IT Corner - Mari Ngerumpi Seputar IT
Ini adalah pendahuluan dari jurnal IT Corner.
Di sini penulis akan mencoba mengajak rekan-rekan sekalian terutama yang
mempunyai concern terhadap segala topik atau issue di sekitar IT untuk
berdiskusi. Penulis akan melemparkan beberapa topik yang mengganjal di
benaknya, dan mencoba meminta masukan atau pun tanggapan dari rekan-rekan
sekalian.
Demikian, semoga berkenan....Dan dengan ini..marilah kita ngerumpi seputar IT
di IT Corner.
Salam,
Nugon (Nugroho Laison)
---------------------------------
IT Corner Training, Nice To Have?
Berhubung profesi penulis sekarang adalah sebagai trainer, penulis ingin
membicarakan perihal training. Yaitu apakah training itu suatu keharusan Is a
Must, atau hanya pelengkap, sebaiknya ikut training Nice to Have?
Ada beberapa bos, katakanlah Manager IT yang enggan memberikan kesempatan
kepada anak buahnya untuk mengikuti training, baik untuk materi yang terkait
dengan teknologi yang diimplementasikan di kantor, apalagi untuk teknologi yang
tidak/belum diimplementasikan.
Semua ini dengan beragam alasan, antara lain: tidak ada budget (untuk yang
ini no comment) K ; lebih baik belajar otodidak (sendiri), apalagi banyak
bertebaran website, buku bacaan dan majalah yang menawarkan segunung tips and
tricks.
Jadi bagi mereka, training itu adalah Nice to Have! Tapi benarkah begitu?
Kebalikan dari kubu Nice to Have, training bagi sebagian pihak adalah suatu
keharusan Is a Must. Kenapa? Beragam alasan pendukung dapat diutarakan.
Bisa jadi sebagai kompensasi atau reward, penghargaan sekaligus motivasi bagi
staff untuk tetap mengembangkan kompetensi dan tetap loyal terhadap perusahaan.
Sudah jadi rahasia umum terutama di negara kita, bahwa di waktu luang (jika
ada), cenderung dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan non education (bukan
riset dan pelatihan). Dan cenderung pula tidak terbiasa untuk belajar secara
otodidak, ini sedikit bisa dimaklumi karena IT telah berkembang begitu pesat
dan begitu komplek.
Sebagai contoh perbandingan, ketika penulis belajar Turbo Pascal, hanya cukup
1 buku yang tebalnya sekitar 200-300 halaman, dikebut beberapa minggu, bisa
langsung dikuasai dan mencapai tingkatan advance.
Kini penulis sempat iseng, ingin mencoba mendalami Java atau .Net Framework.
Ternyata buku yang basic (untuk beginner) saja rata-rata berisi 200-300
halaman. Itu hanya untuk mendapatkan beginner level saja. Sehingga cukup
menaikkan gairah untuk malas belajar J
Di sisi lain, ada beberapa perusahaan enggan memberikan kompensasi, reward
ataupun penghargaan secara cuma-cuma, apalagi dalam bentuk nominal (baca: uang)
tanpa ada suatu `return` yang bermanfaat bagi perusahaan, terlebih bila
penghargaan selalu diberikan dalam bentuk uang, banyak yang menilai cenderung
`kurang mendidik` L .
Apa pun bagi penulis, terlepas atau tidak dari profesinya sebagai trainer,
terlepas dari masalah keuangan, juga bertebarannya sumber tips and trick,
training mempunyai posisi tersendiri yang sulit digantikan.
Pertama, training mempunyai keunggulan utama, yaitu bahan yang akan
dipelajari dikemas secara sistematis. Ini tercermin dalam silabus
kursus/training. Ini sulit ditandingi oleh tips and tricks yang banyak
diposting di berbagai website atau pun beberapa buku bacaan dan majalah. Dan
umumnya training sudah dipersiapkan sesuai dengan level partisipan yang
mengikuti, ada level basic, intermediate, advance; atau profile partisipan,
semisal: manager, professional, clerical staff, dan sebagainya; juga untuk
skenario tertentu terutama pada kasus upgrade/migration, persiapan sertifikasi.
Jangan lupa, umumnya training memberikan sejumlah pelatihan sehingga diharapkan
partisipan bukan hanya tahu, tetapi dapat menerapkan pengetahuan yang telah
didapat.
Selanjutnya, umumnya bahan training merupakan bahan utama untuk persiapan
sertifikasi, dan diakui secara formal bahkan beberapa dianggap mempunyai kredit
tertentu. Itu yang penulis temui dan rasakan pada saat mengambil sertifikasi
ITIL Foundation, dan itu juga yang dirasakan oleh rekan-rekan yang lain yang
ingin mengambil sertifikasi CISA, CFA, dan sebagainya.
Terakhir, perusahaan dapat berkolaborasi dengan training center untuk
melakukan suatu monitoring, yaitu penilaian perbandingan kompetensi sebelum dan
sesudah training. Selain itu juga tak jarang perusahaan merekrut training
center untuk bertindak sebagai tenaga ahli auditor, consultant/advisor,
implementator dalam pelaksanaan kegiatan khusus (project) berdasarkan materi
training tersebut, sehingga diharapkan membantu menyelesaikan masalah yang
dihadapi perusahaan tersebut.
Demikian dari penulis, semoga dengan wacana atas dapat memberikan wawasan
lebih sehingga kita dapat menyikapi training dengan lebih bijak.
Segala masukan yang membangun termasuk koreksi sangat penulis tunggu.
Salam,
Nugon (Nugroho Laison)
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
[Non-text portions of this message have been removed]