Selamat siang rekan2 sekalian, Saya kira setiap orang punya pandangan dan pengalaman hidup masing2 baik yg menyenangkan ataupun sebaliknya.
Dinamika silang pendapat seperti ini sangat diperlukan sehingga kita mendapat kesempatan untuk koreksi informasi dan informasi menjadi tidak hanya satu arah dan satu sumber. Selanjutnyal kembali ke diri kita sendiri, mana informasi yang sesuai dgn hati kita itu yang kita percaya. Selanjutnya coba terapkan dan tempuh langkah yang nyata, sehingga di sisi lain kita dikritik sebagai tukang protes tanpa solusi. Salam sejahtera, Bhe Tk'94 Sent from my BlackBerry® -----Original Message----- From: "nugon19" <[email protected]> Date: Wed, 14 Oct 2009 02:55:02 To: <[email protected]> Subject: [BinusNet] Re: Fwd: polisi tak dilatih untuk membunuh Pak Nawan, terima kasih banyak atas sharingnya. Izinkan saya memanggil Bapak, karena saya anggap besar kemungkinan Bapak lebih senior dan mungkin lebih tua dari saya...walau mungkin kita belum pernah ketemu. Apa yg Bapak sampaikan...Ini benar-benar memperluas wawasan saya, dan menambah masukan dari sisi lain yg beberapa belum saya ketahui. Dan Setiap orang bisa berbagi pengalaman beserta nuansa emosi yg ia rasakan ketika ia mendapatkan pengalaman tsb. Ini akan memperkaya wawasan kita. Saya memahami dan memaklumi Pak Nawan, karena sebagian yg Pak Nawan katakan sudah pernah saya dengar dari keluarga, saudara, karib-kerabat, dan teman dekat. Di sisi lain saya juga mengajak Pak Nawan, dan juga rekan-rekan yg lain utk coba melihat dari sudut pandang yg lain, juga merenung apa yg dirasakan oleh orang-orang yg berada di sisi lain. Sebagian sudah saya posting, dan rasanya Pak Nawan serta rekan-rekan yg lain. Dan mungkin juga memperluas wawasan Pak Nawan, terlebih saya hidup di lingkungan yg cukup heterogen/majemuk, dan berpindah-pindah, lintas agama, suku/ras, dan budaya. Saya pribadi tdk menafikan/meniadakan apa yg Bapak alami atau amati. Misalnya ttg kekejaman Komunis...Papa Mama saya pun menceritakannya dan sempat kena dampaknya. Hanya orang-orang yg bermasalah pd hati nuraninya yg menihilkan kekejaman Komunis. Tapi sekali lagi...ada orang-orang yg sebenarnya tdk terlibat sama sekali, terkena dampaknya, dan dianggap punya kaitan/afiliasi, lalu "ditindak". Ini pun Papa Mama saya sharing. Bahkan hampir saja keluarga Mama saya ikut dilibas. Untungnya keluarga Mama saya yg mayoritas etnis Tionghoa ini cukup membaur dan mempunyai hub sosial yg baik dgn masyarakat di sekitarnya. Pd saat huru-hara tsb, keluarga Mama saya dilindungi oleh masyarakat sekitarnya. Bahkan gerombolan yg mau coba "meng clean-up" mereka dihalau dan dialihkan ke tempat lain. Walau selamat, pengalaman traumatis ini membekas nyaris seumur hidupnya. Tentang Petrus, saya mendengar dari penuturan orang-orang yg bertato dan hidup di masa itu, juga penuturan guru ngaji saya, seorang Haba-ib di bilangan Proyek, Bekasi. Betul tindakan kriminal era Petrus luar biasa dahsyat....tetapi apakah harus ditindak serepresif tsb dan apakah tdk ada alternatif solusi yg lain? Bila mendengar penuturan orang-orang yg bertato pd era Petrus...baik lantaran cuma latah (sebenarnya ini juga salah), ataupun memang adat budaya nya membiasakan Tato....mereka cemas dan khawatir sekali, sampai ada yg menyetrika Tatonya, lantaran takut salah sasaran. Coba bayangkan orang yg tak bersalah lalu jadi target Petrus...bagaimana perasaaan famili mereka. Pdhal negara lain juga mengalami apa yg Indonesia alami pd era Petrus...tapi ada juga yg cukup smart, mengambil alternatif lain. Misalnya Amerika Serikat...walau saya tdk suka pd pemerintah Amerika Serikat terlebih politik luar negerinya, apalagi mereka Pro-Zionis...mereka cukup smart dlm mengatasi gelombang kriminalitas. Walau masih tinggi statistik kejahatan di sana...tapi kalau tdk pakai cara smart...pasti lebih tinggi lagi. Saya tdk bisa sharing banyak hal utk cara smart ini, karena keterbatasan yg ada. Tapi kalau Pak Nawan dan rekan-rekan tertarik, saya bisa sebutkan salah satu contohnya. Coba cari buku terjemahan yg berjudul Tipping Point...di sana disebutkan analisa menarik cara New York mengurangi kriminalitasnya. Dan New York pd era Petrus pun benar-benar menyeramkan. Betul ketegasan dan kedisiplinan menertibkan. Tapi kalau hanya condong kepada cara kekerasan....cenderung melahirkan kekerasan baru. Kombinasi ketegasan, kedisiplinan, kekerasan, kelemah-lembutan dan cara yg simpatik lah yg bisa menertibkan masyarakat yg majemuk. Utk rekan-rekan yg Muslim pasti lebih mudah mengerti bila kita berkaca pd era Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya memimpin. Kombinasi tersebut sangat dipraktekkan. Utk rekan-rekan yg suka membaca/mempelajari sejarah Tiongkok Klasik...telah terekam ada suatu era di mana filsafat Kong Hu Cu (Kong Fu tze) banyak diterapkan di suatu kota, di suatu negara...kriminalitas menurun. Padahal saat itu adalah saat perpecahan dan huru-hara, era negara-negara kecil, era musim semi dan musim gugur (maaf kalau tdk salah tulis). Lalu ttg era demo 1996-1998...saya hanyalah segelintir saksinya, terutama karena Koko saya adalah aktifis di UIN (dulu IAIN) di masa itu. Betul diakuinya ada yg politis, ada yg ikut-ikutan. Saya rasa itu Sunnatullah, selalu ada pahlawan kesiangan. Tapi bahwa ada yg tulus bergerak menentang rezim Soeharto...walau caranya tdk kita sepakati. Saya pun termasuk orang yg tdk sreg dgn cara demo...baik dulu era Soeharto, terlebih sekarang. Saya adalah saksi hidup melihat bagaimana para aktifis tersebut di lingkungan Koko saya kuliah dan kos....hidup menyuarakan protesnya atas tindakan represif rezim Soeharto...dan saya bisa katakan cukup signifikan mereka yg demo dgn tulus. Dan mereka yg tulus ini juga banyak yg kecewa setelah lengsernya Soeharto...kecewa dgn para pahlawan kesiangan atau opportunis, atau pun yg punya misi 'politis'. Bahkan mereka kadang memberi laqob (gelar) kpd gol tsb dgn sebutan (maaf) "Pelacur Politik". Dan Koko saya sering curhat sama saya, betapa tertekannya ia waktu itu, seperti ada temannya yg ketika demo, dihantam kepalanya sampai gegar otak, lalu koma...dan selanjutnya "pass-away". Atau ada yg diculik dan setelah kembali...jadi kurang waras. Juga ada yg hanya kuliah atau kebetulan berada di lokasi tsb...ikut kena dampaknya. Ini yg teman-teman jurnalis, sebagiannya coba mengingatkan...tentunya dgn bhs Jurnalis...bahwa bukan niatnya yg diprotes...tapi caranya tolong diperbaiki, dan ada pengawasan supaya jelas dan menenangkan masyarakat. Mungkin cara penyampaiannya salah...tapi kalau ada hikmah atau masukan yg positif dan memperbaiki serta menaikkan kredibilitas...kenapa coba direnungkan dan coba diimplementasikan? Tentunya dgn cara yg sesuai dgn kebutuhan kita. Itu saja sharing dari saya. Mohon maaf bila mengganggu atau kurang berkesan. Terima kasih banyak atas perhatian dan tanggapannya. Best Regards and Wassalam, Nugon --- In [email protected], "J.L.Nawan" <jlna...@...> wrote: > > saudara Nugroho Laison, > [1] - saya generasi kelahiran tahun 1948, jadi waktu pecah G30S saya sudah duduk dibangku SMA, aktif di KAPPI dan kemudian sesudah menjadi mahasiswa aktif di KAMI > [2] - era 1967-68 yang dikejar oleh pihak yang berwenang (saat itu) adalah semua orang yang pro partai komunis, berikut ormas dibawahnya dari berbagai kalangan (termasuk kalangan etnis Tionghoa yang mempunyai organisasi terkait tertentu) - belum 'sebanding' dengan apa yang dilakukan para anggauta partai komunis tersebut ketika itu dan ormas nya terhadap warganegara yang ada (coba tanyakan kepada orang tua anda, apakah mereka tahu apa yang terjadi di kawasan Jawa Tengah sekitar Solo, Madiun di akhir 1965) > [3] - istilah 'Petrus' adalah ketika di negara ini terjadi kenaikan tingkat kriminalitas yang mengarah pada pembunuhan kejam, maka pihak berwenang (POLRI waktu itu masih bernaung di bawah ABRI) terpaksa mengambil tindakan tegas terhadap semua pelaku kriminal, tetapi tidak ada bukti tentang adanya 'Petrus' tersebut, meskipun 'korban' berjatuhan di kalangan pelaku kriminal (bahkan ada istilah "dikarungin' karena banyak jenazah kriminal yang ditemukan di dalam karung) > [4] - demonstrasi 1996-98 hanyalah demonstrasi politis terhadap kekuasaan yang saat itu memerintah, berbeda dengan ketika kasus MALARI terjadi, dan berbeda dengan demonstrasi 1966-68 - tidak semua demonstrasi mahasiswa berbobot sama - sebagian bahkan cuma ikut2an saja - sangat berbeda dengan era 1966-68 > [5] - Densus (Detasemen Khusus) 88 adalah bagian dari POLRI untuk penanganan kasus-kasus terorisme (khusus), hampir semua negara yang terkena dampak perluasan terorisme mempunyai unit khusus seperti ini, cuma namanya yang berlainan > [6] - pekerjaan Densus 88 kemarin ini sudah memenuhi protokol/SOP yang ditentukan setahu saya - dan sepanjang tersangka tidak melakukan penyerangan terlebih dahulu, maka pihak berwenang juga tidak akan melakukan perbuatan yang bisa menghilangkan nyawa, karena dari sudut informasi, saya rasa akan lebih menguntungkan sebetulnya kalau tersangka bisa ditangkap hidup2 untuk dikorek berbagai keterangan lebih lanjut - tetapi kalau tersangka melempar bom/melakukan serangan terlebih dahulu, tidaklah mengherankan kalau anggauta Densus 88 terpaksa juga mengambil keputusan yang tegas > [7] - prasangka buruk yang sering ada, kebanyakan selalu bersandar hanya kepada pemanfaatan istilah 'pelanggaran HAM' - apakah anda benar2 sudah faham apa yang disebut Hak Azasi Manusia, sebagaimana yang sudah ditetapkan secara internasional oleh PBB maupun badan2 lainnya (Declaration of Human Rights)? > semoga informasi ini melengkapi wawasan anda > terima kasih dan wassalam > j.l.nawan > (dulu juga kerja di UBiNus) > > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ "We cannot all do great things.But we can do small things with great love." - Mother Teresa --------------------------------------------------------- BinusNet founded on Dec 28, 1998 Owner : Johan Setiawan Moderator BinusNet : Suryadi Liawatimena & Surya Iskandar Stop or Unsubscribe: send blank email to [email protected] Questions or Suggestions, send e-mail to [email protected] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/binusnet/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/binusnet/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[email protected] mailto:[email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
