http://www.warnaislam.com/ragam/amerika/2009/1/4/41100/Organic_Computing_Menyingkap_Rahasia_Makhluk_Hidup.htm

Organic Computing: Menyingkap Rahasia Makhluk Hidup  Ahad, 04 Januari 2009 
11:25   Apakah
Anda saat ini menggunakan Windows? Jika ya, maka setidaknya 30 juta
baris perintah sedang ngendon untuk Windows 2000, atau 40 juta dalam
XP, hingga 50 juta penyangga Vista. Dengan XP Service Pack 1, maka ketahuilah 
ada 400 buah patch
di dalamnya. Catat juga SP2 yang total tambalannya tiga kali lipatnya.
Linux? Selamat, Anda dapat diskon dan hanya menelan 10 jutaan baris
perintah. 

Mungkin tidak Anda sadari, bahwa 'gundukan' perintah tersebut
berpotensi menjadi sumber dari berbagai ketidak-nyamanan yang kadang
cenderung terlupakan. Langkah restart atau Ctrl+Alt+Del
menjadi suatu kebiasaan yang seolah sudah dapat diterima sepenuhnya
sebagai bagian dari solusi. Namun tahukah Anda potensi besar semacam
itu dapat berakibat sangat fatal dan menyengsarakan dalam tujuan
penggunaan yang berbeda?



Dalam sebuah buku terbitan 1993 berjudul “Digital Woes: Why We Should Not 
Depend on Software”,
Lauren Ruth Wiener menyebutkan bahaya yang muncul dari program-program
berukuran raksasa. Contoh yang diangkat adalah sebuah peristiwa di
tahun 1962, tepatnya pada tanggal 22 Juli. Roket pembawa Mariner I yang
sedang diterbangkan ke Venus terpaksa diledakkan di angkasa karena
kesalahan sepele yakni alpanya sebuah tanda “bar” (rata-rata) dalam
sebuah baris perintah. Komputer di sentral terus-menerus menyatakan
roket tidak dapat dikendalikan meski sejatinya segalanya baik-baik saja.



Juga dipaparkan di tahun 1991 sebuah perusahaan bernama DSC Communication 
Software
menguji sebuah perangkat lunak telekomunikasi yang akan digunakan untuk
jaringan telepon kabel untuk beberapa kota besar Amerika. Dalam
pengujian selama 13 minggu, didapatkan bahwa program bekerja dengan
baik dan siap digunakan. Kemudian mereka “menyempurnakan” program itu
dengan memperbaiki 3 baris perintah di antara jutaan baris yang ada dan
memutuskan untuk langsung memasangnya tanpa menguji lagi karena akan
membutuhkan waktu tambahan selama 13 minggu lamanya. Hasilnya, sistem crash dan 
memunculkan gangguan sambungan telepon serta kerugian yang amat besar.



Inikah masa depan dunia software? Program yang berisi puluhan juta
baris dan dikerjakan oleh ribuan orang, sehingga bisa dipastikan
menyimpan gunungan bug
di dalamnya? Kekhawatiran yang tinggi pun menyeruak. Berbagai
penelitian untuk mendapatkan alternatif solusi dicari. Akhirnya para
pakar menemukan jawaban yang sejatinya sederhana dan mudah diduga:
meniru makhluk hidup.
Setiap makhluk hidup adalah sesuatu yang
berdiri sendiri satu sama lain. Seorang manusia akan tumbuh dengan
sendirinya setelah keluar dari rahim sang ibu, hingga kemudian ia
mempelajari hal-hal kecil di dunia ini untuk kemudian mendapatkan yang
lebih besar. Maka kesimpulan yang didapatkan adalah kita tidak harus
menentukan seluruh kemampuan sebuah sistem melainkan 'membekalinya'
dengan kemampuan untuk belajar secara otonomi. Pada saatnya, sistem itu
sendirilah yang akan menentukan kapan ia menggunakan kemampuan yang
ditanamkan kepadanya.



Di negara Republik Federal Jerman, riset ini diwakili dengan topik Organic 
Computing dan saat ini merupakan salah satu tema prioritas dalam kebijakan 
pengembangan serta riset. Deutsch Forschungsgemeinschaft
disingkat DFG atau “German Research Foundation” mengalokasikan tidak
kurang dari 2 juta Euro setiap tahunnya untuk membiayai puluhan proyek
penelitian di berbagai universitas yang diketuai oleh Institute of Applied 
Informatics and Formal Description Methods di Universität Karlsruhe.



“Organic Computing” atau OC secara sederhana dapat dijelaskan sebagai
“perupaan sistem yang ada pada makhluk hidup pada perangkat komputer”.
Contoh umum dalam dunia teknologi adalah Fuzzy Logic (Logika Tak Tentu), yang 
merupakan perluasan dari Binary Logic atau Logika Biner. Jika biner hanya 
memiliki dua nilai dasar yakni NOL dan SATU, Fuzzy Logic mengijinkan kita untuk 
menggunakan bilangan desimal di antaranya.



Korelasinya dengan makhluk hidup? Semisal saat kita berusaha menentukan
apakah seorang laki-laki berusia 21 tahun memiliki tinggi badan 160 cm
dapat dikatakan ‘tinggi’ atau ‘pendek’ (0 atau 1), maka dengan Fuzzy Logic kita 
memiliki pilihan untuk mengatakan ‘agak tinggi’, ‘agak pendek’, ‘rata-rata’ dan 
sebagainya.



Juga Artificial Neural Network
atau Jaringan Syaraf Tiruan (JST). Algoritma yang telah umum dikenal
oleh mahasiswa teknik ini meniru cara kerja sel-sel syaraf otak (neuron) dan 
menyimbolkannya dengan beberapa layer (lapisan). Sebagaimana otak, kita harus 
terlebih dulu memberikan training.
Semisal kita ingin program dapat mengenali huruf A dalam berbagai
bentuk font, maka kita harus melatihnya hingga algoritma tersebut
memahami maksud kita.



Ada lagi istilah algoritma koloni semut atau Ant Colony Optimization,
yang diilhami oleh perilaku sekelompok kawanan semut. Ditemukan di awal
tahun 90-an oleh seorang berkebangsaan Italia bernama Marco Dorigo,
algoritma ini menjadi salah satu tonggak riset OC. Berbagai publikasi
ilmiah Prof. Dorigo kini telah dikutip sebagai referensi dalam puluhan
ribu karya ilmiah (termasuk Tugas Akhir di S1 dan thesis MSc saya ).
Temuannya dapat menjawab secara meyakinkan berbagai problematika dalam
permasalahan optimasi dan efisiensi, dan itu berawal dari pengamatannya
terhadap makhluk hidup kecil ciptaan Allah bernama semut.



Anda mungkin bertanya, memangnya ada apa dengan semut?



Semut adalah makhluk kecil yang sering kita lihat, kadang terkesan
mengganggu dan ingin kita usir atau bahkan dimusnahkan. Namun tanpa
dinyana, semut memiliki sebuah keistimewaan dalam hal menemukan jalur
menuju makanan. Dorigo mengamati kawanan semut yang berangkat dari
sarang untuk mengambil makanan di suatu lokasi yang tidak jauh.
Semut-semut itu, seperti biasa yang kita lihat, mengambil suatu jalur
tertentu yang dipergunakan beramai-ramai. Saat ditaruh obstacle
atau rintangan yang menutup jalur itu, kawanan semut ternyata mampu
dengan segera mendapatkan jalan terdekat untuk menyambungnya kembali.



Hanya itu saja? Ternyata tidak.



Saat
rintangan itu diletakkan sedemikian hingga salah satu alternatif jalan
berjarak lebih dekat dibanding yang lain, kawanan semut tersebut tidak
membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan jarak terdekat (optimal) dalam
waktu singkat (efisien). Ini didapatkan setelah percobaan terhadap
kedua alternatif. Bagaimana bisa? Dalam melakukan setiap perjalanannya,
setiap semut meninggalkan jejak yang dikenal dengan istilah pheromone.
Zat ini dapat dilacak oleh semut-semut lain yang lewat berikutnya.
Otomatis dalam rentang waktu yang sama, jarak yang lebih singkat
dilalui lebih banyak semut sehingga baunya lebih kuat. Bau ini kemudian
menjadi petunjuk bagi semut yang sedang berhadapan dengan pilihan jalan
untuk memutuskan jalan mana yang dilalui hingga akhirnya seluruh semut
mampu memilih dengan tepat jarak yang terdekat. Subhanallah!



Oleh Dorigo, cara kerja kawanan semut itu kemudian diadaptasi dalam sebuah 
algoritma bernama Ant Colony Optimization
(ACO) yang hingga kini telah memiliki puluhan varian untuk berbagai
permasalahan. Semisal yang pernah penulis lakukan dengan metode ini
adalah scheduling atau penentuan urutan lokasi yang dikunjungi
dalam area kota Surabaya.Contoh sederhana, jika saat ini kita berada di
titik A dan hendak mengunjungi 3 titik lain yakni B, C, dan D, untuk
kemudian kembali ke A. Yang diminta adalah jarak tedekat (optimal)
untuk melakukan perjalanan tersebut. Bisa jadi jawabannya adalah
A–B–C–D–A atau A–D–C–B–A atau 4 kemungkinan lain. Memang solusi untuk 4
titik relatif mudah, namun akan jauh lebih rumit jika terdapat lebih
banyak titik.



Hasil yang didapatkan menggunakan ACO, dari sejumlah 23 percobaan
dengan jumlah titik bervariasi antara 12 dan 20 ditemukan penghematan
jarak tempuh total sebesar 14,78% atau 729 km dibandingkan metode
konvensional. Penghematan yang luar biasa, apalagi jika dikaitkan harga
BBM yang membubung tinggi. Untuk contoh kasus yang berbeda di kota Darmstadt, 
Jerman tempat saya menempuh kuliah master, hasilnya juga memuaskan.



Subhanallah,
solusi itu ternyata telah Allah sediakan dalam makhluk kecil-Nya yang
bernama semut. Ciptaan yang kadang kita remehkan dan yang kita ingat
hanyalah gigitan serta gangguannya. Tidak hanya ACO, dalam dunia engineering 
juga dikenal metode Genetic Algorithm (GA) yang didasarkan pada pembelahan dan 
penyilangan gen manusia, Behavior Based sebagai bentuk tiruan kecerdasan 
makhluk hidup dalam mengenali lingkungannya, dan masih banyak lagi.



Kita bayangkan di masa depan setiap mobil dan kendaraan lain yang
berlalu lalang di jalan raya memiliki kemampuan 'belajar nyupir' hingga
menempatkan diri di tempat parkir setelah terlebih dulu menemukan ruang
kosong. Robot pembersih mampu melihat jenis lantai dan kotoran yang ada
dan kemudian menentukan apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikan
tugasnya. Sistem pengamanan rumah pun bisa menentukan apakah yang
sedang berteriak di depan pintu adalah si pemilik yang sedang
kehilangan kunci rumah ataukah tukang sayur yang kebetulan mampir.
Sungguh sangat layak kita senantiasa
bertasbih, Maha Suci Allah yang telah menciptakan semua makhluknya
dengan kesempurnaan. Sebagai muslim, insya Allah kita semua meyakini
bahwa ada berbagai rahasia Allah lainnya yang masih ‘berserakan’ dan
menunggu untuk ditemukan oleh manusia dalam rangka memberikan kebaikan
kepada seluruh alam. Upaya itu akan semakin menemukan hasil, insya
Allah bersamaan dengan tumbuhnya kesadaran umat ini dalam mendekat dan
berjuang menuju kejayaan Islam.





QS. 10:3. Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang
menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di
atas 'Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan
memberi syafa'at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian
itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak
mengambil pelajaran?



QS. 16:13. dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan
untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah)
bagi kaum yang mengambil pelajaran.





Allahu a'lam.


Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!!



http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/

http://nugon19.multiply.com/journal


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

"We cannot all do great things.But we can do small things 
with great love." - Mother Teresa
---------------------------------------------------------

BinusNet founded on Dec 28, 1998 Owner : Johan Setiawan
Moderator BinusNet : Suryadi Liawatimena & Surya Iskandar

Stop or Unsubscribe: send blank email to [email protected]
Questions or Suggestions, send e-mail to [email protected]

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/binusnet/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/binusnet/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke