IT Corner Tanya Kenapa? Kagak Ngarti!
Masih seputar training... ada uneg-uneg entah dari atasan yang mengirim
personilnya untuk mengikuti training, atau dari partisipan itu sendiri bisa
atasan atau pun staff biasa yang mengikuti training
.yaitu Kagak Ngarti! Yap,
benar! Bukan hal asing bagi penulis mendengar kalimat tersebut, bahwa dari
mulut partisipan sendiri, atau pihak yang mengirim partisipan, sering
mengeluhkan bahwa materi training yang diberikan belum atau tidak dimengerti.
Partisipan sering kali berada di `kehampaan` tatkala mengikuti training, dan
anehnya lagi entah pasrah atau menikmati, tidak bertanya kepada trainer apa
yang tidak dipahaminya. Salah Siapa? Bisa jadi trainer yang punya andil; bisa
jadi partisipan; dan bisa jadi keduanya; atau mungkin dari pihak lain yang
terlibat terutama dalam melakukan negosiasi untuk melaksanakan training, yaitu
umumnya para sales dari training provider, dan juga pihak HRD dari partisipan.
Partisipan punya andil dalam masalah ini. Bisa jadi karena tidak termotivasi
untuk mengikuti training. Bisa jadi karena tidak bisa berkonsentrasi lantaran
banyak interupsi, terutama urusan kantor. Ini sering terjadi, terlebih pada
training on-site/in-house; atau karena kondisi suasana lingkungan tempat
training kurang kondusif.
Selain itu partisipan tidak mengerti karena pada saat mengikuti training
tidak melakukan analisa secara 5 W + H, yaitu What, When, Why, Who, Where, How
(mohon maaf kalau urutan mungkin tidak tepat). Bila diperas (meminjam istilah
Orde lama), seseorang
siapa pun yang ingin belajar, harus menanyakan Why, What,
How. Masih ingin diperas lagi? Tanya Kenapa? Yah, pertanyaan yang harus
dilontarkan adalah Why (Kenapa). Sayangnya sejauh pengalaman penulis, banyak
partisipan yang lebih senang berdialog dalam kebisuan, menikmati kehampaan.
Sebagai contoh, teman penulis yang merupakan trainer networking (trainer
CISCO) menjelaskan (dan semoga penulis menyampaikan ulang dengan baik dan
benar) mengenai kenapa ada topologi Star beserta teknologi network device
pendukung semisal Hub, Switch, dan Router. Ini semua karena dilatarbelakangi
oleh beberapa issue yang dihadapi oleh beberapa topologi seperti Ring dan Bus,
yaitu bila salah satu point/node terganggu maka keseluruhan network akan
terganggu/putus.
Sebuah contoh lagi, kenapa ada konsep dan teknologi Directory Services
semisal Active Directory Services di Microsoft Windows platform? Dikembangkan
untuk mengatasi kelemahan pada konsep dan teknologi Workgroup. Karena bila kita
menginginkan semua PC dalam workgroup dapat saling sharing resource mereka,
maka perlu melakukan setting dan konfigurasi yang identik pada semua PC,
terutama yang terkait pada proses autentikasi, dengan cara meregister semua
user account dan password secara identik di semua PC dalam workgroup.
Contoh yang lain, kenapa ada Relational Database? Diciptakan untuk mengatasi
kelemahan cara mengakses dan mengkombinasikan beberapa kelompok data (table)
yang terjadi di model Hierarchical Database (berbentuk Tree). Relational
Database mengkombinasikan beberapa table (yaitu dengan klausa Join dan Union)
dengan memanfaatkan konsep matematika relasional, terutama dengan teknik
Cartesian Product.
Masih banyak contoh lain yang sejenis, yang akan kita dapatkan di berbagai
website atau buku-buku bacaan IT, yang intinya menerangkan Why (Kenapa) muncul
konsep dan teknologi tersebut, yaitu untuk menjawab tantangan dan mungkin juga
kelemahan yg dihadapi oleh teknologi sebelumnya.
Partisipan yang ingin mengikuti training sebaiknya memperkecil gap
ketidaktahuan, misalnya dengan mencari artikel ringan terkait pendefinisian
(What) topik yang akan dibahas pada training, atau sistematika topik tersebut.
Bisa kita cari pada website semisal http://en.wikipedia.org ,
http://whatis.techtarget.com , http://techrepublic.com.com , atau
http://www.ilmukomputer.com, dan sebagainya. Buku yang termasuk dalam kategori
For Dummies juga sangat membantu untuk mengurangi gap tersebut. Bahkan
penulis menganggap orang yang mengarang buku For Dummies ini jenius, karena
bisa mencerahkan orang yang tadinya belum tahu sama sekali. Bisa dijajal,
misalnya bisa mencoba ke http://www.flazx.com/index.php , lalu search For
Dummies.
Dari Trainer, andil terbesar yang membuat partisipan tidak paham adalah tidak
menjelaskan secara Top-Down, dari hal yang mendasar, umum
lalu dirinci secara
bertahap sampai ke tahap terdetail yang mudah diserap oleh partisipan. Selain
itu juga banyak kejadian trainer menerangkan dengan jargon yang tidak
dimengerti partisipan. Semestinya trainer menerangkan dengan menggunakan
analogi (qiyas) dengan hal-hal yang akrab di benak partisipan.
Sebagai contoh, ada beberapa kejadian training dan perkuliahan database yang
mengajarkan materi index secara mendetail, bahkan terlalu detail, padahal
kebanyakan dari mereka awam terhadap hal tersebut. Dan hal ini dikeluhkan oleh
partisipan atau mahasiswa karena menyebabkan mereka tidak mengerti terhadap apa
yang diajarkan. Bahkan yang lebih menarik, ada beberapa orang dari mereka yang
tidak mempunyai bayangan tentang apa itu index. Mungkin ada baiknya pengajar
memberikan asosiasi dan analogi, dengan cara membandingkan index database
dengan yellowpages, atau katalog di perpustakaan. Dengan analogi tersebut
dijelaskan secara bertahap proses kegunaan index, tipe index, cara membuat dan
merubah isi index. Sejauh ini tips ini penulis lakukan dan mendapatkan hasil
yang cukup menggembirakan.
Atau contoh lain, bagaimana menjelaskan konsep IP Address terhadap orang yang
awam terhadap konsep network, bahkan mungkin awam terhadap produk dan teknologi
IT. Bila kita langsung menjelaskan secara mendetail IP Address, Subnet Mask,
dan seterusnya
bisa jadi mungkin yang mendengarkan tetap membisu dalam
ketidaktahuan. Mungkin perlu diberi analogi biar mereka mempunyai bayangan
terhadap apa yang akan dibicarakan. Misalnya dengan memberikan analogi bahwa IP
Address semisal alamat rumah, terutama nama jalan dan nomor rumah; sedangkan
Subnet Mask semisal kode pos atau no blok, dan sebagainya. Setelah mereka punya
gambaran, baru kita berikan penjelasan teknis setahap demi setahap.
Trainer juga sebaiknya menerangkan contoh skenario implementasi dari materi
training, dan jika perlu menambahkan tips and trick untuk mengurangi kelemahan
materi training tersebut. Juga ada bagusnya trainer memberikan semacam pra dan
pasca test untuk mengetahui level pengetahuan dari partisipan. Selain itu juga
penting di awal training untuk menanyakan profile dari partisipan beserta
harapan dan issue-issue yang sering dihadapi yang mempunyai relevansi dengan
materi training tersebut.
Kemudian bisa jadi Trainer dan partisipan punya andil dalam kasus ini
yaitu
Kenapa Tak Tanya? Mestinya saling bertanya, saling memberikan feedback, saling
merespon, berkomunikasi untuk mengetahui sejauh mana kegiatan training tersebut
efektif. Kuesioner yang diisi secara jujur dirasakan cukup membantu dalam
menganalisa hasil training, bahkan jika diperlukan dapat dilakukan setiap hari.
Selain itu juga penting memberikan sekilas review di awal training dimulai atau
di penghujung hari sebelum training ditutup.
Selanjutnya untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kasus ini, sebaiknya
pihak lain yang terlibat dalam proses negosiasi pelaksanaan training, terutama
sales dan pihak HRD, seharusnya membahas secara detail beberapa aspek, terutama
mencakup: silabus, metode pengajaran, profil partisipan yang sesuai, dan
sebagainya. Mungkin sebelum menyebarkan info seputar training, ada baiknya
melakukan update knowledge terkait training tersebut, sehingga tidak terjadi
kesalahpahaman dan sejenisnya. Bisa juga dari pihak training provider
mempresentasikan dulu apa yang ditawarkan sehingga dari pihak partisipan
mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai materi training tersebut.
Bagaimana? Silahkan menanggapi apa yang penulis telah utarakan di atas.
Silahkan, demi menambah wawasan kita semua.
Salam,
Nugon (Nugroho Laison)
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.
[Non-text portions of this message have been removed]