Interesting speech.
Mungkin sudah saatnya rakyat Indonesia belajar untuk tidak mau diinjak-injak.

Ironisnya, pada hari yang sama, 17 ribu orang ngantri mau beli iPhone di Indo.
Way to prioritize.


KOkon.

--
Pidato Terlarang: Pemerintah Hanya Ngomong Membela Petani
Senin, 02 Februari 2009, 11:58:43 WIB

Laporan: Teguh Santosa

Berikut ini adalah sambungan dari "Pidato Terlarang" yang disampaikan
DR Rizal Ramli dalam pertemuan dengan aktivis pergerakan nasional di
Jakarta, 24 April 2008.

Polisi menetapkan Rizal Ramli sebagai tersangka dalam kasus kerusuhan
yang terjadi tanggal 24 Juni 2008. Pidato yang disampaikannya itu
dianggap sebagai pidato yang menghasut.

Selamat membaca!

Saudara-saudara, pemerintah saat ini terlalu percaya pada mekanisme
pasar ugal-ugalan. Hasilnya, selama pemerintahan Yudhoyono, anggaran
program anti-kemiskinan naik 2,8 kali.

Tetapi jumlah orang miskin bukannya berkurang, tapi justru bertambah.
Kenapa? Karena program anti-kemiskinan itu tidak efektif. Lebih banyak
sebagai alat untuk menyenangkan rakyat sesaat, sehingga rakyat senang
samanya beliau.

Yang kedua, yang lebih berbahaya lagi, adanya proses pemiskinan secara
struktural. Yaitu kemiskinan yang diakibatkan oleh kebijakan. Ini
lebih berbahaya dari yang pertama.

Saya berikan contoh. Dulu banyak industri rotan di kawasan pantai
utara Jawa, mulai dari Cirebon, Semarang, Surabaya sampai Sidoarjo.
Ratusan ribu rakyat kita bekerja di industri rotan ini. Tetapi
pemerintah kemudian mengijinkan ekspor rotan mentah. Sehingga para
pengusaha rotan (UKM) itu kesulitan memperoleh bahan baku. Akibatnya,
ratusan ribu pekerja industri rotan menganggur. Sebaliknya, Cina yang
mengimpor rotan mentah dari Indonesia, tiba-tiba muncul menjadi
industri rotan terkemuka di dunia.

Contoh kedua. Pemerintah ngomong membela petani, rekapitalitas petani,
tapi pemerintah juga mengijinkan lebih banyak ekspor pupuk ke luar
negeri. Akibatnya harga pupuk di dalam negeri naik 40 persen di
seluruh Indonesia. Pupuk jadi langka, sehingga banyak pupuk palsu.
Semua ini bermuara pada menurunnya hasil petani kita.

Saudara-saudara, saya baru saja dari Pati, Jawa Tengah, beberapa
minggu yang lalu. Saya baru bertemu dengan pengrajin perak dan
kuningan di sana. Mereka memakai bahan baku perak bekas dan kuningan
bekas. Ternyata kuningan bekas ini juga diijinkan untuk diekspor oleh
pemerintah, sehingga para pengrajin logam itu kehabisan bahan baku
karena banyak diekspor. Maka banyak pengrajin logam yang bangkrut.

Nah, kebijakan-kebijakan pemerintah yang bikin miskin rakyat seperti
ini tentunya yang harus kita lawan.

Saudara-saudara, Indonesia ini kaya sekali. Banyak memiliki
cawan-cawan emas, banyak memiliki industri pertambangan. Kekayaan
alamnya luar biasa. Tetapi kalau pemimpinnya bermental "inlander",
tunduk kepada asing, maka rakyat kita tidak menikmati secara maksimum
cawan-cawan emas ini.

Tadi saya katakan, kita ini produsen gas nomor satu di Asia. Tetapi di
dalam negeri kesulitan gas. Kita juga eksportir batubara nomor satu di
Asia. Tapi PLN kesulitan cari batubara. Industri kesulitan cari
batubara. Kita produsen sawit nomor dua terbesar di dunia, tapi rakyat
kita kesulitan minyak goreng. Kenapa? Karena cara berpikir pemerintah
kita persis dengan cara berpikir mahasiswa kos-kosan.

Ya. Mahasiswa kos-kosan itu kalau tidak punya uang, caranya kan cuma
dua. Pertama, ngutang, ngutang, yang makin lama makin diinjak sama
rentenirnya, yaitu Bank Dunia dan bank negara kreditor. Dan yang
kedua, kalau tidak punya uang, jual atau lego barang. Mula-mula, kalau
mahasiswa, jual celana jeans. Ya, kan? (Hadirin tertawa!)

Lalu jual handphone, jual jam tangan, jual laptop. Buntutnya, bisa jual diri.

Nah, pemerintah ini pola berpikirnya tidak jauh dengan mahasiswa
kos-kosan. Nggak punya uang, ngutang. Bukannya melakukan penghematan,
melakukan pengurangan pemborosan, tetapi justru malah bisanya
mengutang. Kedua, mental jual-menjual itu. Nah, kalau semua bahan
baku, bahan mentah itu dijual, maka tidak akan ada pekerjaan untuk
kita, untuk rakyat kita. Tidak ada nilai tambah untuk bangsa kita.

Coba lihat Singapura. Negara itu sebenarnya tidak ada apa-apanya.
Tidak punya bahan bakar. Impor minyak dari Indonesia. Dikilangnya
diproses BBM dari Indonesia, lalu dijual kembali ke Indonesia. Beli
dari Indonesia, jual kembali ke Indonesia. Tapi mereka dapat nilai
tambah, dapat pekerjaan paling banyak.

Jadi, pemerintah yang tidak memiliki visi, pemerintah yang tidak
memiliki strategi, pada akhirnya hanya jual-menjual sehingga tidak ada
pekerjaan untuk jutaan bangsa kita. Tetapi kalau pemerintahnya punya
visi, bahan mentahnya sebagian diproses di dalam negeri, sehingga ada
jutaan lapangan kerja, maka jutaan rakyat Indonesia tidak menganggur.

Jadi pemerintah yang mentalnya seperti anak kos-kosan ini, yaitu
ngutang dan jual dan jual, mulai dari jual sumber daya alam, jual
BUMN, sampai jual rakyat Indonesia sebagai TKI, ya karena dari awal
dirinya sudah dijual.

Saudara-saudara, saya percaya, kita bisa melakukan perubahan. Saya
yakin kita mampu melakukan hal itu.

Nah, hari ini saya beberkan contoh sederhana. Pemerintah berencana
menaikkan harga BBM. Kok enak saja. Setiap harga BBM di pasar
internasional naik, bebannya dipindahkan kepada rakyat. Padahal
pemerintah yang seharusnya mengakui kesalahannya. Misalnya, karena
terjadi penurunan produksi 300 ribu barel per hari. Kalau produksinya
masih sama, 1,2 juta barel per hari, kita bisa menikmati kenaikan
harga BBM itu. Tapi ini, lho, kok enak saja, situ yang kagak mampu,
bebannya malah diturunkan kepada rakyat.

Saudara-saudara, Indonesia itu impor 300 ribu barel minyak mentah
setiap hari dari Timur Tengah. Seharusnya kita bisa memperbaiki tata
niaga minyak ini, agar biaya produksi BBM turun 20 persen, sehingga
apa yang dikatakan subsidi itu akan menjadi lebih rendah. Kenapa kok
nggak mau? Kan itu gampang. Banyak pertanyaan seperti itu: kenapa
nggak mau? Tidak mau karena ada seseorang, orang Indonesia yang punya
kantor di Singapura, yang disebut "Mr. Two Dollar", artinya setiap dia
impor dapat minimal US$2/barel, jadi pendapatan orang ini setiap
harinya: US$ 600 ribu atau Rp 6 milliar.

Nah, kenapa pemerintah nggak berani ganggu dia, ngusut dia? Kenapa
pemerintah ini bukannya menghapuskan sistem itu? Maunya main gampang,
kerjanya main naikan harga BBM, ya sudah pasti kecipratan. Nggak
mungkin pemerintah tidak cerdas. Masa soal gitu saja nggak ngerti.
Jadi kalau pemerintah ini umumkan kenaikan harga BBM, kita harus
lawan…! Kita harus lawan! Kecuali mereka (pemerintah) berani babat
orang ini, yang tukang setor ini. Berani babat apa tidak!.

Saudara-saudara, sama juga dengan listrik. Kini tarif listrik dinaikan
terus. Dikatakan pemerintah, subsidi listrik tinggi sekali. Tapi kalau
kita tanya berapa kerugian PLN atas kerugian ketidakefisienan
transmisi listrik, diprediksi kerugiannya hampir 14 persen. Paling
tinggi di Asia.

Jadi, yang namanya subsidi, yang katanya besar dan lain-lain itu,
sebetulnya lebih banyak akibat Pertamina dan PLN yang tidak efisien.
Akibat pemerintahnya nggak mampu mengefisiensikan Pertamina dan PLN.
Rakyat yang kena bebannya!

Saudara-saudara, apa itu "Jalan Baru"? Saya tidak mau menjelaskan
detail dan teknisnya. Nanti ada papernya. Kita akan bagikan, dan nanti
ada saatnya untuk diskusi. Nanti malam.

Jadi dalam acara hari ini ada presentasi dari kami. Kita diskusi
sedikit. Nanti siangnya ada diskusi masalah sosial dan politik.
Sehingga nanti ada rapat tertutup. Wartawan-wartawan nggak boleh hadir
supaya kita bisa merancang tindak dan rencana aksi, jangan pasif.

Saudara-saudara, saya kira saya sudah bicara panjang lebar. Saya mau
bicara sedikit lagi. Satu cerita. Saya mau bicara sedikit kejadian
pada 2004, ketika saya menjadi penasihat ekonomi tiga calon presiden:
Gus Dur, Pak Wiranto dan Pak Yudhoyono.

Saya nggak akan cerita siapa orangnya, tetapi salah satu di antaranya
menang, jadi presiden. Waktu itu kami katakan, "Mas, kalau nanti jadi
presiden, kita ikuti caranya Mahathir. Rakyat Malaysia itu kebanyakan
tinggal di pantai barat, pantai timurnya kosong. Mahathir mengatakan,
siapa yang mau pindah ke timur, satu keluarga akan dikasih 7 hektar
tanah, dan dikasih kredit biaya hidup yang cukup untuk setiap
keluarga. Mereka diminta tanam cokelat, sawit, dan lain-lain."

Lima tahun kemudian, rakyat yang pindah ke kawasan timur tiba-tiba
menjadi kaya. Dibayar habis kreditnya. Dua tahun kemudian, rakyat
Malaysia yang kaya itu menjadi malas. Mereka lalu memanggil dua juta
rakyat Indonesia sebagai tenaga kerja untuk menggarap kebun-kebun
mereka.

Saya katakan kepada capres itu. Malaysia saja bisa, mosok kita nggak
bisa? Tanah Indonesia kan jauh lebih luas dari Malaysia. Kita kasih
tanah kepada rakyat kita yang mau pindah ke luar pulau Jawa. Daripada
dikasih kepada konglomerat 3-4 juta hektar, kita kasih sama rakyat
kita. Tetapi jangan ikuti program transmigrasi. Program transmigrasi
itu sejak zaman Belanda hasilnya apa?

Tanah di luar pulau Jawa itu tidak sesubur di Jawa. Tanah yang
diberikan kepada transmigran hanya 2 hektar. Generasi pertama
betul-betul kerja keras, baru setelah satu generasi tanah itu subur.
Tapi setelah itu anak-anaknya yang rata-rata tiga sudah besar. Lalu
tanah yang dua hektar itu dibagi tiga. Hasilnya 0,7 hektar per orang.
Lha, sama lagi seperti petani miskin di pulau Jawa.

Jadi kita nggak boleh mengikuti model transmigrasi seperti itu. Kita
harus ngasih per keluarga itu 10 hektar. Agar tidak menimbulkan
kecemburuan sosial, penduduk daerah asli dikasih 20 hektar per
keluarga. Itu lebih dari cukup. Kita kasih kredit biaya hidup, satu
tahun satu keluarga satu juta, eh…satu bulan satu juta. Setahun hanya
Rp 12 juta. Lima tahun, sampai panen Rp 60 juta. Plus bibit dan
lain-lain, satu keluarga paling banter selama 5 tahun menghabiskan
dana Rp 100 juta.

Kalau mereka nanti panen cokelat, sawit atau lainnya dari kebun yang
luasnya 10 hektar, mereka akan menjadi kaya dadakan. Bisa naik
pesawat, bisa jadi turis ke seluruh dunia, bisa kirim anak-anaknya ke
sekolah yang bagus.

Saya ingat, saya ingat betul, capres mengeluarkan dua pulpen. Satu
pulpen merah, satu pulpen hijau. "Mas Rizal, ini (ide) bagus sekali,
saya akan lakukan," katanya sambil menggarisbawahi paper saya itu.
Tapi hingga tiga tahun kemudian, nggak pernah dengar ceritanya itu.

Satu lagi. Pada waktu itu kami katakan, kami kasih unjuk (kepada
capres itu), anak-anak Indonesia pada usia sekolah banyak yang kurang
gizi, terutama kurang protein. Kalau kita biarkan ini, akan ada
generasi bodoh, brain-damage satu generasi. Kita mesti ikuti
pengalaman pemerintah Jepang sehabis Perang Dunia II. Pada waktu itu
Jepang kalah perang, pemerintahnya miskin sekali. Tetapi mereka tidak
ingin generasi mudanya bodoh. Karena mereka masih ingin mengejar
ketinggalannya dari Amerika, mengalahkan Amerika, paling tidak di
bidang ekonomi.

Pemerintah Jepang memaksakan setiap anak dikasih satu butir telur
setiap hari. Saya katakan kepada calon presiden tersebut, "Mas, kita
kasih anak di bawah 12 tahun di sekolah-sekolah satu telur saban hari.
Nanti kami cari susu, ya gimana cara dapat susu dua kali seminggu. Ini
bujetnya untuk 5 tahun…!"

Bujetnya, anggarannya untuk itu semua, nggak ada artinya. Ini juga
bagus dampak ekonominya, karena untuk itu kita perlu jutaan telur.
Pasti peternakan (ayam) rakyat akan hidup. Saya katakan juga, kalau
nanti program-program yang lain gagal, paling tidak orang akan ingat
sama telurnya Mas…" Kembali Capres itu mengeluarkan bolpen merah dan
bolpen hitam. "Ini bagus sekali," katanya.

Sekarang, 3 tahun kemudian, tidak ada cerita tentang telur dan susu
itu. Anak-anak kita yang kena gizi buruk banyak sekali. Terus
bertambah.

Dan, ini belum pernah terjadi dalam sejarah Indonesia modern, orang
Indonesia mulai banyak yang bunuh diri. Kok berani-beraninya? Wong
tahu kalau mati bunuh diri, menurut ajaran agama mana pun, itu pasti
masuk neraka. Jadi saking sulitnya ekonomi di Indonesia, saking tidak
adanya harapan, sementara pemimpinnya nyanyi-nyanyi di televisi, ya
lebih bagus bunuh diri saja.

Nah, kita berdosa kalau kita tidak lakukan sesuatu. Kita berdosa kalau
suasana yang sebetulnya bisa kita ubah ini, tidak kita ubah. Ada
jalannya, yang kalau tidak kita lakukan, kita berdosa…!

Saudara-saudara, dengan pikiran dan semangat seperti itu, kami ingin
mengajak saudara-saudara untuk merapatkan barisan, untuk mendorong
proses perubahan itu. Karena Indonesia memerlukan perubahan. Dan model
pemimpin saat ini hanya pemimpin tawar menawar, pemimpin
transaksional, yang tidak akan membawa Indonesia ke tingkatan yang
lebih maju.

Kita perlu pemimpin-pemimpin yang transformatif. Nabi Besar Muhammad
saw dan nabi-nabi lainnya adalah contoh pemimpin transformatif. Bangsa
Arab yang jahiliyah, yang tidak beradab, bisa diubah menjadi bangsa
yang beradab, menjadi bangsa yang madaninya maju.

Di kelas manusia biasa, di negara tetangga kita, ada juga pemimpin
transformatif, seperti Lee Kuan Yew, yang membuat Singapura dari
negara kecil yang tidak ada apa-apanya, menjadi negara berpengaruh di
Asia. Mahatir Muhammad di Malaysia, yang rakyatnya 40 tahun lalu sama
gembelnya dengan kita, dia ubah, dia bangkitkan, dia beri
kesejahteraan kepada mayoritas masyarakat Malaysia.

Deng Xiaoping dan Zu Rong-ji di China, nggak ngurusin 200 juta orang,
mereka mengurusi 1,3 miliar orang. Dan mereka bisa kasih makan semua
rakyatnya. Kita yang penduduknya 230 juta orang, digudangnya Bulog
nggak cukup beras. Cuma ada satu juta ton lebihlah. Yah, karena banyak
tikusnya. (Hadirin tertawa!)

Saudara-saudara, Indonesia perlu pemimpin transformatif. Karena itu,
tahun 2009 nanti, jangan pilih mobil-mobil bekas, karena seluruh Asia
Timur dipimpin oleh pemimpin yang pakai mobil balap, bukan mobil
bekas.

Sebetulnya Indonesia sudah dalam proses perubahan. Ada lima kejadian
pilkada (pemilihan kepala daerah), di mana mobil bekas, tidak dipilih.
Satu, yang bersih dan memiliki integritas, tiba-tiba terpilih,
tokoh-tokoh besar kalah semua. Kedua, di Sulawesi Selatan, tokoh yang
tidak dikenal, yang tidak didukung partai besar, tiba-tiba malah jadi
gubernur.

Di Jawa Barat, mobil-mobil bekas juga kalah, digantikan oleh anak-anak
muda. Dan di Sumatera Utara, nah, di Sumatera Utara agak aneh.
Pemiilihan gubernur dimenangkan oleh kombinasi tua dan muda, tapi
dua-duanya bukan tokoh terkenal, bukan mobil bekas.

Saudara-saudara, rakyat dan bangsa kita sudah dalam proses perubahan.
Pemuda, aktivis pergerakan dan mahasiswa justru harus di garda paling
depan, bukannya malah ngikut. Rakyat melakukan perubahan, pemuda
mahasiswa malah duduk di belakang. Pemuda, mahasiswa dan aktivis
pergerakan harus berada di garda paling depan dari perubahan. Terima
kasih.

Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

Jakarta, 24 April 2008
Salam Perubahan!
http://www.rakyatmerdeka.co.id/indexframe.php?url=situsberita/index.php?pilih=lihat_edisi_website&id=70947


------------------------------------

"We cannot all do great things.But we can do small things 
with great love." - Mother Teresa
---------------------------------------------------------

BinusNet founded on Dec 28, 1998 Owner : Johan Setiawan
Moderator BinusNet : Suryadi Liawatimena & Surya Iskandar

Stop or Unsubscribe: send blank email to [email protected]
Questions or Suggestions, send e-mail to [email protected]

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/binusnet/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/binusnet/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke