeran Penggoda (Devil Beside You)
 22. Pengantin Remaja (My Little Bride)
 23. Rahasia Pelangi (Love Apart a Moment)
 24. Sumpeh Gue Sayang Loe (Smiling Pasta)
 25. Siapa Takut Jatuh Cinta (Meteor
 Garden)
 26. Wulan (Term of Endearment)
 
 Termasuk beberapa sinetron yang dibuat
 dengan meminta lisensi dari pembuat
 drama aslinya, seperti:
 
 1. Impian Cinderella (Prince Who
 Turns into Frogs)
 2. Kau Masih Kekasihku (At the
 Dolphin Bay)
 3. Penyihir Cinta (Magician of Love)
 4. Putri Kembar (100% Senorita/Twins)
 
 Ada yang berani memasang soal ini di
 koran nasional?
 
 Atau setidaknya mengajukan proposal ke
 MURI dengan predikat penjiplak sinetron
 terbanyak?
 Lebih Baik Menjiplak daripada Membuat
 
 Secara ekonomis, menjiplak jelas lebih
 murah daripada memproduksi sendiri.
 Menjiplak tidak melibatkan unsur
 kreativitas, idealisme, risiko pasar,
 dan pengorbanan waktu dan tenaga yang
 begitu besar. Dibanding film yang
 berkualitas, membuat sinetron
 membutuhkan biaya tak lebih dari Rp
 500-Rp700 juta. Dunia Tanpa Koma (DTK)
 yang termasuk bagus saja menelan tak
 kurang dari Rp 800 juta.
 
 Kalau dilihat sepintas, produsen
 sinetron plagiat terbesar adalah
 Sinemart. Kemudian disusul production
 house lain seperti MD Entertainment,
 Multivision, Frame Ritz, Soraya
 Intercine, dan seterusnya. Tapi
 konyolnya, di ending creditnya mereka
 menyatakan "Cerita ini bla.. bla..
 adalah fiktif/karangan. Apabila terdapat
 kesamaan nama, tokoh, alur cerita, bla..
 bla.. adalah kebetulan semata." Very funny.
 
 Buku Harian Nayla, misalnya. Dialog
 pemainnya, adegannya, 90% lebih sama
 persis dengan Ichi Rittoru No Namida/1
 Litre of Tears - kecuali kualitas
 pemainnya yang (maaf) amatiran dan
 nyaris tanpa ekspresi. Film bagus yang
 "diadaptasi" jadi sampah.
 
 Aslinya, dorama ini diangkat dari kisah
 nyata berdasar buku harian Kitou Aya,
 yang berjuang menghadapi penyakit
 Spinocerebellar Degeneration yang
 dideritanya sejak umur 14 tahun sampai
 ia meninggal saat umur 25 tahun. Penuh
 air mata? Ya. Ichi Rittoru No Namida
 juga banyak menyimpan adegan menyentuh
 yang sangat indah. Di ending credit juga
 diperlihatkan foto asli Aya, diiringi
 lagu Only Human dari K, yang makin
 membuat sedih.
 
 Contoh lain, Benci Jadi Cinta, juga
 sangat persis dengan My Girl. Sinetron
 ini menceritakan cewek ABG yang centil
 dan pandai berakting. Suatu ketika,
 cewek tersebut (Zouyulin) tinggal
 serumah dengan si cowok (Gongcan) untuk
 berpura-pura sebagai sepupunya yang lama
 menghilang. Tujuannya adalah untuk
 menyelamatkan kakek yang sedang sakit
 parah. Tapi lama kelamaan, timbul rasa
 cinta di antara keduanya - klise.
 Bedanya, di My Girl cewek keduanya
 adalah pemain tenis, sementara di Benci
 Jadi Cinta diganti sebagai pemain
 bulutangkis.
 
 Adik saya bilang, sinetron Gue Sihir Lu
 (Nia Ramadhani) yang bercerita tentang
 penyihir juga diadaptasi dari komik
 serial cantik "Throbbing Tonight", yang
 bercerita tentang Ranze dan Makabe, anak
 raja setan yang dibuang ke bumi. Juga
 sinetron Si Yoyo yang ternyata adaptasi
 dari film India (maaf, saya lupa judulnya).
 
 Update: Sinetron Sissy, Putri Duyung,
 yang ditayangkan setiap hari Senin jam
 19.00 sebagian besar meniru film
 produksi luar negeri yang berjudul
 Aquamarine. Kedua film ini menceritakan
 tentang seorang putri duyung yang
 tiba-tiba berubah menjadi manusia dan
 jatuh cinta pada manusia. Info via nthee.
 
 Kalau Anda bisa mengkonfirmasi dan/atau
 menambah daftar tersebut di atas,
 silakan kontak ke saya.
 Bagaimana Sinetron Menjajah Dunia
 
 Pertanyaannya sekarang, mengapa sinetron
 bisa begitu meraja lela? Kalau menurut saya:
 
 * Masyarakat Indonesia secara umum
 belum bisa menilai mutu/kualitas suatu
 tayangan dengan akurat. Misalnya, banyak
 tayangan asing yang sangat laku di
 negara asalnya tetapi justru jeblok
 ratingnya ketika ditayangkan di
 Indonesia. Begitu juga sebaliknya.
 * Banyak masyarakat kita yang
 menonton televisi hanya untuk pleasure,
 menghibur diri. Apalagi kaum pria, yang
 kebanyakan menonton hanya untuk
 menghibur mata - selain mencari
 informasi dan tayangan olahraga (sepakbola).
 * Penonton dari strata kelas
 menengah atas yang "sulit dibohongi"
 oleh sinetron-sinetron murahan seperti
 Anda, mungkin lebih prefer untuk
 membaca, surfing internet, menonton DVD,
 bermain console game, atau hang out
 sebagai sarana hiburan. Kalaupun
 menonton televisi, pasti menggunakan
 satelit/TV kabel yang pilihannya jauh
 lebih beragam dan berkualitas.
 * Ujung-ujungnya, sinetron akan kian
 diminati, permintaan pasar terus
 bertumbuh, dan pembodohan masal terus
 bergulir. Lingkaran setan yang tiada
 berujung.
 
 Saya tidak bermaksud syirik dengan Raam
 Punjabi yang kian tajir karena
 dagangannya laris manis di pasaran. Saya
 juga tidak bermaksud menyalahkan
 orang-orang production house yang
 mungkin menyangka bahwa orang-orang kita
 tidak pernah menonton serial luar.
 Barangkali memang mereka berniat membuat
 karya bermutu, namun terpaksa harus
 realistis dan mengikuti selera pasar.
 
 Masalahnya, sinetron sebenarnya
 mengajarkan kita dengan hedonisme dan
 mengajak kita untuk bermimpi tentang
 gaya hidup yang serba wah. Lebih parah
 lagi, televisi ditonton mayoritas oleh
 kalangan kurang terpelajar, ibu-ibu
 rumah tangga, atau pembantu yang butuh
 waktu lama untuk menyadari bahwa mereka
 sedang dikibulin dengan impian kalangan
 atas.
 
 Begitulah selera mereka. Mereka gampang
 terbuai dengan kemewahan, berkhayal
 menjadi orang kaya, bermimpi
 dipersunting pangeran kaya dan tampan,
 membayangkan memperistri wanita cantik
 dan seksi, memiliki rumah mewah dan
 mobil belasan, dan sebagainya.
 
 Hasilnya, kebanyakan orang Indonesia
 lebih suka berkhayal. Anggun pernah
 menjawab "bermimpi" sebagai kunci sukses
 karirnya saat ini. Tapi put it into
 action-lah yang membuat perbedaan.
 Antara pemenang dan pecundang. Antara
 kesuksesan dan fantasi tak berujung.
 
 Saya yakin Anda mungkin bisa melindungi
 dari serangan sinetron yang
 bertubi-tubi. Tapi bagaimana dengan
 jutaan penduduk Indonesia lainnya?
 Bahaya Laten Sinetron
 
 Sampai kapan fenomena ini bertahan?
 Sulit ditentukan. Selama jumlah
 penontonnya masih bejibun, selama
 production house masih produktif
 memproduksi (baca: menjiplak), dan
 sampai kita masih belum tersadarkan
 diri, fenomena ini masih akan
 berlangsung lama.
 
 Yang jelas, kalau fenomena ini dibiarkan
 berlarut-larut, serial bagus dan membumi
 seperti Bajaj Bajuri atau Office Boy
 mungkin akan segera punah. Sinetron
 berkualitas seperti Dunia Tanpa Koma
 (DTK) bakal tak laku lagi. Tayangan
 berita seperti Liputan 6 dan Headline
 News mungkin akan segera dilikuidasi.
 Pembuat film/FTV indie mulai
 menggadaikan idealismenya. Divisi
 in-house production akan dimerger.
 Pimpinan kreatif berganti nama menjadi
 pimpinan copy-paste.
 
 Dan setiap televisi akan berlomba-lomba
 menayangkan sinetron setiap saat.
 
 Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa
 semua yang menonton sinetron sama sekali
 tidak cerdas. Namun, sebelum
 perekonomian bangsa ini benar-benar
 pulih sehingga bisa menciptakan generasi
 intelek yang bisa menyadari bahwa
 dirinya sedang ditipu sinetron-sinetron
 tersebut, saya cuma bisa menyarankan,
 mari kita sama-sama untuk tidak menonton
 sinetron.
 
 
     
                       

 
---------------------------------
We won't tell. Get more on shows you hate to love
(and love to hate): Yahoo! TV's Guilty Pleasures list.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke