Terima kasih Ibu.....    Cerita bermula ketika aku masih kecil, 
aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki dari sebuah keluarga yang amat 
sederhana. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu 
sering memberikan bagian nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, 
ibu berkata, “Makanlah nak, aku tidak lapar.” Dan setelah aku dewasa aku baru 
tersadar bahwa saat itu ibu telah berbohong.

Ketika saya mulai menginjak remaja, ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya 
selalu gigih dalam membantu ayah mencari nafkah. Berusaha apa saja ia lakoni 
demi mendapatkan sejumlah uang. Namun pernah satu kali ia tak mendapatkan 
bayaran atas usahanya, ia hanya mendapatkan upah dengan beberapa ekor ikan 
segar yang dimasaknya menjadi sebuah hidangan yang menggugah selera.

Sewaktu memakan makanan itu, ibu duduk di samping kami dan memakan sisa daging 
ikan yang masih menempel di tulang bekas sisa makanan kami. Melihat itu tentu 
saja aku tak tega dan menyodorkan ikan bagianku kepadanya. Tetapi ibu dengan 
cepat menolaknya. “Makanlah nak, ibu tidak begitu suka dengan daging ikan,” 
tuturnya. Dan aku kembali menyadari bahwa ibu telah kembali berbohong.

Saat aku duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, demi membiayai uang sekolah 
itu, ibu rela mengerjakan sulaman barang-barang kerajinan yang didapatnya dari 
tetangga sebelah rumah. Sedikit demi sedikit ia selesaikan pekerjaannya itu. 
Saat itu aku trenyuh menyaksikan kegigihan ibu, karena hingga jam menunjukan 
pukul satu malam ibu belum juga berhenti. Saat aku memintanya untuk istirahat 
dan tidur, ia malah menyuruhku untuk tidur terlebih dahulu, sementara ia 
beralasan belum mengantuk.

Hari-hari terus berjalan, hingga pada waktu yang telah digariskan, ayah 
meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Setelah kepergian ayah, ibu yang malang 
harus merangkap menjadi ayah, membiayai keperluan hidup kami sendiri dan tiada 
hari tanpa penderitaan. Hingga banyak keluarga ibu yang mensehati ibu untuk 
kembali menikah, tetapi ibu menolaknya dengan mengatakan bahwa ia tak butuh 
cinta, dan aku tahu saat itu ibu berbohong.

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, 
ibu yang mulai renta sudah waktunya beristirahat. Tetapi ibu tidak mau, ia rela 
pergi ke pasar setiap pagi menjual sedikit sayur untuk memenuhi keperluan 
hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan 
sedikit uang untuk membantu memenuhi keperluan ibu, tetapi ibu berkeras tidak 
mau menerima uang tersebut. “Gunakan saja uang itu untuk keperluan kalian, saat 
ini ibu tak membutuhkan uang kalian.” Entah sudah berapa kali ibu berbohong.

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena sebuah penyakit, kini ia harus 
dirawat di rumah sakit. Aku yang berada jauh di seberang lautan harus segera 
pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di 
ranjangnya setelah menjalani pembedahan di bagian perutnya.

Ibu yang kelihatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun 
senyum yang terpancar di wajahnya terkesan agak kaku, karena sakit yang 
ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menggerogoti tubuh ibuku, 
sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku menatap ibuku sambil 
berlinang air mata. Hatiku pedih, sakit sekali melihat ibuku dalam keadaan 
seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata, “Jangan menangis anakku, aku 
tidak kesakitan.” Dan itu kebohongan ibu yang kesekian kalinya.

Setelah mengucapkan kebohongannya-kebohongannya, ibuku tercinta menutup mata 
untuk yang terakhir kalinya. Demikianlah, ibu yang telah melahirkan kita, 
merawat kita sejak dilahirkan, akan selalu terpaksa untuk berbohong demi 
membahagiakan kita. Dan sudahkan kita mengingat mereka, mengingat para ibu kita 
yang kebetulan saat ini masih hidup dan butuh pertolongan kita. Sudah berapa 
lamakah kita tak mengunjungi mereka, tak berbincang-bincang dengan mereka cuma 
karena aktivitas kita yang padat.

Kita harus akui bahwa kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. 
Jika dibandingkan dengan pasangan kita, kita pasti lebih peduli dengan pasangan 
kita. Buktinya, kita selalu risau akan kabar pasangan kita, risau apakah dia 
sudah makan atau belum, risau apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, 
apakah kita semua pernah merisaukan kabar dari orangtua kita?

Risau, apakah orangtua kita sudah makan atau belum? Risau, apakah orangtua kita 
sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan lagi. 
Saat kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi orangtua, lakukanlah 
yang terbaik. Jangan sampai ada kata “menyesal” di kemudian hari. (rn)





  
---------------------------------
  Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.

       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke