gak ngerti bro.. maksudnya apa ya? Kapolri semalam sudah membeberkan hasil test dna dan detail from some of laptop data.. bukankah polisi memang memiliki otoritas untuk menindak pelaku kejahatan, namun memang perlu pembuktian dlsbnya.. soal pelaku 'lebai', meskipun banyak, bisa disebut kan oknum bro..
apalagi dalam hal ini, pelaku yang ditembak mati adalah teroris.. yang notebene mengancam banyak nyawa (dan telah menghilangkan nyawa orang).. jadi gue terus terang bingung.. kok, ada sebagian orang yang mengatasnamakan hak azazi manusia diatas penderitaan banyak orang lain? Polisi dilatih untuk "bisa" membunuh (apagunanya kalau gitu latihan menembak?), namun, dalam kondisi yang diijinkan.. salam ferry Nugroho Laison wrote: > Maaf ganggu lagi...mumpung bisa online sampe jam 11 he he he > Pelampiasan browsing setelah beberapa bulan dinas di daerah. > > Kebayang nggak kalo lagi apes....salah target, atau ada yg iseng/dengki kpd > seseorang....terus suddenly orang tsb di 'Densus 88' kan?! > > Papa Mama ane pernah cerita pengalaman/fenomena terlalu 'lebai' dlm bertindak > yg serupa...terutama pd era paska G30S/PKI , juga era Petrus (Penembak > Misterius). > Sedang Koko ane cerita pengalamannya sewaktu era demonstrasi th 1996-1998 > an...mahasiswa yg aktif dlm organisasi dan demonstrasi juga mendapatkan > perlakuan serupa. > > Best Regards and Wassalam, > > > > > Nugon > > > Kebanyakan sumber permasalahan adalah cara berkomunikasi!!! > > > > http://nugon19.blogs.friendster.com/my_blog/ > > http://nugon19.multiply.com/journal > > > > > --- In [email protected], Habe Arifin <habeari...@...> wrote: > > FKPI SESALKAN CARA POLRI TANGANI TERORISME > Jakarta, 12/10 (ANTARA) - Forum Kepemimpinan Pemuda Indonesia > (FKPI) menyesalkan cara Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) > dalam menangani terorisme yang berujung pada tewasnya para pimpinan atau > anggota jaringan teroris yang mereka buru. > Juru Bicara FKPI Haris Rusly Moti kepada wartawan di kantor > Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Jakarta, Senin, > mengatakan, tindakan yang dilakukan polisi saat penyergapan anggota > jaringan teroris di sejumlah lokasi belakangan ini justru melampaui > kewenangan dan fungsinya selaku penegak hukum. > "Polri dilatih tidak untuk membunuh, aparat Polri dilatih dan > ditugaskan UU untuk melumpuhkan tersangka," katanya. > Ditegaskannya, FKPI bukan tidak setuju dengan pemberantasan > terorisme, namun mereka menilai cara yang ditempuh polisi kurang tepat, > bahkan bukan tidak mungkin justru mengarah pada pelanggaran HAM. > Oleh karena itu, FKPI meminta Komnas HAM membentuk tim pencari > fakta dan uji forensik independen untuk menyelidiki kemungkinan > terjadinya pelanggaran HAM dalam sejumlah aksi penyergapan yang > dilakukan polisi, khususnya Detasemen Khusus (Densus) 88. > Apalagi, menurut FKPI, tindakan polisi tersebut lebih didasarkan > pada dokumen intelijen, bukan pada fakta yuridis, sehingga dikhawatirkan > kemungkinan terjadinya kesalahan. > "Yang kita takutkan yang ditangkap bukan teroris," kata Haris > saat delegasi FKPI diterima Wakil Ketua Komnas HAM Ridha Saleh. > Komnas HAM sendiri sebelumnya telah menyatakan terus melakukan > monitoring terhadap upaya pemberantasan terorisme agar tidak justru > menimbulkan persoalan baru.
