Mengenali budaya bullying di kantor    Oleh
Loys Gunawan
Recruitment Service Section Head BINUS Career 
  Pernahkah anda mengalami rasa enggan yang teramat sangat saat hendak 
berangkat ke kantor karena anda sudah membayangkan akan mengalami 1 hari yang 
menyeramkan di kantor. Pernahkah anda merasa mual saat menunggu bos datang dan 
jantung anda serasa hendak copot saat ajudan bos datang ke kantor dan membawa 
tas kerja bos anda. Pernahkah anda merasa gembira luar biasa saat mengetahui 
bahwa bos anda harus menghadiri suatu meeting di luar dan tidak dapat datang ke 
kantor satu hari penuh.
  
Jika anda menjawab “ya” untuk semua pertanyaan di atas berarti anda sedang 
menjadi korban bullying yang dilakukan oleh bos anda. 
  
Atau anda merasa bahwa semua orang mendadak menundukkan kepala dan tidak 
berbicara dengan jujur saat bicara dengan anda. Di suatu saat, anda merasa 
bahwa bawahan anda sedang membicarakan keburukan anda di belakang. Atau anda 
selalu memberikan instruksi dengan suara keras sehingga bawahan tidak mampu 
untuk memberikan pendapat berbeda.
  
Jika anda menjawab “ya” untuk semua pertanyaan tadi, mungkin anda sedang 
menjadi pelaku bullying di kantor.
  
Bullying yang saat ini sedang ramai dibicarakan karena perilaku beberapa siswa 
sekolah favorit di Jakarta sebenarnya juga rawan terjadi di kantor. Di beberapa 
kantor yang mempunyai budaya yang kaku, praktek tekanan terhadap karyawan jamak 
terjadi.
  
Praktek menekan yang dilakukan oleh atasan biasanya akan diimbangi oleh budaya 
gossip di antara bawahan. Praktek gossip ini dilakukan untuk menetralisir 
suasana hati yang buruk saat menghadapi tekanan atasan. Untuk menambah runyam 
suasana, yang umum terjadi adalah adanya mata mata yang disusupkan oleh atasan 
yang merasa bahwa dirinya sedang dibicarakan oleh anak buahnya.
  
Tiga budaya yang tidak produktif dan saling berkaitan ini (bullying – gossip – 
espionage) pada akhirnya akan menghancurkan kerjasama tim dan membuat suasana 
kantor menjadi tidak nyaman untuk bekerja. Produktifitas yang tercapai adalah 
produktifitas semu yang nampak di peningkatan dan pencapaian target , namun 
menghabiskan komponen lainnya yaitu turn over pegawai. 
  Seorang pegawai tidak akan bertahan lama di suasana seperti ini, dan hanya 
orang orang yang dekat pada atasan saja yang akan survive. Jika atasan pelaku 
bullying adalah pemilik perusahaan, maka bawahan yang survive akan menjadi 
orang kepercayaan. Sedangkan jika atasan pelaku bullying hanyalah seorang 
pegawai yang dapat dimutasi, maka orang yang menjadi mata mata atasan biasanya 
akan tersingkir dari pergaulan saat terjadi mutasi atasan.
  
Apakah kantor anda mempunyai suasana yang tidak menguntungkan seperti ini? Jika 
ya, berarti anda telah terjebak dalam suasana kantor yang tidak menguntungkan. 
Ada baiknya anda segera menentukan akan berada di posisi mana untuk menjamin 
karir anda di perusahaan ini.
  
Atau anda memilih untuk melanjutkan karir di tempat lain? 


       
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals?  Find them fast with Yahoo! Search.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke