anti <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: "anti" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "Epot" <[EMAIL PROTECTED]>,
"Eddy" <[EMAIL PROTECTED]>,
"'Oky Adrian'" <[EMAIL PROTECTED]>,
"'rendy'" <[EMAIL PROTECTED]>,
"'joan hutagalung'" <[EMAIL PROTECTED]>,
"'ReGiNa rAmSeS'" <[EMAIL PROTECTED]>,
"'rene leonheart'" <[EMAIL PROTECTED]>,
"'Fahriz Maulana'" <[EMAIL PROTECTED]>,
"'firly'" <[EMAIL PROTECTED]>,
"'Dini'" <[EMAIL PROTECTED]>,
<[EMAIL PROTECTED]>,
<[EMAIL PROTECTED]>
Subject: FW: Manusia Super di Jembatan Setiabudi
Date: Tue, 19 Feb 2008 08:53:59 +0700
v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);}
st1\:*{behavior:url(#default#ieooui) }
---------------------------------
From: nuniek [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, February 19, 2008 8:33 AM
To: 'Ria'; 'putri'; [EMAIL PROTECTED]; 'Faniy ML'; 'desi'; 'yani'; [EMAIL
PROTECTED]; 'shinta'; 'tine'; 'Ariswari'; 'yuni'; 'marina'; 'pinky'; [EMAIL
PROTECTED]
Subject: FW: Manusia Super di Jembatan Setiabudi
Regards,
Nuniek R.S
Menara Bank Mega Lt. 22
Jl. Kapt. Tendean kav 12-14 A
Jakarta Selatan
Telp : 021 - 7917 55 77 Ex 22055
email : [EMAIL PROTECTED]
---------------------------------
From: ASWIN [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Monday, February 18, 2008 4:45 PM
To: 'giri'; [EMAIL PROTECTED]; 'sari'; [EMAIL PROTECTED]; 'Dyah'; 'Yuyun';
'windi'; 'nuniek'; 'Nana Rangga Permana'
Cc: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Manusia Super di Jembatan Setiabudi
Super di Jembatan Setiabudi
Tanpa disadari terkadang sikap apatis menyertai saat langkah kaki mengarungi
tuk coba taklukkan ibukota negri ini.
Semoga kita selalu diingatkan.
Sekedar berbagi cerita di forum orang orang super dalam keindahan hari ini :
Siang ini February 6, 2008, tanpa sengaja, saya bertemu dua manusia super.
Mereka mahluk-mahluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat. Tepatnya diatas
jembatan penyeberangan setia budi, dua sosok kecil berumur kira kira delapan
tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam. Saat menyeberang
untuk makan siang mereka menawari saya tissue diujung jembatan,
dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan
lebar lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka
dengan ucapan "Terima kasih Oom !".
Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan cuma mulai membuka
sedikit senyum seraya mengangguk kearah mereka.
Kaki-kaki kecil mereka menjelajah lajur lain diatas jembatan,
menyapa seorang laki-laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil
yang penuh keceriaan, laki-laki itupun menolak dengan gaya yang sama
dengan saya, lagi lagi sayup-sayup saya mendengar ucapan terima kasih
dari mulut kecil mereka. Kantong hitam tampat stok tissue dagangan
mereka tetap teronggok disudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta .
Saya melewatinya dengan lirikan kearah dalam kantong itu, duapertiga
terisi tissue putih berbalut plastic transparan .
Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan
mendapati mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita,
senyum diwajah mereka terlihat berkembang seolah memecah
mendung yang sedang manggayut langit Jakarta .
"Terima kasih ya mbak..semuanya dua ribu lima ratus rupiah!"
tukas mereka, tak lama si wanita merogoh tasnya dan
mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah .
"Maaf, nggak ada kembaliannya..ada uang pas nggak mbak ?"
mereka menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng,
lalu dengan sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya
yang tengah mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.
"Oom boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan?" suaranya
mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka. sedikit
terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa
kembalian food court sebesar empat ribu rupiah .
"Nggak punya, tukas saya !" lalu tak lama si wanita berkata
"ambil saja kembaliannya, dik !" sambil berbalik badan dan
meneruskan langkahnya kearah ujung sebelah timur.
Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan
menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya
kegenggaman saya yang masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita
tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Si wanita kaget,
setengah berteriak ia bilang "sudah buat kamu saja, nggak apa..apa
ambil saja !", namun mereka berkeras mengembalikan uang tersebut.
"maaf mbak, Cuma ada empat ribu, nanti kalau lewat sini lagi saya kembalikan !"
Akhirnya uang itu diterima si wanita karena si kecil pergi meninggalkannya.
Tinggallah episode saya dan mereka, uang sepuluh ribu digenggaman saya
tentu bukan sepenuhnya milik saya. mereka menghampiri saya dan berujar
"Om , bisa tunggu ya, saya kebawah dulu untuk tukar uang ketukang ojek !".
" eeh..nggak usah ..nggak usah ..biar aja ..nih !"
saya kasih uang itu ke sikecil, ia menerimanya tapi terus berlari kebawah
jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek.
Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang
satunya, "Nanti dulu Om, biar ditukar dulu..sebentar "
"Nggak apa apa, itu buat kalian " Lanjut saya
" jangan ..jangan Om, itu uang om sama mbak yang tadi juga"
anak itu bersikeras
"Sudah ..saya Ikhlas, mbak tadi juga pasti ikhlas!
saya berusaha membargain, namun ia menghalangi saya sejenak dan
berlari keujung jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera
cepat, secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan
berlari kearah saya.
"Ini deh om, kalau kelamaan, maaf .." ia memberi
saya delapan pack tissue
"Buat apa ?" saya terbengong
"Habis teman saya lama sih Om, maaf , tukar pakai tissue aja dulu "
walau dikembalikan ia tetap menolak .
Saya tatap wajahnya, perasaan bersalah muncul pada rona mukanya.
Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastic hitam tissuenya .
Beberapa saat saya mematung di sana, sampai sikecil telah kembali
dengan genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil tissue dari
tangan saya serta memberikan uang empat ribu rupiah.
"Terima kasih Om , !"..mereka kembali keujung jembatan sambil sayup
sayup terdengar percakapan " Duit mbak tadi gimana..? " suara kecil
yang lain menyahut "lu hafal kan orangnya, kali aja ketemu lagi ntar
kita kasihin ..." percakapan itu sayup sayup menghilang, saya
terhenyak dan kembali kekantor dengan seribu perasaan.
Tuhan.. Hari ini saya belajar dari dua manusia super, kekuatan
kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh,
mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra,
mereka tahu hak mereka dan hak orang lain, mereka berusaha tak meminta-minta
dengan berdagang Tissue. Dua anak kecil yang bahkan belum baligh ,
memiliki kemuliaan diumur mereka yang begitu belia.
YOU ARE ONLY AS HONORABLE AS WHAT YOU DO
Engkau hanya semulia yang kau kerjakan.
MT
Saya membandingkan keserakahan kita, yang tak pernah ingin sedikitpun
berkurang rizki kita meski dalam rizki itu sebetulnya ada milik orang lain .
"Usia memang tidak menjamin kita menjadi Bijaksana, kitalah yang
memilih untuk menjadi bijaksana atau tidak"
Semoga pengalaman nyata ini mampu menggugah saya dan teman lainnya
untuk lebih SUPER.
Aryadi N SM 0304
QHSE Manager I BHM Corp I 0817 149369 I Oil and
Gas
The light in the eyes has dimmed,
The smile at the corner of the mouth has been extinguished.
But the day isn't dark, People go by in the streets, laughing merrily.
Lets make Jakarta better
email :[EMAIL PROTECTED]
Regards,
OKY ADRIAN
Link Me: MyFriendster | MyPhotoShotz | MyTravelTime | MyBlog | My Zazzle| My
Facebook
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
[Non-text portions of this message have been removed]