Salah Indonesia sendiri kenapa pake pesawat yg udah bau tanah dan banyak 
kecelakaan akhir2 ini.Uang di pake korupsi and gak ningkatin mutu layanan dan 
update pesawat.Kalo gak mau di pandang remeh yah beli pesawat baru and Customer 
servicenya di tingkatin...maunya uang masuk tapi gak mau keluar....Yah Garuda 
dan Airlines yg lain mesti bercermin dulu lah sebelum bertindak...Bayangin skrg 
pesawat lama menumpuk gak ada yg mau beli dan yg rugi siapa yah airlines itu 
sendiri...bandingin aja pesawat lokal USA...Jet Blue...bbrp bulan yg lalu ada 
pesawat JetBlue yg mengalami masalah teknis pada roda depan yg gak mau turun 
waktu mau landing tapi mereka bisa atasi di udara dan gak ada masalah waktu 
landing...semua penumpang selamat dan bisnis jalan terus.Kalo pesawat lokal ada 
masalah kayak gitu sih yah nangis aja, biasanya pesawat tua kalo ada satu 
masalah pasti timbul masalah yg lain.kapan yah kita bisa nikmatin pesawat lokal 
baru yg dalamnya tiap tmpt duduk ada TV and radio serta
 bisa ngesurf internet kayak negara maju.

Masabi Masabi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:          
Hi Binusian.. Uni Eropa sudah melarang pesawat garuda
(( dan semua pesawat maskapai indo lainnya) untuk
terbang ke Eropa karena ngak memenuhi standar
keselamatan.. 

Dan juga negara Eropa dan Amrik tidak merekomendasikan
warganya naik semua pesawat lokal Indo ??

Tapi pejabat pada protess karena terlalu berlebihan
katanya.. 

Menurut Binusian gimana ???

http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/07/tgl/01/time/125201/idnews/799698/idkanal/10

01/07/2007 12:52 WIB 
Kelebihan Penumpang Akibat Boarding Garuda Tidak
Teliti
Nograhany Widhi K - detikcom

Jakarta - Sebelum take off, pesawat Garuda bernomor
GA 162 jurusan Jakarta-Padang sempat kelebihan satu
penumpang sehingga delay. Hal ini diduga karena
petugas boarding kurang teliti.

"Jadi bukan tanpa tiket, tapi ada kelebihan
penumpang," kata Kepala Bidang Komunikasi Garuda
Indonesia Pudjobroto kepada detikcom, Minggu
(1/7/2007).

Penumpang yang dimaksud adalah seorang anggota
keluarga Profesor James. Rombongan keluarga itu
terdiri dari 5 orang, seluruhnya memiliki tiket
pesawat jenis Boeing 737-400 itu. 

"Saat ini kan sedang peak season, jadi banyak
penerbangan ke kota-kota lain. Karena ramai, Pak James
dan keluarganya saat check-in terpisah. Pak James di
konter tanpa bagasi, dan keluarganya di konter lain,"
jelas pria berkaca mata itu.

Rupanya, kata Pudjo, dari lima orang keluarga James,
ada satu yang tidak check-in. Dia adalah anak Profesor
James, Stevi. Hal ini baru diketahui saat purser
(kepala kabin) melakukan cek ulang.

Jadi petugas boarding kecolongan atau tidak teliti,
Pak? "Ya mungkin tiket dikasih kelima-limanya,
langsung disuruh masuk," kata Pudjo.

Akibatnya, sambung Pudjo, saat dilakukan pengecekan
terakhir sebelum pesawat lepas landas, terjadi
kelebihan jumlah penumpang. Kapasitas pesawat tersebut
adalah 120 kursi kelas ekonomi dan 10 kursi untuk
kelas bisnis. Tetapi ternyata ada 131 penumpang yang
naik pesawat tersebut.

Usut punya usut, rupanya Stevi tidak check-in. Dan
oleh petugas Garuda, jatah kursi Stevi diberikan
kepada penumpang lain yang ada di waiting list. 

"Akhirnya, keluarga memutuskan Pak James yang tidak
menumpang pesawat itu, tapi ikut penerbangan
berikutnya. Tentunya dengan proses administrasi dengan
tiket baru," jelas Pudjo. 

Inilah yang membuat pesawat delay. Pesawat yang
semestinya berangkat pukul 06.25 WIB, baru take off
pada 07.06 WIB. Namun sekitar pukul 07.56 WIB pesawat
putar balik ke Cengkareng karena kerusakan teknis pada
tekanan udara di kabin. (fiq/djo)

__________________________________________________________Ready for the edge of 
your seat? 
Check out tonight's top picks on Yahoo! TV. 
http://tv.yahoo.com/


         

       
---------------------------------
Fussy? Opinionated? Impossible to please? Perfect.  Join Yahoo!'s user panel 
and lay it on us.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke