Hey, kok dilempar ke gue, hehehe ... gue gak punya banyak info ... Scholarship untuk non US rasanya setengah mati untuk dapetinnya, mesti bener-bener berprestasi tingkat tinggi kali.
Kalo dah nyampe di US dulu, mungkin bisa lebih gampang. Untuk yg lokal, tiap kampus bisa beda-beda, tapi kampus ini cuman jadi proxy doang, untuk menyalurkan ke institusi ke mana kita harus apply. Tentunya dalam tiap kampus pasti ada advisor yang bisa kasih suggestion nulis apa dalam aplikasinya (kalo perlu). Yang paling umum (dan mungkin paling gampang) adalah FAFSA, terutama kalo penghasilan hanya rata-rata (dan di bawah). Menurut gue, ya coba tanya ke kampus tentang ini, gue yakin ada lebih dari satu badan yg bisa kasih scholarship grant, pelajari syarat-syaratnya, jangan kecil hati duluan dengan background non-US citizen (kecuali kalo bener-bener itu jadi syarat mutlak). Kalo punya referensi yg baik (entah dari advisor, atau dean) akan membantu. Yang jelas, there's nothing to lose, jadi gak ada salahnya untuk apply. Yang tingkat graduate (buat research) biasanya lebih setengah mati untuk dapetin, ... mesti bikin essay (not a short one) dan dalam essay nya harus menjelaskan background dan tujuan research se-koheren mungkin. Ada review panels yg pretty strict, dan setelah lolos review, masih diliat background education (pas high-school biasanya, not sure why). Tapi, kalo gue liat trend-nya, yang sering dapet grant ginian adalah research bidang medical. Fear of the LORD is the beginning of knowledge (Proverbs 1:7) --- On Mon, 10/5/09, Eko Prasetya <[email protected]> wrote: From: Eko Prasetya <[email protected]> Subject: Re: [BinusNet] Study ke luar To: [email protected] Date: Monday, October 5, 2009, 10:40 AM PR (atau local residency) biasanya mendapat perlakuan khusus, dan biayanya lebih murah. Ini bisa didapat kalau pelajar sudah tinggal sekitar 1 tahun di situ. Mungkin 1 tahun pertama mahal, tapi tahun berikutnya lebih murah. Dan kalau memang niat, biasanya bisa mendapat scholarship. Scholarship ini lebih mudah dapatnya kalau sudah jadi student di sana. Apply scholarship sebelum menjadi student bisa, tapi biasanya harus exceptional, karena tingkat kompetisinya juga jauh lebih tinggi. Hal ini berlaku di banyak kampus di US. Mungkin Lego bisa menjelaskan lebih lanjut tentang ini. Good luck. KOkon. 2009/10/5 Masabi Masabi <masab...@yahoo. com> > > > Waduh mahal sekali biaya studi ke luar negeri.. 66 jt (+- 7000 US$).. > Belum lagi ada biaya praktikum, beli buku, seminar, dsbnya.. > > Dengan asumsi itu sudah lulus S1 dari Binus.. > Kalo Visa study belum tentu boleh kerja full time.. > Dan apply Study sekarnag, tahun ajaran mendatang start study.. > Musti lulus TOEFL ato IELTS dengan nilai minimal.. dstnya.. dan sambil > nunggu diapprove visa studynya pasti disuruh upgrade TOEFL ato IELTS.. atau > any languages.. > > Biasanya kalo kuliah di luar dengan status international student seperti > itu emang biayanya mahal.. > > Tapi kalo statusnya Green Card biasanya biaya kuliah jauh lebih murah.. dan > bisa sambil kerja juga.. Mungkin dengan biaya yang sama udah bisa apply > Green Card plus biaya hidup selama 6 bulan.. Dan dalam waktu 6 bulan bisa > cari kerja (dan kuliah lagi kalo mau).. :D > > Kira kira begitu ngak ? Gimana perbandingan biayanya dengan Binusian di > luar negeri yang status Green Card ato Permanent Redidence ato Citizen (di > SG ato di Amrik) dibanding dengan kuliah status international student ? > [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]
