Sumber : http://www.kompas.com/suratpembaca/read/2019

Citibank
Penanganan Transaksi Tidak Wajar, Citibank VS BCA
Selasa, 26 Agustus 2008 | 00:27 WIB

Saya merupakan pelanggan kartu kredit Visa terbitan Citibank mulai tahun 
2004, dan juga pelanggan kartu kredit Mastercard terbitan BCA mulai tahun 
2006. Limit kartu Citibank saya 12 juta rupiah, sementara BCA 10 juta 
rupiah.

Baru-baru ini saya mengalami kejadian yang sangat tidak menyenangkan dengan 
Citibank. Begini kronologisnya:

26 Juli 2008: Saya belanja account online di www.footstar.org menggunakan 
merchant dari Globalcollect dengan transaksi senilai 14,95 Euro atau dikurs 
Indonesia senilai Rp 212,655.65 (212 ribu 655 rupiah 65 sen). Awalnya saya 
menggunakan kartu BCA tapi ditolak oleh sistem. Kemudian saya mencoba 
melakukan transaksi dengan kartu Citibank dan kali ini berhasil.

28 Juli 2008: Pagi-pagi saya dapat telepon dari Bpk. Budi dari BCA. Saya 
diinformasikan ada transaksi tidak wajar senilai 21 juta rupiah, dan apakah 
benar saya melakukan transaksi sebesar itu? Saya menyatakan tidak ada 
melakukan transaksi senilai 21 juta, dan kemudian dari pihak BCA langsung 
cancel transaksi tersebut, dan Bpk. Budi meminta saya untuk menggunting 
kartu lama, dan BCA akan mengirimkan kartu baru, bebas biaya. Masalah pun 
selesai. Setelah menutup telepon dari BCA saya langsung menghubungi pihak 
Citibank karena takut ada kejadian yang sama, dan dengan Citi Phone Officer 
saya klarifikasikan beberapa poin sebagai berikut:

  1.. Apakah ada Transaksi tidak wajar senilai 21 juta rupiah juga? 
Jawabannya tidak ada. Transaksi terakhir hanya senilai 212,655 rupiah.
  2.. Saya tanyakan apakah pihak Citibank mempunyai divisi untuk klarifikasi 
transaksi tidak wajar kepada nasabah terlebih dahulu seperti yang dilakukan 
oleh BCA? Jawabannya ada. Saya pun merasa lega.
4 Agustus 2008: Menjelang jam 7 malam saya belanja di Taman Anggrek dan 
membayar dengan kartu Citibank, tapi ditolak oleh sistem. Setelah itu saya 
telepon pihak Citibank, dan berbicara dengan Ibu Grace. Saya tanyakan kenapa 
kartu saya ditolak, saya diinformasikan kalau kartu saya sudah diblok karena 
over limit hingga 22 juta rupiah. Kaget sekali karena saya merasa tidak 
pernah melakukan transaksi besar pada bulan berjalan.

Saya minta dibacakan transaksi terakhir saya dan ternyata muncul transaksi 
tertanggal 26 Juli senilai 21,265,565 (21 juta rupiah 265 ribu 565 rupiah). 
Saya kaget sekali, kemudian saya minta Ibu Grace memeriksa telepon saya 
tanggal 28 Juli karena saya sudah antisipasi takut kejadian sama di BCA 
terulang di Citibank, yang ternyata kejadian.

Saya minta kepada Ibu Grace untuk membatalkan transaksi tersebut karena saya 
tidak melakukannya, tapi dijawab transaksi tersebut sudah dibayarkan oleh 
Citibank, jadi tidak bisa dibatalkan. Saya tanya kenapa tidak ada 
klarifikasi terlebih dahulu, jawabannya Citibank tidak harus klarifikasi 
kepada customer. Ibu Grace malah menyalahkan saya kemungkinan besar saya 
yang salah input nominal, dan saya juga diminta untuk langsung menghubungi 
pihak Merchant.

Menyadari mungkin karena jam transisi antar shift, dan Ibu Grace yang sudah 
lelah dan saya yang sedang panik, saya memutuskan untuk telepon kembali 
pukul 11 malam. Kali ini saya berbicara dengan Pak Awan. Saya minta itikad 
baik dengan Pak Awan untuk sama-sama selesaikan masalahnya, dan saya diminta 
untuk nantinya mengisi formulir komplain.

5 Agustus 2008: Saya datang ke kantor Citibank dan kali ini dibantu oleh Ibu 
Luisa. Saya diminta mengisi dan menandatangani sebuah dokumen. Saya juga 
menyertakan invoice dari merchant yang seharusnya Rp 212,655.65 bukan Rp 
21,265,565. Dari Ibu Luisa juga saya dapat informasi seharusnya hal seperti 
ini tidak terjadi karena batas over limit biasanya berada di ambang 10%. 
Diatas itu harusnya kartu sudah di blok dan nasabah diinformasikan.

Pada kasus saya over limit terjadi hampir 100% hanya dalam 1 transaksi dan 
herannya dibayarkan oleh Citibank. Saya minta penggantian kartu karena takut 
nomor lama kejadian hal yang sama, dan saya dikenakan biaya 50 ribu rupiah. 
Beberapa hari kemudian saya ditelepon Ibu Luisa dan diinformasikan sudah 
dibantu-proseskan.

14 Agustus 2008: Saya berangkat ke luar kota, ke pulau Belitung. Selama 3 
hari disana saya ditelepon 2 kali oleh pihak Citibank bagian Penagihan. Saya 
pikir ini hanya kesalahan antar divisi jadi saya sabar-sabar saja. Sepulang 
ke Jakarta saya telepon Ibu Luisa dan Ibu Luisa minta maaf, dan membenarkan 
ini hanya masalah kesalahan informasi antar divisi, dan masalah saya sudah 
selesai, selisih nominal sudah dikreditkan kembali. Saya pun lega.

25 Agustus 2008: Selang tanggal 14 Agustus hingga 25 Agustus saya menerima 3 
surat dari Citibank. Dua surat pertama saya abaikan karena isinya meminta 
dokumen kepada saya, yang mana sudah saya serahkan langsung kepada Ibu Luisa 
di tempat. Tapi surat ketiga yang tiba siang ini, nadanya sudah tidak 
mengenakkan. Tanggal surat adalah 22 Agustus, tiba di saya tanggal 25 
Agustus. Dalam surat tersebut saya diberi waktu 5 hari untuk membereskan 
dokumen, jika tidak saya akan dikenakan tagihan 21 juta tersebut beserta 
bunga.

Saya pun lekas menelepon Citibank kali ini saya berbicara dengan Pak 
Leonardo. Saya minta disambungkan dengan Ibu Luisa, tapi beliau sedang 
online. Oleh Pak Leonardo saya diberikan informasi kalau masalah saya sudah 
selesai, tapi selang beberapa waktu Pak Leonardo juga menjadi tidak yakin.

Saya minta disambungkan kepada Ibu Luisa, dan oleh Ibu Luisa juga saya 
diberi informasi itu adalah kesalahan dari sistem. Tapi tidak lama kemudian 
Ibu Luisa sendiri menjadi tidak yakin, dan menelepon saya bahwa masih ada 1 
dokumen yang harus saya tanda-tangani. Saya pun minta dikirimkan via faks. 
Dan sangat kaget ketika menerima faks, ternyata dokumen yang harus saya isi 
tersebut sama persis dengan dokumen yang saya isi di kantor Citibank 
tertanggal 5 Agustus 2008.

Lantas dalam 20 hari ini, kasus saya kembali ke kondisi awal. Malamnya saya 
telepon Citibank kembali, hanya saja Ibu Luisa sudah pulang kantor. Saya 
dibantu oleh Pak Evans, tapi sambungan telepon terputus setelah 20 menit. 
Setelah itu saya dibantu oleh Pak Gilang, dan kali ini saya dapat informasi 
kalau kasus saya baru akan diinvestigasikan. Kekecewaaan saya sangat besar 
terhadap Citibank.

Kalau dibandingkan dengan BCA yang notabene Bank lokal, penanganan terhadap 
masalah yang sama ini terasa sangat berbeda. Head to head.

BCA:

  1.. Selesai dalam 1 hari
  2.. Saya tidak perlu repot menandatangani apapun, dan saya tidak perlu 
dalam kondisi berhutang
  3.. Tidak ada biaya pengantian kartu.
  4.. Semua masalah dengan merchant ditangani oleh BCA.
CITIBANK:

  1.. Sudah 1 bulan dari tanggal transaksi dan saya kembali ke kondisi awal 
dimana baru masuk ke tahap investigasi, dan saya masih dalam kondisi was-was 
karena masalahnya belum jelas apakah saya harus membayar nominal tersebut 
atau tidak.
  2.. Saya tidak dinotifikasi apapun sesuai janji. Apa gunanya over limit 
jika tagihan 100% lebih dalam 1 transaksi juga dibayarkan begitu saja tanpa 
konfirmasi terlebih dahulu? Dan kenapa ada perbedaan informasi antara Citi 
Phone Officer satu dengan yang lainnya?
  3.. Kartu saya di blok begitu saja tanpa saya mengetahui. Andai saya tidak 
belanja di Taman Anggrek tanggal 4 Agustus, maka informasi kalau kartu saya 
over limit dan di blok tidak akan saya ketahui
  4.. Penanganan tahap awal saya diminta untuk menghubungi langsung 
merchant. Terkesan Bank lepas tangan.
  5.. Ada biaya Rp 50,000 penggantian kartu yang mana pada hari ini setelah 
saya telepon bolak-balik minta perlakuan lebih baik dari Citibank mereka 
batalkan.
  6.. Koordinasi antar divisi buruk. Dua kali ditagih hutang saat masalah 
dikatakan sudah selesai. Tiga kali dikirimkan surat, dan harus mengisi 
dokumen sama persis dalam selang waktu 20 hari. Berputar-putar di titik yang 
sama.
Lewat surat ini, saya mohon Citibank tidak lagi menyulitkan pelanggan 
seperti saya dan belajar dari apa yang dilakukan oleh BCA.

William Tanuwijaya
Taman Kosmos O/8
Jakarta Barat

Sumber : http://www.kompas.com/suratpembaca/read/2019

Kirim email ke