Mudahkan anakmu berdoa kebaikan untukmu para orang tua

Sekarang…mereka berdua menangis pelan… di hadapan
Kepala Sekolah dan Guru TK Qurrota A’yun* … 

Menyesali diri…tak sanggup berkata…kelu lidah mereka,
seakan tersedak…tak sanggup mengeluarkan isi hati dan
benak mereka…kecuali dengan tetes air mata yang
perlahan…

Bertekad sebelum terlambat sepenuhnya…mereka
memperbaiki diri, dan menyayangi buah hati mereka
sepenuh hati…

Sehingga putri kesayangan mereka dapat dengan mudah
berdoa “Robbighfirlii Wa liwalidayya Warhamhumaa Kamaa
Robbayaanii Shogiirooo”**…




Tiga jam yang lalu:
===============
“Maaf Ibu Shinta, ada telepon, katanya dari sekolah
anak Ibu.”

“Ok, saya angkat dari sini, thanks ya Lia”

“Halo Ibu Shinta, As Salamu ‘alaikum, maaf mengganggu
Ibu. Saya Ibu Dian, dari TK Qurrota A’yun ingin
membicarakan hal penting terkait anak Ibu – Rahmah,
bisa berbicara sebentar?” 

“Wa ‘alaikum salam, maaf Ibu guru, apakah penting
sekali? Ada apa dengan anak saya? Bisa telepon nanti
saja, 1 jam lagi? Saya ada meeting!”

“Maaf Bu Shinta, Saya menyampaikan permintaan dari Ibu
Puji – Kepala Sekolah TK Qurrota A’yun, bahwa Beliau
mengharapkan kedatangan Ibu dan Suami Ibu pada hari
ini jam 3 siang, membicarakan hal mendesak terkait
anak Ibu – Rahmah.”

“Apakah harus hari ini? Saya dan suami saya sibuk
sekali! Bisakah Ibu Dian mengerti bahwa kami tidak
bisa dipanggil secara mendadak seperti ini?!”

“Kami mengerti sekali, tapi ini sangat mendesak Ibu
Shinta, demi kepentingan buah hati Ibu, kami takut
bila terlambat, nanti kita semua menyesal.”

“Apa maksudnya dengan menyesal? Apa anak saya
melakukan kesalahan? Nakal? Silahkan Ibu hukum, kami
sudah memberikan wewenang sepenuhnya kepada sekolah
untuk mengajar, mendidik dan merawat anak kami di
sekolah, termasuk menghukumnya bila perlu!”

“Ibu Shinta, kalau masalahnya sekedar nakal biasa…kami
tak perlu repot-repot mengganggu Ibu, tetapi ini
terkait dengan masalah perkembangan kejiwaan anak Ibu,
kami harap Ibu dan Suami Ibu dapat bekerja sama demi
kebahagiaan buah hati Ibu, bagaimana?”

“Hm… baiklah, dua jam lagi kami kesana, saya harap
benar-benar penting, karena terus terang saja kalian
telah mengganggu kami!”

“Kami sekali lagi mohon maaf yang sedalam-dalamnya,
kami mengerti kesibukan Ibu dan Suami Ibu, kami tunggu
kehadirannya nanti. As Salamu ‘alaikum Bu.”

“Wa ‘alaikum salam.”

Hm…ada-ada saja, kenapa lagi dengan Rahmah? Mana aku
harus izin keluar kantor…apalagi harus menghubungi Mas
Bima, merepotkan saja!

Shinta segera menelepon sekretarisnya untuk
mendelegasikan beberapa tugas, kemudian meminta izin
ke atasannya. Setelah itu dia mengirim SMS ke Bima,
suaminya, eksekutif muda sekaligus pemilik salah satu
perusahaan swasta besar di Jakarta.

Tak lama setelah itu….nada dering Mobile Phone memaksa
Shinta menghentikan aktivitasnya lagi…sambil mengambil
napas dalam-dalam dan menghela, ia mengeluh ringan,
lalu mengangkat Mobile Phone-nya.

“Halo Shinta, ngapain kamu kirim SMS seperti ini…
maksa aku harus ikut kamu ke sekolahnya Rahmah? Kamu
tahu tidak, aku sedang sibuk?!.. Aku tidak mau
melanjutkan `pembicaraan` kita tadi malam, aku tidak
mau cari gara-gara lagi sama kamu… kamu aturlah sana,
kamu kan ibunya anak-anak!”

“Hai Mas Bima, aku tuh juga sama seperti kamu,
memangnya aku pengangguran apa, tapi…kita harus segera
kesana, katanya Rahmah ada masalah, dan bukan nakal
biasa…katanya ada masalah kejiwaan…entahlah kenapa
mereka pakai kosakata seperti itu…ingin menteror orang
saja… tapi kalau mereka macam-macam, bakal aku omelin
mereka…, kamu pokoknya harus kesana, kamu kan bapaknya
anak-anak, kamu sendiri yang sering gembar-gembor
sana-sini bahwa kamu tuh kepalanya keluarga, ya kan!?”

“Tunggu…kamu bilang masalah kejiwaan? Rahmah!? Kamu
becanda kan!?”

“Ngapain aku bercanda…mereka kali yang bercanda…
pokoknya dua jam lagi sampai di sekolah Rahmah!”

“Berarti kalo kita kesana, Rahmah masih di sekolah?”

“Tentu tidaklah, kan sudah ada antar jemput dari
sekolah, Rahmah pasti sudah di rumah sama si Mbok!”

“Oke..oke.. ya udah, ketemu disana, dah!”

Huh…dasar lelaki egois, tidak ada basa-basi, mutusin
telepon pun nggak sopan! Bisanya cuma bikin anak saja,
tanggung jawab kagak mau, enak di dia, kagak enak di
gua! Maksa gua jadi ibu rumah tangga, padahal kan gua
udah ada karir, masak dia aja yang bisa kelayapan
keluar rumah! Jadi cewek harus dipingit terus! Bisa
stress gua, ngapain gua kuliah tinggi-tinggi!

Huh…cewek reseh, bikin gua sulit konsentrasi, padahal
kan gua kerja demi mereka! Udah jelas kalo gua maju,
keluarga juga yang untung dan bahagia! Demi masa depan
mereka! Apa sih artinya pekerjaanya dia, cuma sebagai
kepala cabang aja udah belagu dan cuma punya titel
sarjana ekonomi doang, mestinya dia tahu diri! Cewek
tuh ngurusin semua urusan rumah!

Shinta dari daerah Senen, Bima dari daerah
Sudirman…mereka berdua melaju kencang dengan
kendaraannya masing-masing, sambil bergelut dengan
seribu kecamuk di benaknya…gelisah di hatinya…pergi ke
arah daerah Pondok Gede, tempat putri kesayangan
mereka – Rahmah, bersekolah di TK Qurrota A’yun.





Tiga puluh menit yang lalu:
=====================
“As Salamu ‘alaikum, permisi saya ingin bertemu dengan
Ibu Dian dan Ibu Puji, saya Ibunya Rahmah”

“Oh, Wa’alaikum salam, silahkan Bu, saya sendiri Ibu
Dian, mari kita masuk ke ruangan Ibu Puji! Oh ya,
Bapak tidak datang barengan Ibu?!”

“Oh jadi Suami saya belum datang, mungkin ada urusan
penting…mungkin kita mulai dulu saja, soalnya saya
juga ada urusan penting!”

Mereka masuk ke ruang kerja Ibu Puji, setibanya di
dalam, Ibu Puji langsung menyambut mereka.

“Terima kasih Ibu Shinta sudah menyempatkan diri
datang…sebenarnya saya ingin mulai, namun karena
sangat penting, kita tunggu dulu ya kedatangan Pak
Bima?!”

“Ohh… ii..iya Bu…”, lirih terdengar suara Shinta,
sambil berusaha memaksakan diri untuk tersenyum…walau
kaku.

Semenit…dua menit…. Lima menit… Sepuluh menit…. Lima
belas menit… uuh obrolan basi.. padahal ada urusan
penting di kantor… brengsek nih Mas Bima, bikin susah
aku saja…

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, “Maaf
terlambat…tadi ada tamu penting, jadi meeting dulu,
terus di jalan macet”

Tiga puluh menit sudah shinta menunggu..Shinta dan
Bima saling bertukar pandangan dan tersenyum
sinis…suasana memanas sekaligus membekukan
pembicaraan…sampai akhirnya terpecahkan oleh suara
deheman dari Ibu Puji.

“Maaf merepotkan kalian semua…Ibu Shinta…Pak Bima…
namun kami dari sekolah mengkhawatirkan perkembangan
kepribadian buah hati Bapak dan Ibu…”

“Rahmah hari ini tidak bersikap sebagaimana biasanya…
padahal biasanya riang…tidak pernah nakal, tidak
pernah bertengkar, tidak pernah menangis, pokoknya
kelakuannya sangat baik. Kebetulan yang tahu detail
kejadiannya adalah Ibu Dian…Beliaulah yang selalu
mengajar kelas dimana Rahma belajar dan bermain.”

“Saya harap Bapak dan Ibu bersabar..diam..dan tidak
berbicara dahulu…sampai cerita Ibu Dian selesai, saya
persilahkan Bapak dan Ibu berbicara dan mengutarakan
pendapat kepada kami.”

“Kami mohon maaf atas kelancangan kami mengganggu
Bapak dan Ibu sekalian, silahkan Ibu Dian!”




Lima jam yang lalu:
===============
Ibu Dian dengan senyum yang ramah bertanya kepada anak
asuhnya – murid TK Qurrota A’yun, “Hayo anak-anak,
apakah semua sudah hafal doa dan arti dari doa kepada
kedua orang tua?!”

“Iyaa Bu Guruuuuu!”

“Bagus, ayo kita bareng-bareng, baca doa dan artinya
bersamaan. Siap?! Hitungan ketiga dimulai,
satu…dua…Tiga!!”

“Robbighfirliii…Wa
liwalidayya…Warhamhumaa…Kamaa...Robbayaaniii…Shogiirooo…”

“Artinyaaa:…Ya Tuhanku…Ampunilah Aku…Dan juga kedua
orang tuaku…Dan kasihilah mereka
berdua…Sebagaimana….Mereka merawatku….Sewaktu
keciiiillll”

Tiba-tiba ada suara bocah yang memecah riuh gembira
lantunan doa…

“Ibu Guru… Rahmah curang… Rahmah tidak pernah membaca
kata-kata yang terakhir…”

“Alex, kamu yang tertib ya…jangan bicara dulu… kita
baca doa dulu…baru nanti Alex bicara ke Ibu…”

“Tapi Ibu Guru,” sela Alex, “Alex tidak bohong kok,
Alex kan anak baik…Rahmah tidak tertib…tidak baca doa
seperti kita?”

Hm…iya juga sih mendadak Rahmah agak diam…agak murung,
padahal biasanya sangat bersemangat, paling cepat
hafal doa, dan suka memimpin membaca doa, dan Alex
sangat dekat dengan Rahmah…

“Rahmah, coba Rahmah baca doa sendiri…Ibu mau baca
doa, mengikuti tuntunan Rahmah, Rahmah bisa kan?!”

Menunduk seakan takut bertatap mata, Rahmah menjawab
lirih “Bisa Ibu Guru…”

“Robbighfirli… Wa
liwalidayya…Warhamhuma….Warhamhumaa….” mendadak
terhenti, seperti tersedak oleh sesuatu…

“Tuh kan, Alex nggak bohong, Rahmah nggak berdoa
seperti yang Ibu Guru ajarin!”

“Uuh… diam kamu, Alex jelek,” Bentak Rahmah, “… Rahmah
kan… Rahmah kan…”, mendadak Rahmah menangis…

Wah gawat ini!! Ini diluar skenario mengajar, terpaksa
aku harus mengalihkan perhatian mereka…dan mendamaikan
mereka…

“Lho kok Rahmah menangis, jangan menangis ya sayang,
Rahmah akan anak yang pintar, anak yang manis..udah
besar…sayang dong menangis…”

“Ayo Alex, sayang-sayang ke Rahmah, Alex kan teman
Rahmah, kasihan tuh Rahmah nangis, dihibur ya…”

“Rahmah, Alex minta maaf ya.. bikin Rahmah nangis…
maafin ya…ntar mainan lagi kan…ntar Alex boleh makan
bareng ama Rahmah kan?!”

“Iya…Rahmah juga minta maaf ama Alex… habis Rahmah
barusan …ngomong tidak baik sama Alex…padahal kan
Rahmah cuma…cuma nangis karena Mama dan Papa”

Aduh senangnya dua anak kecil itu bersalaman dan
berpelukan…teduhnya dunia kalo semua orang bersikap
polos seperti mereka.. tapi kenapa Rahmah jadi berubah
dan bilang nangis karena Mama dan Papa?

Pada saat pulang sekolah, Ibu Dian minta izin ke Ibu
Puji untuk menunda pekerjaan administratifnya di TK,
karena ingin menghibur Rahmah sekaligus
mengantarkannya ke rumah di daerah Cibubur, ikutan
nebeng antar jemput sekolah…kebetulan Rahmah diantar
paling belakangan, jadi bisa berbicara dan tanya
banyak hal kepada Rahmah.

“Rahmah, tadi kenapa nangis waktu baca doa untuk kedua
orang tua? Rahmah nangis karena lupa?”

Mendadak, dari sikapnya yang riang dan aktif bergerak
dalam mobil jemputan …berubah… Rahmah terdiam…kemudia
menggelengkan kepala perlahan sambil meneteskan air
mata.

“Lho, kok nangis lagi… kan Rahmah anak manis, masak
nangis terus? Kan Rahmah udah gede, ayo bicara ama Ibu
Dian, ya sayang?!”

Setelah isak-tangisnya mereda, dengan tersendat,
Rahmah menjawab:

“Rahmah…Rahmah…. nangis ….karena sedih …ingat ….Papa
Mama…”

“Rahmah ….nggak mau …ntar kalo Papa dan Mama udah
tua…Papa Mama kesepian ….karena …..sering Rahmah
tinggal kerja…”

“Rahmah ….nggak mau ….ntar kalo …Papa Mama …dengar
Rahmah…. bicara tidak baik ….seperti tadi ….seperti
Rahmah…. bicara ke Alex…kan sedih…”

“Rahmah nggak…. mau ntar ….kalo Papa Mama… dengar
Rahmah… ngomong `cerai`…habis ….Papa Mama ….suka
bicara `cerai` … terus habis itu …Papa keluar rumah
…dan Mama nangis… Bu Guru…`cerai` itu apa sih? `cerai`
itu …kayak mati ya? Habis dulu Papa Mama… nangis waktu
dengar katanya Kakek dan Nenek Mati…”

“Rahmah nggak mau ….ntar kalo Papa Mama tidur …tidak
ada yang ngelonin…tidak ada yang ngedongeng… tidurnya
kayak Rahmah….,sering tidur di depan TV ….karena
dongengnya cuma ada di TV Kabel…di Playhouse…di
Disneyland…di Nickelodeon…”

“Rahmah nggak mau… ntar Papa Mama …tidak diajak
jalan-jalan ama Rahmah,… Kayak Papa Mama ….suka nggak
bisa…lupa ajak Rahmah ….jalan-jalan…padahal …cuma
minta …di hari sabtu …atau di minggu aja kok…”

“Rahmah nggak mau …ntar Papa Mama ditinggal ama Mbok
aja..sepi…Rahmah tuh kangen ama Papa Mama…Rahmah nggak
mau ntar …Papa Mama kalo udah tua …kangen karena
Rahmah tinggalin Papa Mama ama Mbok…di Rumah
sendirian…”

“Rahmah nggak mau… Papa Mama…hampir nggak pernah
ngelihat Rahmah nanti..soalnya sekarang.. Rahmah
hampir nggak pernah ngelihat Papa Mama…pagi Papa Mama
udah berangkat… Rahmah mau bobo… Papa Mama belum
pulang….”

“Makanya Rahmah sedih…baca doanya bisa diganti tidak?!
Kok Ibu Guru diam…kan Rahmah lagi bicara ama Ibu
Guru…katanya kalo ditanya orang kita harus menjawab…”

Kini giliranku yang membisu…sambil berjuang membendung
genangan air mata di pelupuk mataku…..tak tahu harus
berkata apa…

Hanya bisa menjawab lirih diiringi tampias senyum
semu, “Iya Rahmah sayang, Ibu Guru dengar kok Rahmah
bicara…”



Jakarta, 1 Juli 11:31…menjelang beberapa minggu
sebelum Hari Anak Nasional 



Nugon

=============================================================
*Qurrota A’yun bermakna penyenang dan peneduh hati,
menyejukkan dipandang mata
**“Robbighfirlii Wa liwalidayya Warhamhumaa Kamaa
Robbayaanii Shogiirooo” bermakna berikut:
Robbighfirlii – Ya Tuhanku, ampunilah aku
Wa liwalidayya – Dan juga kepada kedua orang tuaku
Warhamhumaa – Dan kasihilah mereka berdua
Kamaa – Sebagaimana
Robbayaanii – Mereka merawatku
Shogiirooo – Sewaktu kecil


Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!

http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/
http://nugon19.multiply.com/journal


       
____________________________________________________________________________________
Got a little couch potato? 
Check out fun summer activities for kids.
http://search.yahoo.com/search?fr=oni_on_mail&p=summer+activities+for+kids&cs=bz
 
  • [BinusNet] Mudahkan anakmu berdoa.. (dibaca jika lagi luan... Nugroho Laison

Kirim email ke